Banjir Nepal: Peringatan bagi India, Pelajaran bagi Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Banjir dahsyat di Nepal mengungkap kerentanan sistem sungai Himalaya yang transnasional, dengan dampak signifikan bagi India dan negara hilir lainnya.
- Para ahli menekankan bahwa bencana ini bukan sekadar luapan air biasa, melainkan kombinasi faktor hidrologi dan infrastruktur yang gagal, seperti yang terjadi pada tragedi Kosi 2008.
- Peristiwa ini menjadi pengingat bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama data dan sistem peringatan dini lintas batas, mengingat kerentanan serupa di kawasan Asia Tenggara.

Banjir dahsyat yang melanda Nepal baru-baru ini bukan sekadar bencana domestik. Para ahli hidrologi menilai peristiwa ini merupakan sinyal bahaya bagi India, karena kedua negara berbagi sistem sungai Himalaya yang luas dan semakin tidak menentu. Namun, kompleksitas hubungan antara curah hujan di Nepal dan bencana di India jauh melampaui sekadar aliran air yang melintasi perbatasan.
Nepal memiliki lebih dari 6.000 sungai dan aliran air, sebagian besar mengalir ke selatan menuju India dan Sungai Gangga. Tiga sistem sungai utama mendominasi: Kosi di timur, Gandaki di tengah, dan Karnali di barat, dengan Mahakali di sepanjang perbatasan barat. Selain itu, sekitar selusin sungai kecil yang berasal dari perbukitan Siwalik dan Chure, seperti Bagmati, Kamala, Rapti, dan Babai, dapat menghasilkan banjir yang lebih cepat dan tidak terduga karena daerah alirannya yang kecil dan curam.
Menurut Manish Shrestha, hidrolog di International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD), tujuh hingga sembilan sungai besar mengalir dari Nepal ke dataran India dan bertanggung jawab atas banjir di sana. Komisi Air Pusat India mengidentifikasi Kosi, Gandak, Bagmati, dan Ghaghara sebagai sungai lintas batas utama. Bihar menjadi negara bagian India yang paling terdampak, dengan sekitar tiga perempat wilayah utaranya secara resmi diklasifikasikan sebagai daerah rawan banjir. Hampir semua sungai besar yang membanjiri negara bagian itu berasal dari Nepal, dengan Kosi yang dijuluki "duka Bihar" sebagai yang paling terkenal, diikuti oleh Gandak, Bagmati, dan Kamala.
Uttar Pradesh bagian timur juga rentan terhadap sungai Ghaghara, Rapti, dan Gandak, dengan distrik-distrik seperti Gorakhpur, Bahraich, Lakhimpur Kheri, dan Shravasti yang kerap terdampak. Sementara itu, Uttarakhand berbagi sungai Mahakali-Sharda, dan Benggala Utara menerima aliran Mechi dan Mahananda. Pradeep Man Dangol, hidrolog ICIMOD, menggarisbawahi bahwa "Bihar mendominasi dalam skala, Uttar Pradesh berada di urutan kedua dan sering kurang dilaporkan".
Para hidrolog menggambarkan rantai tiga bagian untuk memahami banjir ini. Pertama, hujan: di mana ia turun dan seberapa deras. Puncak banjir yang mencapai India sering kali tidak berasal dari Himalaya tinggi, melainkan dari daerah lebih rendah seperti Siwalik, Chure, dan Terai, di mana hujan muson yang deras dapat turun di daerah tangkapan yang curam dan kecil. Kedua, sungai-sungai Nepal melintasi perubahan kemiringan yang tajam di kaki gunung, menjatuhkan sedimen, dan menyebar di dataran sebagai saluran yang berkelok-kelok. Ketiga, seberapa parah banjir yang terjadi bergantung pada apa yang ditemui air tersebutโvolume hujan di sisi India, tingkat kepenuhan Gangga, tanggul dan bendungan, serta drainase yang tersumbat oleh jalan, rel kereta api, dan pemukiman di dataran banjir.
Banjir Kosi 2008 menjadi ilustrasi kuat tentang bagaimana bencana bisa terjadi bukan karena faktor hidrologi ekstrem, melainkan kegagalan infrastruktur. Rajiv Sinha, profesor ilmu bumi di Indian Institute of Technology (IIT) Kanpur, mengungkapkan bahwa aliran sungai saat itu hanya sekitar sepersepuluh dari kapasitas normal. Penyebabnya adalah jebolnya tanggul yang dibangun pada 1950-an dan 1960-an dan tidak dirawat dengan baik. "Tanggul yang dibangun pada 1950-an dan 1960-an tidak dirawat dengan baik. Mereka terkikis dan akhirnya memiliki titik lemah. Sungai menerobos tanggul melalui titik-titik rentan ini dan memasuki bagian India yang mungkin tidak pernah banjir selama 100 tahun," kata Sinha. Saswata Sanyal, manajer intervensi untuk pengurangan risiko bencana di ICIMOD, menambahkan bahwa kegagalan tersebut bersifat "struktural, bukan hidrologis".
