AS dan Iran Kembali Saling Serang, Trump Ancam Balas 'Keras': Ketegangan Selat Hormuz Memanas
Baca dalam 60 detik
- Serangan balasan AS-Iran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas.
- Blokade Iran terhadap jalur minyak dunia berpotensi mengguncang pasar energi global dan ekonomi domestik.
- Tekanan ekonomi AS yang berkepanjangan justru berisiko memperdalam penderitaan rakyat Iran, bukan memaksa negosiasi.

Washington dan Teheran kembali terlibat baku tembak langsung untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan terakhir, memicu ancaman balasan keras dari Presiden AS Donald Trump. Eskalasi ini terjadi di tengah kebuntuan perang yang telah berlangsung enam bulan, dengan Iran tetap menutup Selat Hormuz dan AS mempertahankan blokade balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pada Minggu (30/8), militer AS melancarkan serangan ke pulau Larak di Selat Hormuz, yang diklaim sebagai upaya mencegah Iran menanam ranjau di jalur pelayaran krusial tersebut. Teheran merespons cepat dengan meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA). Meski demikian, Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru menyerukan dialog pada hari yang sama, menegaskan bahwa kelanjutan perang tidak menguntungkan kedua belah pihak maupun kawasan.
Trump, dalam pernyataan singkat kepada wartawan Fox News, menegaskan bahwa AS akan "menghantam mereka dengan keras" dan "akan ada respons". Gedung Putih juga menyatakan semua rudal yang ditembakkan ke pasukan AS berhasil dicegat, kecuali satu yang dinilai tidak mengancam. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim serangan rudal balistik mereka ke dua pangkalan udara AS di Yordania menyebabkan "kerusakan berat", klaim yang dibantah pihak AS.
Ketegangan ini terjadi setelah beberapa pekan relatif tenang, ketika pemerintahan Trump beralih ke "perang ekonomi" dengan menjatuhkan sanksi yang melumpuhkan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent berjanji untuk terus menekan ekonomi Iran, dan memperkirakan titik balik kampanye tekanan ini bisa terjadi "dalam hitungan minggu atau bulan". Namun, Iran juga menekan balik melalui blokade Selat Hormuz, yang telah mengganggu pasar global dan menaikkan harga minyak—sebuah isu sensitif bagi pemilih AS di tahun pemilihan paruh waktu.
Bagi Indonesia, eskalasi ini bukan sekadar konflik jauh di Timur Tengah. Selat Hormuz adalah jalur vital bagi pasokan minyak dunia, dan Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih sangat rentan terhadap gejolak harga. Setiap gangguan di selat tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi domestik, yang pada gilirannya memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dan menyiapkan langkah antisipasi, seperti diversifikasi sumber impor minyak dan penguatan cadangan energi nasional.
Analis dari Universitas Georgetown, Nader Hashemi, menilai baku tembak terbaru ini tampaknya hanya insiden satu kali, namun memperingatkan bahwa Iran bisa kembali meningkatkan ketegangan. "Saya pikir yang akan kita lihat adalah—ini hanya ketenangan sebelum badai," ujarnya. Hashemi juga meragukan efektivitas kampanye tekanan ekonomi AS, karena Teheran menganggap kontrol atas Selat Hormuz sebagai sumber daya tawar utama mereka. "Saya tidak melihat pihak Iran menyerah," katanya. "Bagi mereka, ini adalah pertanyaan eksistensial, kontrol atas Selat Hormuz."
Diplomasi untuk mengakhiri perang sejauh ini menemui jalan buntu. Gencatan senjata dan nota kesepahaman sebelumnya gagal. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa solusinya sederhana: AS harus kembali pada komitmennya dalam kesepakatan sebelumnya. Namun, dengan kedua belah pihak yang saling mengklaim kendali atas selat tersebut—AS mengaku telah membersihkan ranjau dan memiliki "kontrol total", sementara Iran bersikeras tetap menguasai jalur laut—jalan menuju de-eskalasi masih panjang. Pertanyaannya, akankah tekanan ekonomi yang berkepanjangan justru memicu ledakan sosial di dalam negeri Iran, atau malah memperkuat posisi garis keras di Teheran?



