Tomori Kembali ke Pelukan AC Milan: Kegagalan Jual di Deadline Day Jadi Keuntungan?
Baca dalam 60 detik
- Fikayo Tomori akhirnya diterima kembali di skuad utama AC Milan setelah negosiasi transfer dengan Fulham gagal di hari terakhir bursa.
- Pemain bertahan asal Inggris itu sebelumnya diasingkan oleh pelatih Ruben Amorim, namun kini berpotensi tampil melawan Juventus akhir pekan ini.
- Kegagalan Milan menjual tiga pemain yang mereka buang bisa menjadi bumerang atau berkah tersembunyi bagi kedalaman skuad di sisa musim.

Kegagalan AC Milan melepas Fikayo Tomori di bursa transfer musim dingin justru berbuah rekonsiliasi. Bek asal Inggris itu dilaporkan akan kembali dipulihkan statusnya sebagai pemain skuad utama di bawah arahan pelatih Ruben Amorim, setelah negosiasi dengan Fulham buntu pada menit-menit akhir tenggat transfer, Selasa (3/2/2025) waktu setempat.
Tomori, yang sempat menjadi pilar pertahanan Milan sejak bergabung pada 2021, mengalami masa sulit setelah Amorim mengambil alih kursi pelatih. Ia dicoret dari rencana tim, bahkan tidak dilibatkan dalam laga pramusim, sebagai tekanan agar ia bersedia hengkang. Namun, sikapnya yang pantang menyerah membuat sejumlah klub peminat, termasuk Newcastle United, Aston Villa, dan Nottingham Forest, gagal memboyongnya. Tawaran dari Coventry City dan Fulham pun ditolak mentah-mentah oleh pemain berusia 27 tahun itu.
Keputusan untuk menyambut kembali Tomori diumumkan segera setelah bursa transfer ditutup. Menurut laporan Sky Sport Italia, Fabrizio Romano, Sportitalia, dan MilanNews, agen sang pemain telah diberi tahu langsung oleh manajemen klub. Tomori dijadwalkan kembali berlatih bersama rekan setimnya pada Kamis atau Jumat ini, dan berpeluang besar duduk di bangku cadangan saat Milan menjamu Juventus dalam lanjutan Serie A akhir pekan nanti.
Kemungkinan Tomori tampil bahkan semakin terbuka setelah Matteo Gabbia, bek andalan Milan, mengalami cedera pergelangan kaki yang kambuh dan harus absen dari latihan. Situasi ini membuat lini belakang Milan kian tipis, sehingga kehadiran Tomori menjadi opsi yang sangat berharga. Bagi Amorim, yang sebelumnya tampak ngotot menjual Tomori, kini ia harus berpikir ulang untuk memanfaatkan kualitas pemain yang sempat ia buang.
Kegagalan Milan menjual Tomori bukan satu-satunya. Klub juga gagal melepas Youssouf Fofana yang batal pindah ke Olympique Lyonnais karena tenggat waktu di Prancis, serta Warren Bondo yang belum menemukan pelabuhan baru. Alhasil, tiga pemain yang sempat diasingkan kini kembali ke skuad, sebuah situasi yang bisa menjadi berkah tersembunyi bagi kedalaman tim di tengah padatnya jadwal kompetisi.
Bagi pengamat sepak bola Italia, sikap Tomori ini menunjukkan bahwa pemain tidak selalu harus tunduk pada tekanan klub. Ia memilih bertahan dan memperjuangkan tempatnya, sebuah sikap yang jarang terlihat di era modern. Namun, pertanyaannya, apakah Amorim akan benar-benar memberinya kesempatan bermain atau hanya sekadar formalitas? Jika Tomori tampil dan menunjukkan performa impresif, Milan bisa mendapat keuntungan ganda: kedalaman skuad yang lebih baik dan potensi kenaikan nilai jual di bursa berikutnya.
Di sisi lain, kegagalan ini juga menjadi tamparan bagi manajemen Milan yang tampak terlalu agresif dalam upaya perombakan skuad. Keputusan untuk membuang pemain berkualitas seperti Tomori demi memenuhi target finansial bisa menjadi bumerang, terutama jika cedera mulai melanda para pemain bertahan lainnya. Dengan jadwal yang padat, termasuk ajang Liga Champions, kedalaman skuad menjadi kunci.
Ke depannya, publik akan menanti apakah Tomori akan benar-benar diberi menit bermain yang layak atau justru kembali menjadi penghangat bangku cadangan. Satu hal yang pasti, kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Eropa bahwa tekanan untuk menjual pemain tidak selalu berakhir sesuai rencana. Dan bagi Tomori, ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan bahwa ia masih layak diperhitungkan di San Siro.