Meskipun India dan Nepal berbagi data curah hujan dan level sungai secara real-time dari jaringan stasiun, masih ada celah penting. Sanyal menyoroti kurangnya stasiun pemantauan real-time di daerah tangkapan Chure yang paling cepat, tidak adanya model prakiraan bersama antara kedua negara, dan terbatasnya pembagian rutin mengenai kondisi tanggul, perubahan aliran sungai, dan sedimen. Selain itu, ada masalah "last mile": peringatan yang mencapai kantor distrik tidak sama dengan mencapai keluarga yang berada dalam bahaya. Sinha menekankan pentingnya kerja sama dalam berbagi informasi dan sistem peringatan dini, termasuk pemantauan berkelanjutan terhadap danau glasial dan perubahannya.
Salah satu kesalahpahaman umum adalah bahwa Nepal "melepaskan" air ke India. Padahal, Nepal hampir tidak memiliki waduk besar yang mampu melakukan itu. Bendungan penyimpanan utamanya, Kulekhani, hanya menampung kurang dari sepersepuluh kilometer kubik, "jadi tidak ada yang bisa dilepaskan", kata Sanyal. Bendungan Kosi dan Gandak dioperasikan oleh India. Ketika air banjir mencapai perbatasan, itu sebagian besar karena hujan turun di hulu, bukan karena Nepal membuka gerbang. Namun, ada kebenaran penting di balik klaim tersebut: banyak air yang membanjiri Bihar utara dan UP timur berasal dari hujan di Nepal, sehingga curah hujan Nepal sangat menentukan waktu dan ukuran puncak banjir yang mencapai India. Nepal memasok sekitar 40% aliran tahunan rata-rata Gangga, dan porsi yang jauh lebih besar di musim kemarau.
Banjir Nepal terbaru ini, menurut Sinha, menyerupai serangkaian peristiwa bencana yang dialami India dalam beberapa tahun terakhir, termasuk bencana Chamoli 2021 dan bencana Dharali 2025 di Uttarakhand. Namun, peristiwa Nepal ini "mungkin lima hingga sepuluh kali lebih besar". Sinha menegaskan, "Poin fundamentalnya adalah ini bukan banjir hidrologis normal." Banjir konvensional sebagian besar berisi air, tetapi ketika air dari hujan deras, es yang mencair, atau pelepasan mendadak bercampur dengan sedimen dalam jumlah besar, hasilnya bisa menjadi lumpur kental berenergi tinggi yang mampu menghancurkan hampir semua yang dilaluinya. Ini adalah pelajaran dari bencana Chamoli 2021, ketika sebagian besar gletser Himalaya runtuh, menewaskan 200 orang dan merusak infrastruktur tenaga air. Hal serupa juga terlihat di Dharali pada 2025, ketika hujan deras memicu banjir bandang dan aliran puing menimbun sebagian desa.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menawarkan pelajaran berharga. Meskipun tidak berbagi sungai dengan Nepal, Indonesia memiliki kerentanan serupa terhadap bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang dan tanah longsor di daerah pegunungan. Kerja sama lintas batas dalam berbagi data dan sistem peringatan dini, seperti yang disarankan para ahli untuk India dan Nepal, relevan untuk kawasan Asia Tenggara yang sering dilanda bencana serupa. Selain itu, pentingnya pemeliharaan infrastruktur pengendali banjir, seperti tanggul dan bendungan, menjadi sorotan utama. Kegagalan tanggul Kosi 2008 menunjukkan bahwa infrastruktur yang tidak dirawat dapat menjadi pemicu bencana yang lebih besar daripada faktor alam itu sendiri.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: apakah negara-negara di kawasan ini, termasuk Indonesia, akan cukup proaktif dalam memperkuat ketahanan terhadap bencana yang semakin kompleks akibat perubahan iklim? Atau akankah mereka menunggu hingga tragedi serupa terjadi di halaman sendiri? Jawabannya membutuhkan komitmen politik dan investasi nyata dalam sistem peringatan dini, pengelolaan sungai terpadu, dan pemeliharaan infrastruktur yang berkelanjutan.



