Banjir Bandang Grand Canyon Tewaskan Dua Orang, Satu Wisatawan Masih Hilang
Baca dalam 60 detik
- Dua pendaki pria tewas dan satu orang belum ditemukan setelah banjir bandang menerjang Grand Canyon, sementara 82 orang berhasil dievakuasi.
- Banjir yang dipicu hujan monsun juga merusak 40 persen pipa air utama taman, memicu pembatasan air dan larangan api di area terdampak.
- Operasi pencarian terus berlanjut meski cuaca buruk menghambat, dengan harapan korban hilang masih selamat.

Banjir bandang yang dipicu hujan monsun deras melanda kawasan Grand Canyon, Amerika Serikat, akhir pekan lalu, menewaskan dua orang dan meninggalkan satu wisatawan dalam status hilang. Peristiwa yang terjadi di jalur pendakian populer Bright Angel Canyon dan sekitar Phantom Ranch itu juga memaksa evakuasi puluhan orang yang terjebak di tengah derasnya arus air, batu, dan material lain.
Otoritas Taman Nasional Grand Canyon melaporkan, hingga Senin (31/8) waktu setempat, jumlah orang yang belum ditemukan menyusut menjadi satu orang setelah tim penyelamat berhasil menghubungi belasan orang yang sebelumnya dilaporkan hilang. Dave Black, perwakilan National Park Service, mengungkapkan bahwa satu orang yang masih dicari itu merupakan satu-satunya yang belum teridentifikasi keberadaannya. "Ada satu orang yang belum ditemukan yang kami ketahui saat ini," ujarnya kepada wartawan di Grand Canyon Village, Arizona.
Operasi penyelamatan besar-besaran dilakukan sejak Sabtu hingga Minggu, dengan total 82 orang berhasil dievakuasi. Tim penjaga taman juga memeriksa sistem izin berkemah untuk memastikan siapa saja yang mungkin berada di lokasi saat bencana terjadi. "Mereka mencocokkan antara izin, plat nomor kendaraan, dan informasi lain, lalu menghubungi anggota keluarga untuk memastikan mereka sudah keluar," jelas Black. Namun, upaya pencarian terkendala hujan deras yang terus mengguyur kawasan tersebut, memperlambat proses pemulihan dan pencarian korban.
Banjir bandang ini juga berdampak signifikan pada infrastruktur taman. National Park Service menyatakan, sekitar 40 persen dari Transcanyon Waterline, pipa air utama sepanjang 20 kilometer yang memasok air minum dan kebutuhan pemadam kebakaran dari Roaring Springs ke South Rim, rusak atau hancur. Akibatnya, otoritas memberlakukan pembatasan penggunaan air di area yang paling banyak dikunjungi serta melarang penggunaan api dari kayu dan arang di zona yang rawan kekeringan. Selain itu, sejumlah jembatan penyeberangan di Bright Angel Creek hancur, menghalangi akses pejalan kaki.
Meski tragedi ini menimbulkan duka, Grand Canyon tetap dibuka untuk wisatawan. Puluhan pengunjung, termasuk turis asing, terlihat tetap beraktivitas di South Rim, berfoto dan menikmati pemandangan Colorado River di bawah. Petugas taman memberi peringatan tentang potensi bahaya, terutama cuaca yang bisa berubah mendadak. Pendakian ke dasar ngarai dari titik awal yang populer memakan waktu sekitar empat jam, sementara perjalanan kembali bisa memakan waktu hingga enam jam, menurut seorang staf taman.
Fenomena banjir bandang sebenarnya bukan hal baru di Arizona Utara. Kondisi lingkungan yang kering dan minim vegetasi membuat tanah tidak mampu menyerap air hujan dengan cepat, sehingga aliran deras mudah terbentuk. Taman nasional mengimbau pengunjung untuk ekstra waspada, terutama pada periode Juli hingga pertengahan September yang merupakan puncak musim monsun. Kejadian ini menjadi pengingat akan kekuatan alam yang tak terduga, bahkan di salah satu destinasi wisata paling ikonik di dunia.
Bagi wisatawan Indonesia yang berencana mengunjungi Grand Canyon, peristiwa ini menjadi pelajaran penting untuk selalu memantau prakiraan cuaca dan mematuhi arahan otoritas taman. Meski keindahan ngarai yang terbentuk dari erosi Sungai Colorado selama jutaan tahun itu tetap memukau, keselamatan harus menjadi prioritas utama. Operasi pencarian orang hilang masih berlangsung, dan tim penyelamat berharap cuaca membaik pada Selasa untuk memperluas area pencarian. Pertanyaannya, apakah kejadian serupa akan mendorong perubahan kebijakan pengelolaan risiko di taman-taman nasional AS yang lain?



