Banjir Nepal: Palang Merah Singapura Tambah Bantuan S$170 Ribu, Total Donasi Tembus S$3 Juta
Baca dalam 60 detik
- Komitmen baru Palang Merah Singapura memperkuat respons kemanusiaan untuk korban banjir Nepal, dengan fokus pada pangan dan air bersih.
- Dana publik yang terkumpul menunjukkan solidaritas global, namun kebutuhan di lapangan masih besar seiring jumlah korban dan pengungsi yang terus bertambah.
- Pengiriman alat penyaring air dan logistik lainnya menjadi prioritas untuk mencegah krisis kesehatan sekunder di wilayah terdampak.

Palang Merah Singapura (SRC) mengumumkan tambahan komitmen bantuan kemanusiaan senilai S$170 ribu (sekitar Rp2 miliar) untuk korban banjir dahsyat di Nepal, Kamis (3/9). Dengan tambahan ini, total kontribusi SRC untuk respons bencana mencapai S$220 ribu, sementara dana publik yang berhasil dihimpun melalui kampanye penggalangan dana telah melampaui S$3 juta.
Dana tambahan tersebut akan difokuskan pada dua kebutuhan kritis: pasokan pangan darurat dan akses air minum aman. Sekitar S$80 ribu dialokasikan untuk membeli bahan makanan pokok seperti beras dan lentil bagi 2.500 keluarga terdampak. Distribusi akan dilakukan melalui mitra SRC di lapangan, memastikan bantuan tepat sasaran.
Sementara itu, S$90 ribu lainnya digunakan untuk pengadaan perlengkapan filtrasi air. Sebanyak 183 unit penyaring air dijadwalkan dikirim akhir pekan ini. Setiap unit mampu memproduksi lebih dari 200 liter air bersih per jam dan dirancang untuk melayani komunitas hingga 200 orang. Langkah ini krusial mengingat risiko penyakit bawaan air yang kerap menyusul bencana besar.
Kampanye penggalangan dana SRC yang diluncurkan menyusul bencana ini mendapat respons luar biasa dari masyarakat. Sekretaris Jenderal dan CEO SRC, Benjamin William, mengungkapkan apresiasinya atas solidaritas yang ditunjukkan. Banyak donor datang langsung ke Red Cross House untuk menyerahkan donasi secara pribadi, sebuah gestur yang menurutnya akan memperkuat upaya pemulihan jangka panjang. Ia menegaskan komitmen untuk mengelola dana secara transparan dan efisien demi dampak maksimal.
Di lapangan, Palang Merah Nepal telah mendistribusikan ribuan perlengkapan darurat, termasuk 1.520 selimut, 715 kasur, 1.418 terpal, 392 perlengkapan kebersihan, dan 760 dignity kits. Bantuan logistik lain seperti 490 ember, 365 kelambu, 80 toilet darurat, serta 55 kotak P3K juga telah disalurkan ke berbagai wilayah. Selain itu, 750 warga yang mengungsi di Distrik Nuwakot menerima makanan siap saji dan air kemasan. Pos-pos bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang terpisah serta dukungan psikologis pertama juga telah didirikan.
Bencana ini menimbulkan korban jiwa yang sangat besar. Sedikitnya 1.252 orang tewas di Nepal, dengan total korban meninggal di kawasan itu mencapai lebih dari 1.270 jiwa. Di China, 541 orang dilaporkan hilang, menjadikan total korban terdampak mencapai 4.757 orang. Hampir 600 warga asing dari 30 negara juga hilang, termasuk sembilan warga Singapura. Pemerintah Singapura telah mengirimkan tim polisi dan forensik untuk membantu upaya pencarian dan identifikasi korban.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi hidrometeorologi ekstrem yang semakin sering terjadi. Sebagai negara kepulauan dengan risiko bencana tinggi, Indonesia dapat belajar dari mekanisme respons cepat dan transparansi pengelolaan donasi yang ditunjukkan SRC. Kolaborasi lintas negara dalam penanganan bencana juga menyoroti perlunya penguatan sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan bencana di kawasan Asia Tenggara.
SRC menyatakan kebutuhan di lapangan terus dievaluasi untuk memastikan bantuan sesuai prioritas. Dana yang terkumpul akan disalurkan melalui Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah serta mitra kemanusiaan lainnya. Kampanye penggalangan dana publik akan berlangsung hingga 30 November. Pertanyaannya, apakah solidaritas global ini akan bertahan hingga fase pemulihan jangka panjang, atau akan meredup seiring bergulirnya waktu?



