Jollibee Batal Melantai di AS, Pilih Hong Kong untuk IPO Unit Internasional
Baca dalam 60 detik
- Jollibee Foods Corp mengalihkan rencana pencatatan saham unit bisnis internasionalnya dari Amerika Serikat ke Bursa Efek Hong Kong.
- Langkah ini diambil untuk memanfaatkan kedekatan geografis dan pemahaman investor Asia terhadap cerita pertumbuhan regional perusahaan.
- Keputusan ini berpotensi mengerek valuasi Jollibee di tengah pasar IPO Hong Kong yang sedang bergairah, dengan total dana terkumpul mencapai US$22,45 miliar pada semester pertama 2026.

Raksasa makanan cepat saji asal Filipina, Jollibee Foods Corp, secara resmi membatalkan rencana pencatatan saham unit bisnis internasionalnya di Amerika Serikat dan memilih Bursa Efek Hong Kong sebagai tujuan listing. Keputusan ini diumumkan pada Selasa (1/9) dan langsung disambut positif oleh pasar, tercermin dari kenaikan harga saham perusahaan hingga 3,3 persen, level tertinggi sejak pertengahan Agustus.
Perusahaan yang mengoperasikan jaringan restoran Jollibee di berbagai negara ini tengah mematangkan pemisahan unit internasionalnya, Jollibee Foods Corporation International (JFCI), sebagai langkah awal menuju pencatatan saham. Dalam pernyataannya, manajemen Jollibee menyebut bahwa Hong Kong dipilih karena perusahaan telah memiliki kehadiran yang mapan di kawasan tersebut serta pengakuan merek yang kuat di Asia. Selain itu, bursa Hong Kong dinilai mampu memberikan akses ke basis investor global dan regional yang luas, yang dapat mendukung ambisi ekspansi perusahaan di luar Asia, termasuk pertumbuhan berkelanjutan di Amerika Utara.
Keputusan ini merupakan perubahan haluan yang signifikan dari rencana awal yang sempat mengarah ke bursa Amerika Serikat. Menurut Dilin Wu, seorang analis strategi di Pepperstone, pencatatan di Hong Kong berpotensi memberikan penemuan harga (price discovery) yang lebih baik karena investor di kawasan ini lebih familier dengan cerita pertumbuhan regional Jollibee. "Investor Asia lebih memahami dinamika pasar dan potensi nilai yang bisa dihasilkan dari ekspansi Jollibee di kawasan ini," ujarnya.
Langkah Jollibee ini diambil di tengah geliat pasar IPO Hong Kong yang sedang bergairah. Data dari LSEG menunjukkan bahwa pada paruh pertama 2026, bursa Hong Kong berhasil mengumpulkan dana sekitar US$22,45 miliar dari pencatatan saham baru, meningkat hampir 57 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini merupakan awal tahun tersibuk bagi bursa Hong Kong dalam lima tahun terakhir, didorong oleh membaiknya sentimen investor dan permintaan yang kuat dari perusahaan teknologi dan manufaktur yang mencari modal segar.
Bagi Indonesia, keputusan Jollibee ini memiliki relevansi tersendiri. Jollibee telah lama menjadi pemain penting di pasar makanan cepat saji Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di mana ia bersaing ketat dengan pemain lokal seperti PT Fast Food Indonesia Tbk (pemegang merek KFC) dan PT Sari Melati Kencana (pemilik A&W). Dengan pencatatan di Hong Kong, Jollibee diharapkan dapat memperkuat ekspansinya di kawasan ini, termasuk kemungkinan pembukaan gerai baru di Indonesia. Hal ini bisa memicu persaingan yang lebih ketat di industri makanan cepat saji tanah air, yang selama ini didominasi oleh merek lokal dan global.
Selain itu, langkah Jollibee juga mencerminkan tren yang lebih luas di kalangan perusahaan Asia yang mulai melirik bursa Hong Kong sebagai alternatif pendanaan. Bagi investor Indonesia, ini bisa menjadi sinyal bahwa bursa Hong Kong semakin menarik sebagai tempat untuk mencari peluang investasi di perusahaan-perusahaan regional yang sedang berkembang. Namun, perlu dicatat bahwa keputusan ini juga membawa risiko, seperti fluktuasi pasar dan ketidakpastian regulasi di Hong Kong yang perlu dicermati.
Dengan penunjukan Richard Chong Woo Shin sebagai CEO JFCI, Jollibee menunjukkan keseriusannya dalam memisahkan unit internasionalnya. Langkah ini diharapkan dapat memberikan fokus yang lebih jelas bagi JFCI untuk mengembangkan bisnisnya di luar Filipina, termasuk di Indonesia. Pertanyaannya, apakah langkah ini akan diikuti oleh perusahaan-perusahaan Asia lainnya yang juga memiliki ambisi ekspansi regional? Atau justru akan memicu pergeseran arus modal ke bursa-bursa lain di kawasan? Semua itu masih menjadi tanda tanya besar yang akan terjawab dalam beberapa tahun ke depan.



