Cassandra Wilson Tutup Usia di 70 Tahun, Kenangan Vokal Jazz yang Tak Terlupakan
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi jazz legendaris Cassandra Wilson meninggal dunia di Jackson, Mississippi, pada usia 70 tahun, meninggalkan jejak yang mendalam di dunia musik.
- Dengan dua Grammy dan kolaborasi bersama Miles Davis, Wilson dikenal karena memadukan berbagai genre dan membawa nuansa Selatan dalam setiap penampilannya.
- Para musisi seperti Jon Batiste dan Jools Holland menyampaikan penghormatan, menandakan pengaruh besarnya yang akan terus dikenang.

Dunia musik jazz berduka. Cassandra Wilson, penyanyi yang dua kali meraih Grammy, telah berpulang pada usia 70 tahun. Kabar ini dikonfirmasi oleh manajer lamanya, Robert Torre, melalui pernyataan resmi yang disampaikan kepada stasiun radio WBGO. Wilson meninggal dunia di kediamannya di Jackson, Mississippi, pada Rabu (02/09/26), dikelilingi oleh keluarga dan kerabat dekatnya.
Kepergian Wilson meninggalkan kekosongan yang sulit diisi. Ia bukan sekadar penyanyi jazz biasa; ia adalah seorang inovator yang berani menjelajah lintas genre, dari folk hingga R&B, dan menggabungkannya dengan eksperimen musik yang berani. Kariernya yang membentang lebih dari tiga dekade telah menginspirasi banyak musisi muda, termasuk Jon Batiste yang pernah menjadi pendamping tur di awal kariernya.
Lahir dan besar di Jackson, Mississippi, Wilson membawa nuansa khas Selatan dalam setiap lagunya. Suaranya yang dalam dan kaya, dengan frasa yang khas, membuatnya mudah dikenali. Ia tidak pernah melupakan akar budayanya, bahkan ketika ia bereksperimen dengan berbagai gaya musik. Hal ini diakui oleh Batiste dalam penghormatannya di media sosial, yang menyebut bahwa Wilson "terdengar seperti Selatan" dan warisan Mississippi-nya selalu hadir dalam setiap karya.
Karier Wilson dimulai pada era 1980-an di New York, di mana ia menjadi bagian dari gerakan M-Base bersama pemain saksofon Steve Coleman. Ia juga pernah berkolaborasi dengan grup New Air. Album debut solonya, Point of View (1986), menjadi langkah awal yang menjanjikan. Namun, album New Moon Daughter (1995) yang melambungkan namanya, berhasil meraih Grammy pertamanya untuk Penampilan Vokal Jazz Terbaik. Grammy keduanya datang pada 2009 melalui album Loverly.
Selain itu, Wilson juga dikenal karena kemampuannya membawakan ulang lagu-lagu dari berbagai musisi seperti Joni Mitchell, Robert Johnson, The Monkees, dan Hank Williams. Ia juga pernah berkolaborasi dengan Luther Vandross pada album I Know (1998) dan membuka konser untuk legenda jazz Miles Davis. Pengalaman-pengalaman ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh dan pergaulannya di dunia musik.
Penghormatan terus mengalir dari berbagai penjuru dunia musik. Jon Batiste, yang pernah belajar banyak dari Wilson, menulis di Facebook bahwa ia sangat sedih atas kepergiannya. Batiste mengenang pengalaman pertamanya tampil bersama Wilson tanpa latihan, yang ia anggap sebagai "audisi" yang kemudian membawanya tur keliling dunia. Ia menyebut Wilson sebagai salah satu orang pertama yang mengajaknya tur internasional.
Jools Holland, yang pernah mengundang Wilson tampil di acara Later... with Jools Holland, juga menyampaikan belasungkawa. Penyanyi Skin dari Skunk Anansie menyebut Wilson sebagai penyanyi yang luar biasa, sementara Jill Scott menulis pesan puitis yang menggambarkan kehangatan dan ketulusan Wilson. Semua ungkapan ini menunjukkan betapa besar pengaruh dan kebaikan Wilson semasa hidupnya.
Bagi penggemar jazz di Indonesia, kepergian Cassandra Wilson adalah kehilangan besar. Musiknya yang melintasi batas genre dan budaya telah menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai tradisi musik. Di tengah industri musik yang semakin homogen, Wilson adalah contoh bagaimana seorang seniman bisa tetap setia pada akar budayanya sambil terus berinovasi. Pertanyaannya kini, siapa yang akan meneruskan warisan keberanian dan kreativitasnya?



