Dua Awak Kapal Induk AS Dipulangkan ke Kapal Usai Terlibat Perkelahian di Pattaya
Baca dalam 60 detik
- Dua pelaut USS Abraham Lincoln dikirim kembali ke kapal setelah insiden mabuk di Pattaya, Thailand.
- Kedatangan kapal induk AS memicu sorotan atas kondisi kapal yang memburuk dan penindakan terhadap pekerja seks di Pattaya.
- Insiden ini terjadi di tengah tekanan politik di AS terkait perpanjangan misi kapal dan perang di Timur Tengah.

Dua pelaut dari kapal induk Amerika Serikat yang sedang bersandar di Thailand dipulangkan paksa ke kapal mereka setelah terlibat perkelahian dalam keadaan mabuk di kawasan hiburan malam Pattaya, Kamis dini hari. Insiden ini menjadi sorotan di tengah kunjungan kapal USS Abraham Lincoln yang telah memicu berbagai kontroversi, mulai dari kondisi kehidupan awak kapal yang memburuk hingga dampaknya terhadap industri pariwisata lokal.
Kepala Polisi Kota Pattaya, Kolonel Anek Srathongyoo, membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan tentang keributan kecil di dekat Walking Street, pusat kehidupan malam yang terkenal di kota resor tersebut. Kedua pelaut yang tidak disebutkan identitasnya itu terlibat pertengkaran dan membuat kegaduhan, sehingga warga sekitar melapor ke polisi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Meski demikian, polisi menilai insiden ini sepele dan tidak melanggar hukum Thailand, sehingga kedua pelaut tidak dikenakan tuntutan.
Angkatan Laut AS kemudian mengambil tindakan dengan memulangkan kedua pelaut tersebut ke kapal. Peristiwa ini terjadi saat USS Abraham Lincoln tengah melakukan kunjungan pelabuhan setelah menjalani misi panjang lebih dari 280 hari di laut. Kunjungan kapal induk ini sebenarnya dinanti-nantikan oleh para pelaku usaha di Pattaya yang berharap mendapat berkah ekonomi di tengah musim sepi pengunjung. Namun, hingga saat ini, dampaknya terhadap bisnis lokal dinilai belum signifikan.
Seorang terapis pijat di Pattaya, Nattakamol Chartmontri, yang telah bekerja di kota itu selama bertahun-tahun, mengungkapkan bahwa suasana justru lebih tenang dibandingkan kunjungan militer sebelumnya. Banyak pelaut yang terlihat muda, berperilaku baik, dan patuh pada aturan. Namun, ia juga mencatat bahwa meski media sosial ramai membicarakan kedatangan para pelaut, kenyataannya mereka belum memberikan perubahan besar bagi pendapatan para pedagang setempat.
Di sisi lain, kunjungan kapal induk ini juga menyoroti kondisi memprihatinkan yang dialami awak kapal. Sejumlah laporan menyebutkan adanya kekurangan makanan, kerusakan pipa air, dan krisis kesehatan mental di atas kapal. Anggota parlemen dari Partai Demokrat AS telah mendesak dilakukannya investigasi terhadap kondisi tersebut. Presiden Donald Trump menepis kekhawatiran itu, yang justru memicu kritik terhadap perang yang berkepanjangan di Iran. Kapal Lincoln akhirnya digantikan oleh USS George Washington di Timur Tengah.
Bagi Indonesia, kunjungan kapal induk AS di kawasan Asia Tenggara selalu menjadi perhatian, mengingat dinamika geopolitik yang melibatkan kekuatan besar di Laut China Selatan dan Indo-Pasifik. Kehadiran kapal perang asing di perairan regional sering kali memicu perdebatan tentang kedaulatan dan keseimbangan kekuatan. Meski insiden di Pattaya tergolong kecil, hal ini mengingatkan bahwa kehadiran militer asing selalu membawa konsekuensi sosial dan ekonomi yang kompleks bagi negara tuan rumah.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia, menyikapi meningkatnya aktivitas militer AS di tengah rivalitas dengan China. Apakah kunjungan kapal induk semacam ini akan semakin sering terjadi, dan bagaimana dampaknya terhadap stabilitas regional? Pattaya mungkin hanya contoh kecil, tetapi dinamika yang menyertainya mencerminkan tantangan yang lebih luas bagi negara-negara Asia Tenggara dalam menjaga kepentingan nasional di tengah persaingan global.



