Gasly Kehilangan Podium Monaco: McLaren Menang Banding, Hasil GP Dirombak
Baca dalam 60 detik
- Banding McLaren mengubah hasil GP Monaco, menyingkirkan Pierre Gasly dari posisi tiga besar.
- Kesalahan pengukuran pit lane oleh F1 memicu serangkaian penalti yang memengaruhi banyak pembalap.
- Keputusan ini berpotensi memicu evaluasi ulang prosedur penalti di ajang Formula 1.

Banding yang diajukan McLaren akhirnya membuahkan hasil. Tim asal Inggris itu berhasil memenangkan protes atas hasil Grand Prix Monaco, yang secara langsung mengubah susunan pembalap di posisi podium. Konsekuensinya, Pierre Gasly dari Alpine harus rela kehilangan tempat ketiga yang sempat ia raih setelah banding sebelumnya.
Kronologi bermula dari kekeliruan pengukuran panjang pit lane yang dilakukan oleh Formula 1. Akibat kesalahan ini, sistem penilaian kecepatan rata-rata mobil di area pit menjadi tidak akurat, sehingga banyak pembalap terkena penalti speeding yang seharusnya tidak perlu diberikan. Dampaknya terasa luas, tidak hanya bagi Gasly, tetapi juga pembalap lain seperti George Russell dari Mercedes yang gagal mencetak poin akibat penalti yang keliru.
Setelah melalui proses banding yang berlarut-larut, Alpine sempat berhasil mengembalikan posisi Gasly ke podium. Namun, keputusan tersebut kemudian digugat lagi oleh McLaren, yang merasa ada ketidakadilan dalam penerapan penalti. Hasil akhirnya, Gasly kembali turun ke posisi ketujuh, sementara Isack Hadjar dari Red Bull naik ke posisi ketiga dan Oscar Piastri dari McLaren menempati posisi keempat.
Keputusan ini menyoroti betapa rumitnya regulasi teknis dalam Formula 1, di mana kesalahan prosedur dapat mengubah hasil akhir sebuah balapan secara signifikan. Meski demikian, putusan banding ini belum sepenuhnya menyelesaikan masalah, karena masih ada pembalap lain yang terkena dampak penalti keliru, seperti Russell yang tidak mendapat kompensasi atas poin yang hilang.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat bahwa dunia balap tidak hanya tentang kecepatan di lintasan, tetapi juga kecermatan dalam pengukuran dan penegakan aturan. Dengan semakin ketatnya persaingan di papan atas, setiap detail teknis bisa menjadi penentu. Pertanyaannya, apakah pihak FIA akan segera memperbaiki sistem pengukuran pit lane untuk mencegah kejadian serupa di masa depan?



