Banjir Bandang Himalaya: Tembok Harapan di Kathmandu, 4.500 Orang Masih Hilang
Baca dalam 60 detik
- Bencana glasial di perbatasan China-Nepal menewaskan lebih dari 900 orang dan membuat hampir 4.500 jiwa hilang, termasuk 600 warga asing.
- Di Kathmandu, keluarga korban menempelkan foto orang terkasih di tembok rumah sakit sebagai upaya terakhir mencari keberadaan mereka.
- Proses identifikasi berjalan lambat; dari 94 jenazah yang ditemukan, baru 12 yang berhasil diidentifikasi, menyisakan duka mendalam bagi keluarga.

Kathmandu, Nepal โ Di tengah kepiluan yang menyelimuti Nepal pasca-bencana glasial di Himalaya, warga yang kehilangan anggota keluarga berbondong-bondong menempelkan foto-foto orang tercinta di tembok rumah sakit. Tembok sepanjang 25 meter di luar Rumah Sakit Pendidikan TU itu menjadi saksi bisu perjuangan mereka yang menolak menyerah pada keputusasaan.
Bencana yang dipicu runtuhnya gletser di perbatasan China-Nepal pada Rabu lalu itu memicu gelombang air es dan puing-puing setinggi tsunami. Lebih dari 900 orang dilaporkan tewas, sementara hampir 4.500 lainnya masih hilang. Sebagian besar korban adalah warga Nepal, tetapi sekitar 600 orang di antaranya merupakan warga asing, termasuk pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air asal China dan peziarah dari India.
Di antara kerumunan yang berjuang mencari kabar, Prakash Chhetri (46) menempelkan foto kakaknya. Ia mengisahkan bahwa sang kakak sedang mengangkut sembilan peziarah menuju Gosaikunda saat bencana datang. โDari sembilan orang, hanya satu yang selamat setelah melompat dari kendaraan,โ ujarnya lirih. Kisah serupa datang dari Debu Sapkota (58), seorang sopir yang kehilangan ibu mertua (83) dan cucunya di Trishuli Bazaar. โSirene peringatan berbunyi, tetapi ibu mertua saya terlalu tua untuk berlari. Cucunya mencoba menolong, tetapi keduanya tersapu arus,โ katanya. Sapkota kini hanya berharap bisa menemukan jenazah mereka.
Di tembok yang sama, foto-foto pekerja dan insinyur China yang bertugas di proyek pembangkit listrik tenaga air juga terpajang, begitu pula potret peziarah Hindu yang sedang dalam perjalanan spiritual ke Gunung Kailash di Tibet, serta seorang turis asal Amerika Serikat. Pemandangan ini menggambarkan betapa bencana ini tidak mengenal batas negara, merenggut nyawa dan harapan dari berbagai bangsa.
Proses identifikasi korban berjalan sangat lambat. Om Bahadur Rana, perwira polisi yang bertanggung jawab atas penanganan jenazah, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima 94 jenazah, tetapi baru 12 yang berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga. โKami masih berupaya maksimal, tetapi kondisi jenazah yang membengkak menyulitkan proses identifikasi,โ tuturnya. Sementara itu, di dekat kamar mayat, foto-foto jenazah yang ditemukan dari lumpur dipajang, dan keluarga masih berharap bisa mengenali wajah-wajah yang tersisa.
Bencana ini juga menyoroti kerentanan kawasan Himalaya terhadap dampak perubahan iklim. Para ahli memperingatkan bahwa pencairan gletser yang semakin cepat meningkatkan risiko kejadian serupa di masa depan. Bagi Indonesia, meskipun tidak berada di kawasan rawan glasial, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang semakin ekstrem. Sistem peringatan dini dan edukasi masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi korban jiwa.
Di tengah duka yang mendalam, upaya pencarian terus dilakukan, baik secara fisik maupun melalui platform daring. Situs web pemerintah yang mengumpulkan informasi korban selamat dan hilang menjadi salah satu kanal yang digunakan keluarga untuk berbagi kabar. โKemarin kami melihat video seorang anak yang berjuang melepaskan diri dari lumpur; dia mirip keponakan saya,โ tulis salah satu pesan di situs tersebut. Harapan memang semakin menipis, tetapi bagi keluarga yang masih menunggu, secercah kepastian tetap mereka perjuangkan.
Pertanyaan besar kini menggantung: akankah proses identifikasi dapat dipercepat, dan bagaimana kawasan Himalaya serta negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, akan memperkuat sistem mitigasi bencana untuk menghadapi ancaman serupa di masa depan?



