Amazake: Minuman Fermentasi Jepang Kini Mendunia, dari Mesin Penjual Otomatis hingga Pasar Silicon Valley
Baca dalam 60 detik
- Amazake, minuman fermentasi beras khas Jepang, kini dikonsumsi sepanjang tahun, tidak hanya saat musim dingin, dengan penjualan mencapai ยฅ14,7 miliar pada 2025.
- Inovasi seperti mesin penjual otomatis di Kumagaya dan produk berbasis legenda lokal di Nagoya mendorong popularitasnya sebagai minuman kesehatan dan sarana revitalisasi daerah.
- Ekspor amazake ke Amerika Serikat, dengan varian rasa seperti wijen hitam dan jahe, menandai mulai diterimanya minuman ini di pasar global sebagai bagian dari budaya fermentasi Jepang.

Amazake, minuman fermentasi beras yang telah lama menjadi bagian dari tradisi Jepang, kini tidak lagi sekadar teman musim dingin. Di tengah gelombang tren hidup sehat global, minuman ini justru semakin populer dinikmati dingin saat musim panas, bahkan mulai merambah pasar internasional. Fenomena ini tidak hanya mengubah cara orang Jepang memandang minuman warisan leluhurnya, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi daerah-daerah di Jepang dan menjadi duta budaya kuliner negeri Sakura di kancah dunia.
Minuman yang terbuat dari fermentasi beras ini secara garis besar dibedakan menjadi dua jenis: yang menggunakan koji (jamur beras) dan yang berbasis ampas sake. Keduanya sama-sama memiliki penggemar, namun varian koji belakangan lebih menonjol karena bebas alkohol sehingga aman dikonsumsi anak-anak. Di kota Kumagaya, Prefektur Saitama, yang terkenal dengan suhu udaranya yang ekstrem, pemerintah setempat berkolaborasi dengan produsen amazake Marukome Co. untuk memasang mesin penjual otomatis khusus amazake di pusat layanan kesehatan anak. Mesin ini bahkan dilengkapi indeks amazake yang dihitung berdasarkan suhu dan kelembapan, memberikan rekomendasi apakah saat itu cocok untuk minum amazake sekaligus mengingatkan risiko heatstroke.
Langkah Kumagaya ini bukan sekadar upaya kreatif mengatasi cuaca panas. Seperti diungkapkan seorang pejabat pemerintah kota, kolaborasi ini adalah bagian dari strategi mempromosikan kota sebagai daerah paling siap menghadapi cuaca ekstrem di Jepang. Sementara itu, di Nagoya, agensi periklanan Togaru Inc. mengembangkan produk Oise Amazake yang terinspirasi legenda lokal dari zaman Edo. Menurut presiden Togaru, Noboru Kojima, legenda tersebut berkisah tentang warga desa yang menyembuhkan wabah dengan memberikan amazake yang dibuat dari air Sungai Oise. Produk ini dijual sebagai oleh-oleh khas dengan harga ยฅ880 per kantong 300 gram, menjadi contoh bagaimana minuman tradisional dapat menjadi medium pelestarian cerita rakyat sekaligus komoditas ekonomi.
Kebangkitan amazake sebenarnya sudah dimulai sejak dekade 2010-an, seiring melonjaknya popularitas koji sebagai bumbu fermentasi. Data riset pasar dari Intage Inc. menunjukkan penjualan amazake memuncak pada musim dingin dan panas, dengan total penjualan mencapai ยฅ14,7 miliar pada 2025. Hiroshi Fujii, yang menyebut dirinya peneliti amazake dan telah mencoba sekitar 600 varian, menegaskan bahwa minuman ini kini menjadi minuman pokok di Jepang. Fenomena ini juga didukung oleh platform digital seperti Amazake Hakko Press yang diluncurkan pada 2021, menghubungkan sekitar 70 produsen dan menawarkan layanan pembuatan amazake kustom untuk acara lokal, lengkap dengan label khusus.
Di luar Jepang, amazake mulai dilirik sebagai minuman kesehatan. Ferment Base Inc., perusahaan rintisan dari Universitas Utsunomiya, pada Januari lalu mengekspor amazake buatannya ke Amerika Serikat. Untuk menarik pasar asing, perusahaan ini mengurangi aroma khas koji dan menciptakan tekstur yang lebih halus dan ringan. Varian rasa seperti wijen hitam dan jahe dijual seharga US$8 per kantong di supermarket Silicon Valley. Presiden perusahaan, Mitsuyuki Hiramatsu, optimistis minuman ini akan diterima karena dianggap sehat, sekaligus menjadi sarana mempromosikan budaya fermentasi Jepang.
Bagi Indonesia, fenomena amazake ini menarik untuk dicermati. Sebagai negara dengan tradisi fermentasi yang kaya, seperti tempe dan tape, Indonesia sebenarnya memiliki potensi serupa untuk mengangkat minuman tradisionalnya ke panggung global. Keberhasilan Jepang dalam mengemas amazake sebagai minuman kesehatan modern, dengan inovasi rasa dan kemasan, bisa menjadi pelajaran berharga. Apakah Indonesia akan mampu melakukan hal serupa dengan minuman tradisionalnya? Atau justru akan ada kolaborasi antara produsen Indonesia dan Jepang untuk mengembangkan produk fermentasi baru? Pertanyaan ini layak menjadi bahan renungan bagi para pelaku industri makanan dan minuman di tanah air.



