Meghan Markle Kehilangan Sahabat dan Mentor: Gloria Steinem Tutup Usia di 92 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Gloria Steinem, ikon feminis AS, meninggal di New York pada usia 92 tahun, meninggalkan warisan besar bagi perjuangan kesetaraan gender.
- Meghan Markle, Hillary Clinton, dan Julianne Moore termasuk yang memberikan penghormatan, menyoroti pengaruh pribadi dan publik Steinem.
- Kepergian Steinem menandai akhir era kepemimpinan feminis generasi kedua, namun gagasannya tentang kesetaraan tetap relevan bagi gerakan perempuan global, termasuk Indonesia.

Gloria Steinem, ikon feminisme Amerika yang namanya identik dengan perjuangan kesetaraan gender, mengembuskan napas terakhir di kediamannya di New York pada Rabu (09/02/26) dalam usia 92 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi rekan seperjuangannya, tetapi juga bagi jutaan perempuan di seluruh dunia yang terinspirasi oleh gagasan dan aksinya.
Kabar duka ini pertama kali disampaikan melalui pernyataan resmi di akun Instagram Steinem. Dalam pernyataan tersebut, keluarga menyebut bahwa Steinem meninggal dengan tenang dan terus bekerja untuk kesetaraan hingga akhir hayatnya. “Gloria hidup sesuai dengan semangat independennya, selalu dengan rasa ingin tahu dan selera humor yang tinggi,” tulis keluarga, menggambarkan sosok yang tidak pernah berhenti memperjuangkan apa yang diyakininya.
Meghan, Duchess of Sussex, menjadi salah satu yang paling vokal menyampaikan penghormatan. Melalui unggahan Instagram pribadinya, Meghan mengenang Steinem sebagai sahabat dan mentornya. Ia bercerita tentang gelang bertuliskan “we are linked, not ranked” yang diberikan Steinem dan masih ia pakai dengan bangga. “Secara pribadi, dia bahkan lebih baik dari yang Anda bayangkan,” tulis Meghan, mengenang momen kebersamaan mereka, termasuk saat Steinem menghabiskan Thanksgiving bersama keluarganya dan memberikan nasihat bijak di tengah secangkir teh.
Hillary Clinton, mantan Menteri Luar Negeri AS, juga mengungkapkan rasa dukanya. Dalam wawancara dengan CBS Mornings, Clinton menyebut dirinya “patah hati” dan menggambarkan Steinem sebagai “salah satu arsitek dari seluruh struktur kesetaraan perempuan.” Clinton mengenang bagaimana Steinem membuka pintu-pintu yang selama ini tertutup bagi jutaan perempuan, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mereka yang mengikutinya.
Julianne Moore, yang memerankan Steinem dalam film biopik The Glorias (2020), menyebut pengalaman mempelajari sosok Steinem sebagai “salah satu pengalaman paling mencerahkan dalam hidup saya.” Moore mengagumi kejujuran, toleransi, dan penekanan Steinem pada humanisme dan inklusi. “Dia memberi kami peta moral,” ujar Moore. Sementara itu, Sandra Bullock membagikan foto hitam-putih Steinem di Instagram Story-nya dengan keterangan yang menyebut bahwa Steinem “membuka jalan yang bisa dilalui jutaan orang.”
Kiprah Steinem dimulai sebagai jurnalis lepas di New York. Namanya melambung pada 1963 ketika ia menyamar menjadi pelayan klub Playboy untuk menulis ekspos tentang kondisi kerja di balik kemewahan. Pengalaman itu membuka matanya terhadap eksploitasi perempuan dan mengantarnya menjadi kolumnis di New York Magazine. Momen penting lainnya terjadi pada 1969, ketika ia berbicara terbuka tentang pengalamannya menjalani aborsi di usia 22 tahun—sebuah pengakuan yang berani di zamannya dan memperkuat advokasinya untuk hak reproduksi.
Pada 1971, bersama Brenda Feigen dan Dorothy Pitman-Hughes, Steinem mendirikan Women’s Action Alliance untuk melawan diskriminasi seksual. Setahun kemudian, ia ikut mendirikan Ms. Magazine, publikasi pertama yang dikelola dan ditulis oleh perempuan. Ia juga berperan penting dalam kampanye pengesahan Equal Rights Amendment (ERA) pada 1972, yang melarang diskriminasi berbasis gender.
Bagi Indonesia, perjuangan Steinem memiliki resonansi tersendiri. Meski konteks sosial dan politik berbeda, isu kesetaraan gender, hak reproduksi, dan representasi perempuan di ruang publik masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indeks Pembangunan Gender (IPG) Indonesia terus meningkat, namun kesenjangan partisipasi ekonomi dan politik perempuan masih terlihat. Gagasan Steinem tentang pentingnya solidaritas antarperempuan dan keberanian untuk bersuara bisa menjadi inspirasi bagi para aktivis dan akademisi di tanah air.
Steinem memang telah tiada, tetapi warisan pemikirannya akan terus hidup. Pertanyaannya, siapa yang akan meneruskan estafet kepemimpinan feminis di era yang semakin kompleks ini? Akankah gerakan perempuan global, termasuk di Indonesia, mampu merawat semangat optimisme dan inklusivitas yang diajarkan Steinem?



