30 Tahun Michael Schumacher di Ferrari: Monza Siapkan Livery Spesial dan Parade Mobil Legendaris
Baca dalam 60 detik
- Ferrari akan mengenakan livery bernuansa retro di GP Monza akhir pekan ini untuk memperingati 30 tahun kedatangan Michael Schumacher.
- Tiga mobil bersejarah Schumacher akan dipamerkan, dengan F2002 yang dikendarai Rubens Barrichello dan Sebastian Vettel dalam parade khusus.
- Peringatan ini menjadi momen refleksi bagi penggemar F1 di Indonesia yang tumbuh dengan era dominasi Schumacher bersama Ferrari.

Ferrari bersiap menghadirkan nuansa nostalgia di Sirkuit Monza akhir pekan ini. Untuk memperingati tiga dekade sejak Michael Schumacher bergabung dengan tim asal Maranello, pabrikan Italia itu akan menggunakan livery khusus pada mobil Charles Leclerc dan Lewis Hamilton, lengkap dengan atribut yang mengingatkan pada era kejayaan sang legenda.
Schumacher, yang kini berusia 57 tahun, bergabung dengan Ferrari pada 1996 setelah meraih dua gelar juara dunia bersama Benetton. Kedatangannya menjadi titik balik yang mengubah wajah tim, membawa Ferrari memasuki periode emas dengan lima gelar juara dunia pembalap beruntun dan enam gelar konstruktor berturut-turut. Momen bersejarah itu kini dirayakan dengan sentuhan khusus di GP Italia, lintasan yang menjadi saksi kemenangan pertamanya bersama Ferrari pada 1996.
Livery SF-26 yang akan digunakan di Monza terinspirasi dari mobil pertama Schumacher, Ferrari 310. Didominasi warna merah, dengan aksen putih di sayap dan sentuhan hitam, desain ini juga menampilkan tujuh bintang serta logo khas Schumacher yang memadukan huruf M dan S. Detail ini menjadi penghormatan atas kontribusi Schumacher yang membawa Ferrari meraih lima gelar juara dunia pembalap secara beruntun dari 2000 hingga 2004.
Selain livery, Ferrari juga akan memamerkan tiga mobil bersejarah dari karier Schumacher: F310, 248 (2006), dan F2002 yang dikenal sebagai salah satu mobil paling dominan dalam sejarah F1. Menariknya, F2002 akan dikendarai oleh Rubens Barrichello, rekan setim Schumacher di masa lalu, pada Sabtu, dan Sebastian Vettel, empat kali juara dunia, pada Minggu. Aksi ini dipastikan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemar yang hadir di sirkuit maupun yang menyaksikan dari layar kaca.
Peringatan ini juga menjadi pengingat akan rivalitas dan persaingan ketat yang mewarnai F1 era tersebut. Kemenangan Schumacher di Monza 1996 menjadi kemenangan pertama Ferrari di kandang sendiri sejak 1988. Kini, Ferrari kembali datang dengan peluang besar untuk meraih kemenangan di hadapan para tifosi. Charles Leclerc dan Lewis Hamilton masing-masing telah memenangkan satu balapan musim ini, dan tim berada di posisi kedua klasemen. Leclerc sendiri tercatat sebagai pemenang terakhir Ferrari di Monza pada 2024, sekaligus menambah daftar kemenangannya di sirkuit ini setelah sukses pada 2019. Sementara Hamilton, yang bergabung dengan Ferrari musim ini, telah mencatatkan lima kemenangan di Monza bersama McLaren dan Mercedes.
Di sisi lain, pembalap Italia Kimi Antonelli yang memimpin klasemen untuk Mercedes harus memulai balapan dari posisi belakang akibat penalti penggantian komponen power unit. Situasi ini tentu menjadi perhatian tersendiri bagi penggemar Italia yang berharap melihat pembalap lokal tampil kompetitif di kandang sendiri.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, momen ini membawa nostalgia tersendiri. Era Schumacher adalah masa ketika banyak penggemar Tanah Air mulai mengikuti F1 secara intensif, menyaksikan dominasi Ferrari di layar kaca. Peringatan ini tidak hanya menjadi ajang penghormatan bagi sang legenda, tetapi juga pengingat akan sejarah panjang F1 yang penuh dengan rivalitas dan inovasi. Pertanyaannya, mampukah Ferrari mengulang kejayaan masa lalu dengan duet Leclerc-Hamilton di tengah persaingan ketat dengan Red Bull dan Mercedes? Monza akhir pekan ini akan menjadi panggung jawabannya.



