Kabut Asap Kembali Selimuti Singapura: PSI Tembus 105, Waspada Dampak ke Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Indeks PSI 24 jam di Singapura melampaui ambang tidak sehat pada Jumat pagi, mencapai 105 di kawasan tengah.
- Kondisi ini dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan di Sumatra serta Kalimantan yang diperparah fenomena El Nino.
- Masyarakat Indonesia perlu mewaspadai potensi kabut asap lintas batas yang dapat mempengaruhi kualitas udara di wilayah terdekat.

Kualitas udara di Singapura kembali memburuk. Indeks Standar Polutan (PSI) 24 jam di kawasan tengah negara kota itu menembus angka 105 pada Jumat (4/9) pukul 10.00 waktu setempat, masuk kategori tidak sehat. Angka ini sedikit turun menjadi 104 pada pukul 11.00, namun tetap berada di atas ambang batas 100 yang menjadi patokan status 'tidak sehat'.
Ini merupakan kali pertama sejak Oktober 2023 Singapura mencatatkan PSI harian pada level membahayakan. Sebelumnya, pada pukul 07.00 pagi, PSI telah menyentuh 101, lalu naik bertahap hingga 104 pada pukul 09.00. Lonjakan ini terjadi setelah beberapa hari sebelumnya indeks masih berada di kisaran moderat, antara 70 hingga 90 pada dini hari.
Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) Singapura mengimbau warganya untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, serta penderita penyakit paru dan jantung diminta lebih waspada. Sekolah-sekolah pun telah diinstruksikan melakukan pemeriksaan visual terhadap kondisi siswa, sementara kantor-kantor menerima edaran khusus terkait kabut asap.
Fenomena ini bukan sekadar masalah Singapura. Sumber utama kabut asap adalah kebakaran hutan dan lahan di Sumatra Selatan dan Kalimantan, Indonesia, yang dipicu oleh kekeringan berkepanjangan akibat fenomena El Nino. Dinas Meteorologi Singapura telah memperingatkan sejak awal September bahwa kondisi kering akan berlanjut hingga pertengahan bulan, sehingga potensi titik api dan asap tebal masih tinggi.
Bagi Indonesia, kabut asap lintas batas ini menjadi pengingat akan urgensi pengendalian kebakaran lahan, terutama di wilayah-wilayah yang menjadi langganan api setiap musim kemarau. Dampaknya tidak hanya dirasakan negara tetangga, tetapi juga masyarakat domestik, seperti yang terjadi di Malaysia. Di Sarawak, Indeks Polutan Udara (API) di Serian mencapai 408 pada Rabu malam, kategori sangat berbahaya, dan memicu lonjakan kasus asma.
NEA Singapura menggunakan dua indikator untuk memantau kualitas udara: PSI 24 jam dan PM2.5 per jam. PSI 24 jam dihitung dari rata-rata konsentrasi enam polutan selama sehari penuh, dan digunakan untuk merencanakan aktivitas luar ruangan keesokan harinya. Sementara itu, PM2.5โpartikel halus berukuran 30 kali lebih kecil dari helai rambutโmenjadi acuan untuk keputusan jangka pendek, seperti apakah aman berlari pagi. Partikel ini dapat terhirup jauh ke dalam paru-paru dan masuk ke aliran darah, sehingga berisiko bagi kesehatan jangka panjang.
Menurut analis lingkungan, intensitas kabut asap yang melanda Singapura tahun ini mengingatkan pada kejadian serupa di masa lalu yang sering kali berujung pada ketegangan diplomatik regional. Meski demikian, kerja sama ASEAN dalam penanggulangan kebakaran hutan masih menjadi tantangan karena perbedaan prioritas dan kapasitas antarnegara.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah Indonesia mampu menekan titik api sebelum musim kemarau berakhir? Jika tidak, bukan hanya Singapura dan Malaysia yang akan terus menerima kiriman asap, tetapi juga warga Indonesia sendiri yang tinggal di dekat lokasi kebakaran. Langkah preventif seperti patroli terpadu, penegakan hukum, dan edukasi masyarakat menjadi kunci untuk mencegah terulangnya bencana asap tahunan ini.



