Kekeringan Lumpuhkan Jalur Sungai, TNI AU Kerahkan Hercules Angkut 12,5 Ton Beras ke Yahukimo
Baca dalam 60 detik
- TNI AU menerbangkan Hercules C-130J membawa 12,5 ton beras dari Timika ke Yahukimo, Papua Pegunungan, Jumat (17/1), sebagai respons atas kekeringan yang menurunkan debit sungai.
- Operasi ini merupakan jalur alternatif karena distribusi lewat perairan Timika-Dekai terhambat, menunjukkan peran vital angkutan udara dalam logistik kemanusiaan di daerah terpencil.
- KSAU Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono memerintahkan pengiriman langsung, dan TNI AU berkomitmen siaga untuk misi serupa selama jalur air belum pulih.

TNI AU mengerahkan pesawat angkut Hercules C-130J untuk mengirimkan 12,5 ton beras bagi warga Yahukimo, Papua Pegunungan, pada Jumat (17/1). Langkah ini diambil setelah kekeringan yang melanda wilayah tersebut menyebabkan debit sungai menurun drastis, sehingga jalur distribusi bantuan melalui perairan Timika-Dekai tidak dapat beroperasi optimal.
Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono merespons cepat laporan dari Pemerintah Kabupaten Yahukimo dengan memerintahkan pengiriman bantuan pangan ini. Pesawat lepas landas dari Bandara Mozes Kilangin Timika menuju Bandara Nop Goliat Yahukimo, membawa pasokan beras yang diharapkan mampu menopang kebutuhan warga di tengah kondisi darurat.
Komandan Lanud Yohanis Kapiyau, Kolonel Pnb Taufik Andriadi, yang memimpin operasi ini, menegaskan bahwa pengiriman lewat udara menjadi pilihan paling cepat dan aman untuk memastikan bantuan sampai ke tangan masyarakat. "Dukungan melalui jalur udara diharapkan membantu menjaga ketersediaan pangan di wilayah Papua Pegunungan, khususnya Yahukimo, selama jalur perairan belum kembali berfungsi optimal," ujarnya dalam siaran resmi.
Kekeringan yang melanda Papua Pegunungan bukan fenomena baru, tetapi dampaknya tahun ini terasa lebih parah. Penurunan debit sungai tidak hanya menghambat distribusi logistik, tetapi juga mengancam sumber air bersih dan irigasi bagi masyarakat yang sebagian besar bergantung pada pertanian. Kondisi ini menjadikan akses pangan sebagai prioritas utama, terutama di daerah terpencil seperti Yahukimo yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Operasi ini juga menyoroti pentingnya kesiapsiagaan logistik militer dalam situasi bencana. TNI AU, yang sebelumnya juga mengirim bantuan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) menggunakan Boeing 737, menunjukkan kapasitasnya untuk merespons berbagai keadaan darurat di seluruh Indonesia. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa berkelanjutan dukungan ini jika kekeringan berkepanjangan.
Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan kerentanan logistik di kawasan timur. Infrastruktur transportasi yang terbatas membuat masyarakat di Papua Pegunungan sangat bergantung pada bantuan eksternal saat bencana melanda. Pemerintah pusat dan daerah perlu memikirkan solusi jangka panjang, seperti pembangunan gudang penyangga pangan atau perbaikan jalur alternatif, agar tidak selalu bergantung pada operasi militer.
Ke depan, TNI AU menyatakan kesiapannya untuk kembali dikerahkan jika diperlukan. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan ketahanan pangan masyarakat Yahukimo tidak hanya bergantung pada respons darurat. Apakah akan ada langkah antisipatif dari pemerintah untuk menghadapi potensi kekeringan yang lebih sering terjadi akibat perubahan iklim? Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dijawab.


