Kisah Ayah di China Tempuh 3.500 Km demi Antar Anak Kuliah, Bukti Cinta Tanpa Batas
Baca dalam 60 detik
- Keluarga asal Shandong menempuh perjalanan darat sejauh 3.500 km ke Xinjiang untuk mengantar putra mereka memulai kuliah kedokteran.
- Ayah sang mahasiswa rela menutup usaha rental mesinnya selama dua pekan demi momen bersejarah ini, dengan total biaya mencapai Rp30 juta.
- Perjalanan ini tidak hanya menghemat biaya dibanding naik pesawat, tetapi juga menjadi kenangan keluarga yang tak ternilai, termasuk kesempatan kakek bertemu saudaranya setelah puluhan tahun.

Seorang ayah di China membuktikan bahwa cinta orang tua tidak mengenal jarak. Demi mengantar putranya memulai perkuliahan di Fakultas Kedokteran, ia menempuh perjalanan darat sejauh 3.500 kilometer dari Provinsi Shandong hingga Xinjiang, sebuah perjalanan yang menyita perhatian publik dan menuai banyak pujian.
Keluarga tersebut berangkat dari Zaozhuang, Shandong, pada 20 Agustus lalu dan tiba di Kampus Kedokteran Kedua Xinjiang di Karamay empat hari kemudian. Enam anggota keluarga ikut serta dalam perjalanan ini, termasuk kakek yang berusia 80-an, kakak perempuan, dan suaminya. Sang ayah, yang hanya disebut dengan marga Geng, sengaja memilih mobil MPV tujuh penumpang agar seluruh keluarga bisa bersama-sama.
Yang membuat perjalanan ini semakin istimewa, Geng sempat mengecat kaca belakang mobilnya dengan tulisan, "Mengantar anak kuliah; dari Zaozhuang, Shandong ke Karamay, Xinjiang." Pesan itu ternyata menarik perhatian pengguna jalan lain. Banyak pengemudi yang merasa terharu dan memberikan dukungan moral, seperti yang diungkapkan Geng dalam unggahan media sosialnya.
Perjalanan ini bukan tanpa pengorbanan. Geng harus menangguhkan usaha rental mesinnya selama dua minggu. Namun, ia menegaskan bahwa mengantar anak kuliah jauh lebih penting daripada mengejar uang. "Ini adalah tonggak penting dalam hidup anak saya," ujarnya. Ia juga mengakui bahwa selama sepuluh tahun terakhir ia jarang bisa mengajak putranya bepergian karena kesibukan kerja, sehingga momen ini menjadi kesempatan berharga untuk mempererat hubungan keluarga.
Dari sisi biaya, perjalanan darat ini lebih hemat dibandingkan naik pesawat yang mencapai 18.000 yuan untuk enam penumpang, namun lebih mahal daripada kereta api yang hanya 10.800 yuan. Meski demikian, Geng menilai berkendara memberi fleksibilitas: bisa membawa banyak barang, berhenti kapan saja, dan yang terpenting, menciptakan kenangan yang tak terlupakan. "Perjalanan ini bukan sekadar transportasi, tapi bagian dari perayaan," katanya.
Sebelum tiba di Karamay, keluarga ini singgah lebih dulu di Urumqi, ibu kota Xinjiang. Ternyata ada misi khusus di balik singgah tersebut: sang kakek ingin bertemu adiknya yang sudah puluhan tahun tidak berjumpa. Kesulitan transportasi antara Shandong dan Xinjiang selama ini membuat mereka jarang bertemu. Momen ini menjadi salah satu bagian paling mengharukan dari perjalanan tersebut.
Kisah ini pun viral di media sosial China. Banyak warganet yang memuji kekompakan keluarga tersebut. "Bahagia sekali keluarga ini! Saya kagum dengan ikatan mereka yang kuat," tulis seorang pengguna. Yang lain menambahkan, "Saya yakin anak ini akan mengenang perjalanan ini seumur hidupnya."
Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini mengingatkan kita pada fenomena serupa yang kerap terjadi di tanah air, di mana orang tua rela menempuh perjalanan jauh demi mengantar anaknya ke perantauan untuk kuliah. Meski jaraknya tidak sejauh di China, semangat pengorbanan orang tua tetap sama. Di tengah kesibukan dan tuntutan ekonomi, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan keluarga adalah investasi emosional yang tak ternilai.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: apakah tradisi mengantar anak kuliah dengan perjalanan darat yang panjang akan semakin populer di kalangan keluarga Indonesia? Atau justru semakin ditinggalkan seiring kemudahan transportasi udara? Yang jelas, kisah keluarga Geng membuktikan bahwa jarak bukanlah halangan ketika ada niat dan cinta yang tulus.



