Fenomena 'Office Ageing' di China: Karyawan Bawa Payung ke Kantor demi Kulit Awet Muda
Baca dalam 60 detik
- Pekerja di China kini membawa payung, topi, dan tabir surya ke kantor untuk melawan penuaan dini akibat lingkungan kerja.
- Fenomena ini memicu diskusi tentang sindrom gedung sakit dan kualitas udara di tempat kerja yang memengaruhi kesehatan dan penampilan.
- Rata-rata jam kerja di China mencapai 48,2 jam per minggu, melampaui batas legal, memicu kekhawatiran akan kesejahteraan pekerja.

Fenomena baru muncul di kalangan pekerja China: membawa payung, mengenakan topi, dan mengoleskan tabir surya secara berlebihan saat berada di dalam kantor. Mereka menyebutnya sebagai upaya melawan 'office ageing' atau penuaan akibat rutinitas kerja. Tren ini viral di media sosial, memicu perdebatan tentang kualitas lingkungan kerja dan dampaknya terhadap kesehatan serta penampilan.
Seorang pengguna RedNote asal Jiangsu, @lelehangmu, mengaku baru sebulan bekerja kulitnya sudah tampak lebih gelap dan matanya sering lelah. Unggahannya menuai banyak respons, dengan pengguna lain mengaku wajahnya terlihat lebih cerah setelah cuti panjang. Ada pula yang mengeluhkan paparan asap rokok di ruang kerja bersama. Keluhan-keluhan ini mendorong sebagian pekerja untuk berinovasi: mendirikan payung di meja kerja, memakai masker wajah, atau mengoleskan tabir surya ke lengan.
Fenomena ini bukan sekadar soal penampilan. Desainer pencahayaan Yoki menjelaskan bahwa banyak kantor menggunakan lampu bernuansa dingin untuk menjaga kewaspadaan karyawan, demi meningkatkan produktivitas. Namun, pencahayaan hanyalah satu dari sekian masalah. Udara kering, ventilasi berdebu, dan tingginya kadar karbon dioksida di ruangan tertutup dapat memperburuk ketidaknyamanan fisik dan kelelahan mental. Kondisi ini mengingatkan pada istilah 'sick building syndrome' yang diperkenalkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 1980-an, merujuk pada gejala seperti sakit kepala, hidung tersumbat, kulit kering, dan sulit berkonsentrasi yang muncul akibat berada di gedung tertentu.
Studi tahun 2008 oleh akademisi asal India, Sumedha Joshi, mengaitkan sindrom ini dengan penurunan produktivitas dan tingginya angka absensi. Ia merekomendasikan perbaikan ventilasi, istirahat teratur, dan manajemen stres. Di media sosial, kekhawatiran kini meluas dari kesehatan ke penampilan. Tren TikTok memperlihatkan perbedaan mencolok antara wajah segar di pagi hari dan wajah kusam di sore hari. Banyak pekerja juga mengaitkan duduk terlalu lama dengan postur tubuh yang buruk, seperti leher maju dan bahu membulat.
Di tengah kekhawatiran ini, muncul pertanyaan retoris dari seorang netizen: 'Saya menua di kantor setiap hari. Perusahaan membayar tenaga saya, tapi siapa yang membiayai kecantikan dan kesehatan saya?' Sebagai respons, sebagian pekerja menciptakan 'self-care' ala kantor, seperti mengubah gelas bekas minuman menjadi humidifier darurat atau memelihara 'hewan peliharaan' meja berupa batu dan biji mangga untuk mengurangi kecemasan. Namun, di balik strategi ini, ada masalah yang lebih dalam: jam kerja yang panjang. Hingga Mei, rata-rata jam kerja mingguan di China mencapai 48,2 jam, melebihi batas legal 44 jam.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, di mana budaya kerja lembur juga marak. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan banyak pekerja di sektor formal menghabiskan waktu lebih dari 40 jam per minggu. Kualitas udara di gedung perkantoran Jakarta, misalnya, sering dikeluhkan, terutama di kawasan padat lalu lintas. Jika tren serupa muncul di Indonesia, perusahaan mungkin perlu mempertimbangkan ulang desain kantor dan kebijakan jam kerja. Apakah ini akan mendorong perubahan regulasi atau justru memicu gerakan pekerja untuk menuntut lingkungan kerja yang lebih sehat? Pertanyaan ini layak menjadi perhatian para pemangku kepentingan di Indonesia.



