Empat Pria Dituntut di Singapura: Dua Kasus Menyasar Korban Disabilitas Intelektual
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan Singapura menggelar sidang terhadap empat pria dalam kasus pencabulan, dua di antaranya menimpa korban dengan keterbatasan intelektual.
- Angka pencabulan di Singapura naik 3,1 persen pada paruh pertama 2026, dengan lokasi terbanyak di pemukiman dan transportasi publik.
- Kasus ini memicu perhatian pada perlindungan kelompok rentan dan pentingnya pengawasan masyarakat di ruang publik.

Singapura, 1 September 2026 โ Empat pria harus berhadapan dengan meja hijau atas tuduhan pencabulan, dan dua di antaranya diduga menargetkan korban dengan disabilitas intelektual. Salah satu tersangka, seorang pria berusia 77 tahun, dituduh mencabuli remaja perempuan berusia 16 tahun yang mengalami keterlambatan perkembangan global dan disabilitas intelektual berat. Peristiwa itu terjadi di sebuah jalur terlindung di Clementi pada 25 Oktober 2025, sekitar pukul 13.00 waktu setempat.
Menurut laporan kepolisian, dua orang saksi yang melihat kejadian tersebut segera melapor ke otoritas, dan tersangka ditangkap tidak lama kemudian. Kasus ini menjadi sorotan karena menyangkut kerentanan korban yang memiliki keterbatasan kognitif, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang pengawasan di ruang publik dan perlindungan bagi kelompok rentan.
Kasus kedua melibatkan pria berusia 41 tahun yang dituduh mencabuli rekannya, seorang perempuan berusia 21 tahun, di sebuah ruang pembuangan sampah dekat Old Choa Chu Kang Road pada 25 September 2025. Polisi menyatakan bahwa korban juga merupakan perempuan dengan disabilitas intelektual. Kedua kasus ini akan kembali disidangkan pada akhir September.
Sementara itu, dua kasus lainnya tidak terkait dengan disabilitas. Seorang pria berusia 28 tahun, M. Sanjeev, didakwa mencabuli seorang pengemudi ride-hailing perempuan berusia 36 tahun saat korban mengemudi di Central Expressway pada 14 Juni 2026, sekitar pukul 03.30. Polisi menduga Sanjeev dalam keadaan mabuk. Sidangnya ditunda hingga 29 September.
Kasus keempat melibatkan Koh Yeok Hwee, 54 tahun, yang dituduh mencabuli seorang perempuan berusia 31 tahun di Rumah Sakit Khoo Teck Puat, Yishun, pada 16 Juni 2026. Koh diperkirakan akan mengaku bersalah pada Oktober.
Kenaikan kasus ini sejalan dengan laporan kejahatan tengah tahun yang dirilis polisi pada 24 Agustus. Angka pencabulan meningkat 3,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Polisi mencatat bahwa sebagian besar insiden terjadi di tempat tinggal, transportasi umum, dan tempat hiburan. Hal ini mengindikasikan perlunya peningkatan keamanan di area-area tersebut, terutama bagi kelompok yang paling rentan.
Di Indonesia, kasus serupa juga menjadi perhatian serius. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menunjukkan ribuan kasus kekerasan seksual setiap tahunnya, dengan korban disabilitas sering kali menghadapi hambatan dalam mengakses keadilan. Meskipun Singapura memiliki sistem hukum yang tegas, kasus-kasus ini mengingatkan bahwa perlindungan terhadap penyandang disabilitas masih menjadi tantangan di kawasan Asia Tenggara.
Para ahli hukum menilai bahwa hukuman berat bagi pelaku pencabulan, terutama yang menargetkan kelompok rentan, penting untuk memberikan efek jera. Namun, upaya pencegahan melalui edukasi publik dan pengawasan lingkungan juga tidak kalah krusial. Masyarakat diharapkan lebih peka terhadap situasi yang mencurigakan dan berani melapor, seperti yang dilakukan dua saksi dalam kasus pertama.
Ke depannya, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah otoritas di Singapura dan negara-negara tetangga akan memperketat regulasi dan meningkatkan patroli di titik-titik rawan. Selain itu, bagaimana memastikan korban dengan disabilitas mendapatkan pendampingan dan akses hukum yang setara? Kasus-kasus ini menjadi ujian bagi komitmen negara dalam melindungi warganya yang paling rentan.



