Keputusan Radikal PCB: Afridi Sebut Perombakan Tim Pakistan 'Paling Mengejutkan'
Baca dalam 60 detik
- Pakistan melakukan perombakan besar-besaran dengan mencoret tujuh pemain dan mengganti pelatih di tengah series melawan Inggris.
- Kritik tajam datang dari Shahid Afridi yang menilai keputusan ini tidak logis dan tidak masuk akal, terutama memasukkan pemain T20 untuk laga Test.
- Langkah ini memicu kekhawatiran tentang stabilitas dan masa depan kriket Pakistan, dengan mantan kapten Ramiz Raja menyebutnya sebagai 'panic button'.

Keputusan mengejutkan datang dari manajemen kriket Pakistan di tengah tur Inggris. Federasi Kriket Pakistan (PCB) secara mendadak merombak skuad dan jajaran pelatih pada saat series sedang berlangsung, sebuah langkah yang langsung menuai kecaman dari mantan kapten Shahid Afridi. Ia menyebut keputusan ini sebagai yang paling mengejutkan dalam sejarah komite seleksi.
Tujuh pemain dicoret dari skuad, termasuk beberapa yang tampil di dua laga awal, sementara lima pemain tanpa caps dipanggil masuk. Tak berhenti di situ, pelatih kepala Sarfaraz Ahmed dan asistennya Umar Gul digantikan oleh Mike Hesson, yang sebelumnya menangani tim putih, serta mantan fast bowler Australia Ashley Noffke. Perombakan ini terjadi tepat sebelum laga ketiga dan terakhir di Edgbaston, yang dijadwalkan mulai 9 September.
Afridi, yang pernah menjadi kapten Pakistan, meluapkan kekesalannya melalui media sosial. Ia mempertanyakan logika di balik keputusan tersebut, terutama pemanggilan pemain yang biasa tampil di format T20 untuk pertandingan Test di Inggris. "Bahkan penggantinya pun tidak masuk akal," tulisnya. Ia juga menyoroti pemecatan pelatih yang baru menangani lima laga Test, sebuah langkah yang dinilainya tidak konsisten dan membingungkan.
Mantan kapten dan mantan ketua PCB, Ramiz Raja, juga angkat bicara. Dalam wawancara dengan BBC Radio 5 Live, ia mengaku kesulitan menerima keputusan ini. "Saya mencoba meyakinkan diri bahwa ini semua baik-baik saja, tetapi kenyataannya tidak," ujarnya. Ia menilai langkah ini menunjukkan bahwa kriket Pakistan sedang dalam mode panik, yang bisa berdampak buruk pada mentalitas tim.
Di tengah kekacauan ini, Pakistan juga dijadwalkan bertemu Raja Charles di Clarence House, sebuah agenda yang sudah direncanakan sebelum series dimulai. Namun, pertemuan tersebut tetap berlangsung meskipun series nyaris berakhir kontroversial di laga kedua. Saat itu, PCB sempat mengancam membatalkan sisa pertandingan dan tur karena wawancara anak-anak Imran Khan yang disiarkan Sky. Imran, mantan kapten dan perdana menteri Pakistan, telah dipenjara selama tiga tahun atas tuduhan korupsi yang ia bantah. Meski begitu, laga kedua tetap diselesaikan, dan kapten Babar Azam serta Sarfaraz membantah mengetahui rencana boikot.
Bagi pengamat kriket di Indonesia, langkah PCB ini menjadi pelajaran tentang pentingnya stabilitas manajemen tim. Meski kriket belum sepopuler di Indonesia, keputusan kontroversial seperti ini kerap menjadi sorotan di kancah internasional dan bisa memengaruhi persepsi terhadap olahraga ini di kawasan Asia. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah perombakan ini akan membawa perbaikan atau justru memperburuk performa Pakistan. Semua mata kini tertuju pada Edgbaston untuk melihat apakah strategi darurat ini berbuah hasil atau menjadi bumerang.



