IHSG Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Antisipasi Data Ekonomi
Baca dalam 60 detik
- IHSG dibuka menguat 0,19 persen ke level 6.538,12, ditopang harapan inflasi domestik yang terkendali.
- Pelaku pasar menanti rilis data inflasi, neraca dagang, dan PMI manufaktur Indonesia pekan ini untuk mengukur arah kebijakan moneter.
- Eskalasi konflik AS-Iran mendorong harga minyak naik lebih dari 2 persen, menambah kekhawatiran inflasi global dan potensi pengetatan The Fed.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Selasa pagi dengan penguatan tipis, meski pelaku pasar masih diselimuti kehati-hatian menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik dan global. Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini naik 12,64 poin atau 0,19 persen ke posisi 6.538,12, sementara Indeks LQ45 yang memuat 45 saham unggulan juga menguat 0,14 persen ke level 644,75. Pergerakan ini terjadi di tengah antisipasi investor terhadap data inflasi Indonesia dan berbagai indikator ekonomi dari kawasan Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pekan ini.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang konsolidasi 6.450 hingga 6.570 sepanjang hari ini. Menurutnya, pasar tengah menunggu konfirmasi data inflasi domestik yang diproyeksikan berbalik menjadi positif 0,2 persen secara bulanan pada Agustus 2026, setelah sebelumnya mencatat deflasi 0,14 persen pada Juli. Secara tahunan, inflasi diperkirakan naik ke 3,13 persen, lebih tinggi dari 2,88 persen pada bulan sebelumnya. Angka ini masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia, namun kenaikan inflasi inti yang diproyeksikan mencapai 2,8 persen akan menjadi sinyal penting bagi arah suku bunga acuan.
Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih mencatat defisit, meski menyempit menjadi 0,3 miliar dolar AS pada Juli dari 0,45 miliar dolar AS pada Juni. Pertumbuhan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor menjadi perhatian utama, sementara indeks PMI manufaktur diprediksi sedikit membaik ke level 50,5. Angka ini masih berada di zona ekspansi, memberikan sedikit angin segar bagi sektor industri dalam negeri.
Dari kancah global, perhatian tertuju pada eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Serangan AS terhadap dua peluncur roket Iran di Pulau Larak mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 2 persen pada perdagangan Senin. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan kembalinya tekanan inflasi global, yang dapat memaksa bank sentral AS, The Fed, untuk kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang. Sinyal hawkish dari The Fed semakin kuat setelah pejabatnya menegaskan fokus pada penurunan inflasi menuju target.
Pelaku pasar juga mencermati pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G20 yang berlangsung di Asheville, Carolina Utara, AS. Pertemuan ini diharapkan menghasilkan kesepakatan mengenai koordinasi kebijakan ekonomi global di tengah ketidakpastian yang meningkat. Sementara itu, rilis data non-farm payrolls (NFP) AS pada Jumat pekan ini akan menjadi penentu utama arah kebijakan moneter The Fed. Indeks ISM Manufacturing PMI AS yang diperkirakan turun tipis ke 55,2 juga akan menjadi perhatian.
Bursa saham regional Asia pagi ini kompak melemah, dengan indeks Nikkei turun 0,33 persen, Hang Seng melemah 1,22 persen, dan Kospi terkoreksi 0,52 persen. Pelemahan ini sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah serta ekspektasi pengetatan moneter global. Sementara itu, bursa Eropa dan Wall Street pada perdagangan Senin menunjukkan pergerakan bervariasi, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq melemah tipis.
Bagi investor Indonesia, kombinasi antara data domestik yang menunjukkan inflasi terkendali dan tekanan eksternal dari kenaikan harga minyak serta sikap hawkish The Fed menciptakan dilema. Di satu sisi, fundamental ekonomi dalam negeri masih cukup solid dengan PMI manufaktur yang ekspansif. Namun, di sisi lain, potensi capital outflow akibat kenaikan suku bunga AS menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan. Pertanyaannya, mampukah IHSG bertahan di zona hijau jika data NFP AS nanti menunjukkan kekuatan pasar tenaga kerja yang berlebihan?



