Pilkades Digital 2026 di Jabar: Enam Kabupaten Siap, Cianjur Hemat Rp2,5 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 566 desa di enam kabupaten Jawa Barat akan menggunakan e-voting berbasis tablet pada Pilkades serentak 2026, dengan jadwal bertahap mulai September hingga Desember.
- Penerapan sistem paperless ini diproyeksikan menekan biaya operasional, salah satunya di Kabupaten Cianjur yang berpotensi menghemat anggaran hingga Rp2,5 miliar.
- Komisi I DPRD Jabar menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur jaringan dan keamanan data sebagai prasyarat utama agar proses demokrasi digital berjalan lancar dan akuntabel.

Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak 2026 di Jawa Barat akan menjadi uji coba terbesar demokrasi digital tingkat desa di Indonesia, dengan enam kabupaten yang siap menggelar pemungutan suara berbasis tablet dan jaringan lokal tertutup. Inisiatif ini digadang-gadang mampu menekan anggaran sekaligus memperkuat transparansi, namun tantangan infrastruktur dan keamanan siber tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Komisi I DPRD Jawa Barat, yang membidangi pemerintahan dan hukum, tengah mematangkan skema teknis pelaksanaan Pilkades elektronik yang dijadwalkan berlangsung bertahap pada September hingga Desember 2026. Ketua Komisi I, Rahmat Hidayat Djati, menegaskan bahwa digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk menekan celah kecurangan dan meningkatkan akuntabilitas penyelenggaraan di tingkat desa.
โPilkades digital adalah keniscayaan untuk mewujudkan efisiensi anggaran, transparansi, serta meminimalisir celah kecurangan. Kami terus mendorong Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) serta pemerintah kabupaten/kota agar persiapan teknis di lapangan berjalan matang,โ ujar Rahmat dalam keterangannya di Bandung, Kamis (4/9).
Enam kabupaten yang masuk dalam daftar penyelenggara Pilkades digital adalah Bekasi, Cianjur, Sumedang, Karawang, Subang, dan Ciamis. Masing-masing daerah memiliki jadwal dan jumlah desa yang berbeda, dengan total lebih dari 560 desa yang akan menggunakan sistem tanpa kertas (paperless).
Jadwal yang diusulkan menunjukkan adanya perbedaan waktu yang cukup lebar antarwilayah, mulai dari September hingga Desember 2026. Hal ini dinilai sebagai langkah antisipatif untuk menghindari bentrok logistik dan memastikan kesiapan sumber daya manusia di setiap daerah. Namun, di balik optimisme tersebut, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa keberhasilan Pilkades digital sangat bergantung pada kualitas jaringan internet dan keamanan data, terutama di daerah pedesaan yang kerap mengalami kendala konektivitas.
Rahmat menggarisbawahi tiga prasyarat utama yang harus dipenuhi: teknologi yang aman, penyelenggara yang netral, dan jaminan perlindungan hak pilih masyarakat. โTeknologinya harus aman, penyelenggaranya harus netral, dan masyarakat harus mendapatkan kepastian bahwa hak pilihnya terlindungi. Tiga hal ini menjadi bagian penting yang harus dikawal bersama,โ tegasnya.
Digitalisasi Pilkades sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Beberapa daerah seperti Magetan dan Purbalingga telah lebih dulu menerapkan e-voting dalam skala terbatas. Namun, Jawa Barat dengan jumlah desa yang besar dan keragaman geografisnya akan menjadi barometer nasional. Jika sukses, model ini berpotensi direplikasi di provinsi lain, sekaligus menjadi pijakan untuk pemilihan serentak berikutnya.
Bagi masyarakat Jawa Barat, Pilkades digital menjanjikan proses yang lebih cepat dan akurat dalam penghitungan suara. Namun, kekhawatiran tentang kesenjangan digital dan potensi manipulasi data tetap mengemuka. Pemerintah daerah pun dituntut untuk memastikan bahwa setiap warga, termasuk lansia dan mereka yang tinggal di pelosok, dapat menggunakan perangkat yang disediakan tanpa hambatan berarti.
Dengan total desa yang mencapai ratusan, kebutuhan anggaran untuk pengadaan tablet, pelatihan petugas, dan pemeliharaan sistem menjadi sorotan. Meski efisiensi jangka panjang diharapkan, investasi awal yang tidak sedikit bisa menjadi beban bagi APBD kabupaten. Pertanyaannya, apakah komitmen politik dan teknis ini akan berjalan mulus hingga hari pemungutan suara nanti?



