Kostyuk Lolos ke Babak Kedua US Open: Ukraina Kian Serius Mengejar Gelar Grand Slam Pertama
Baca dalam 60 detik
- Marta Kostyuk menundukkan Storm Hunter 6-4, 6-1 dalam 67 menit pada laga pembuka US Open di New York.
- Konsistensi Kostyuk di turnamen besar musim ini, dengan dua semifinal Grand Slam, menempatkannya sebagai kandidat kuat di Flushing Meadows.
- Langkah berikutnya menanti pemenang antara Sloane Stephens dan Clara Tauson, ujian yang akan menguji kedalaman mentalnya.

Marta Kostyuk memulai misi perdananya merebut gelar Grand Slam dengan kemenangan meyakinkan atas petenis kualifikasi asal Australia, Storm Hunter, pada babak pertama US Open di New York, Minggu (30/8) waktu setempat. Unggulan ke-11 itu menang dua set langsung 6-4, 6-1 dalam waktu 67 menit, menegaskan statusnya sebagai salah satu penantang serius di turnamen tenis terakhir musim ini.
Performa Kostyuk di ajang Grand Slam sepanjang 2025 memang patut diperhitungkan. Setelah tersingkir dini di Australia Terbuka, ia bangkit dengan menembus semifinal Prancis Terbuka dan Wimbledon. Konsistensi semacam ini jarang dimiliki petenis seusianya, dan membuatnya datang ke New York dengan kepercayaan diri tinggi. Namun, jalan menuju gelar perdana tidak akan mudah; ia harus melewati lapangan keras yang kerap menjadi penentu ketahanan fisik dan mental.
Pada laga kontra Hunter, Kostyuk langsung tancap gas dengan memimpin 4-1 di set pembuka. Meski sempat kehilangan fokus dan membiarkan lawan mendekat, ia menutup set pertama setelah Hunter melakukan double fault pada set point. Di set kedua, Kostyuk tampil lebih dominan, langsung mematahkan servis lawan dan tidak memberi ruang bagi Hunter untuk bangkit. Kemenangan ini menjadi modal berharga, terutama karena petenis kualifikasi biasanya datang dengan ritme pertandingan yang sudah padat.
Kostyuk, yang kini berusia 24 tahun, mengaku senang bisa kembali tampil di Flushing Meadows. "Saya sangat bahagia bisa kembali ke tempat yang luar biasa ini," ujarnya di lapangan. Ia juga menyadari tantangan menghadapi petenis kualifikasi yang sudah bermain beberapa pertandingan. "Mereka sudah memainkan seluruh turnamen, jadi tidak mudah. Saya puas dengan performa hari ini. Saya mencoba tetap rendah hati. Masih ada jalan panjang, dan saya menikmati tenis saya," tambahnya.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, performa Kostyuk menjadi menarik untuk diikuti, terutama karena ia mewakili generasi baru petenis Eropa Timur yang agresif. Keberhasilannya menembus babak demi babak di turnamen besar bisa menjadi inspirasi bagi petenis muda Tanah Air yang bercita-cita menembus level internasional. Selain itu, persaingan di sektor putri semakin terbuka setelah dominasi beberapa nama besar mulai memudar, membuka peluang bagi pemain seperti Kostyuk untuk bersinar.
Langkah berikutnya, Kostyuk akan berhadapan dengan pemenang antara Sloane Stephens, juara US Open 2017, dan Clara Tauson. Stephens, yang pernah merasakan manisnya gelar di New York, tentu menjadi ujian berat. Namun, dengan modal performa konsisten di dua Grand Slam terakhir, Kostyuk punya peluang besar untuk melaju lebih jauh. Pertanyaannya, akankah ia mampu menjaga konsistensi dan mengatasi tekanan di lapangan keras yang seringkali menjadi mimpi buruk bagi petenis bertipe baseline?



