El Nino Terkuat dalam Sejarah Mengancam Dunia: Indonesia Terdampak Langsung
Baca dalam 60 detik
- Fenomena El Nino tahun ini diprediksi memecahkan rekor, dengan indeks suhu Pasifik mencapai 2,3 derajat Celsius di atas normal pada Agustus.
- Dampaknya sudah terasa di Indonesia berupa kebakaran hutan, sementara negara-negara Pasifik lainnya menghadapi siklon tropis ganda yang tidak lazim.
- Para ahli mendesak penguatan riset dan kesiapsiagaan global, karena El Nino ini berpotensi memperparah krisis pangan dan iklim hingga 2027.

Dunia sedang bersiap menghadapi fenomena El Nino yang diprediksi menjadi yang terkuat dalam catatan sejarah, dengan peringatan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa planet ini kini berada di "zona bahaya" cuaca ekstrem. Data terbaru menunjukkan indeks suhu di Pasifik tropis telah melampaui ambang normal, mengindikasikan bahwa peristiwa ini tidak hanya akan memecahkan rekor, tetapi juga berpotensi memicu kekacauan iklim global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
El Nino, yang secara alami terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, memang kerap memicu kekeringan di Australia dan Asia Tenggara, serta banjir di Amerika Selatan. Namun, yang membedakan kali ini adalah kecepatan perkembangannya yang luar biasa. Para ilmuwan mencatat, biasanya El Nino mencapai puncaknya antara November dan Januari, tetapi tahun ini suhu sudah sangat tinggi di awal musim, dan diprediksi akan terus menguat hingga musim panas tiba.
Menurut data dari Biro Meteorologi Australia, indeks relatif El Nino pada Agustus lalu mencapai 2,3 derajat Celsius di atas rata-rata, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun El Nino sebelumnya. Indeks relatif ini penting karena memperhitungkan pemanasan latar belakang akibat perubahan iklim, sehingga memberikan gambaran yang lebih akurat tentang intensitas El Nino di tengah krisis iklim. Dengan kondisi ini, para ahli memperkirakan suhu global akan memecahkan rekor pada tahun 2027, dan dampaknya akan dirasakan secara tidak merata di berbagai belahan dunia.
Bagi Indonesia, dampak El Nino sudah terasa nyata. Kebakaran hutan dan lahan yang melanda beberapa wilayah dalam beberapa pekan terakhir disebut-sebut sebagai salah satu konsekuensi langsung dari fenomena ini. Para ilmuwan meyakini bahwa El Nino memperparah kekeringan, membuat lahan gambut dan hutan lebih mudah terbakar. Selain itu, El Nino juga mengubah pola pembentukan siklon tropis. Data satelit menunjukkan adanya empat siklon tropis aktif secara bersamaan di Pasifik, membentang dari Jepang hingga Hawaii, sebuah fenomena yang sangat tidak biasa. Normalnya, hanya satu atau dua siklon yang terbentuk dalam periode yang sama.
Di Australia, meskipun posisinya sedikit lebih jauh dari pusat El Nino, dampaknya mulai terasa menjelang musim semi. Suhu di beberapa bagian utara Australia telah mencapai 37 derajat Celsius, jauh di atas normal, dan kondisi cuaca semakin kering. Wilayah timur dan tengah Australia diperkirakan akan mengalami musim semi dan panas yang tidak biasa keringnya, meningkatkan risiko kebakaran hutan. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua El Nino kuat berujung pada bencana. Sejarah mencatat, pada El Nino 1997-1998 dan 2015-2016, beberapa bagian Australia justru mengalami hujan deras, sementara wilayah lain tetap kering.
Ancaman terbesar dari El Nino kali ini adalah kemampuannya untuk memperburuk dampak perubahan iklim yang sudah ada. Organisasi pangan dunia memperkirakan hampir 50 juta orang di komunitas rentan akan terdorong ke jurang kelaparan akut. Petani di berbagai negara menghadapi cuaca yang semakin tidak menentu, mulai dari banjir yang merusak tanaman di Amerika Selatan hingga kekeringan parah di sebagian Afrika. Bagi Indonesia, selain kebakaran hutan, sektor pertanian juga menjadi perhatian utama karena kekeringan dapat mengganggu produksi pangan dan meningkatkan impor.
Para ahli menekankan bahwa untuk melindungi masyarakat dan ekosistem, pemerintah di seluruh dunia harus berinvestasi dalam penelitian yang lebih kuat. Kapasitas pemodelan iklim perlu ditingkatkan untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah yang paling rentan terkena dampak El Nino yang menguat. Di Indonesia, pemahaman tentang bagaimana perubahan iklim berinteraksi dengan El Nino masih terbatas, sehingga diperlukan langkah antisipasi yang lebih matang, termasuk sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan dan kebakaran. Pertanyaannya, apakah negara-negara berkembang seperti Indonesia sudah cukup siap menghadapi skenario terburuk dari fenomena alam yang diprediksi akan semakin sering terjadi ini?


