Eskalasi AS-Iran Guncang Bursa Tokyo: Nikkei Terjun 1%, Imbal Hasil Obligasi Jepang Sentuh Rekor 28 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei dibuka melemah 1% menyusul kekhawatiran konflik AS-Iran yang memicu aksi jual di Wall Street.
- Sektor energi dan baja justru menguat, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun menembus level tertinggi sejak 1996.
- Pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia, berpotensi terimbas gejolak ini melalui fluktuasi nilai tukar dan arus modal asing.

Bursa saham Tokyo memulai perdagangan Selasa pagi dengan nada bercampur, saat indeks acuan Nikkei terseret ke zona merah imbas kekhawatiran eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Sementara itu, sektor energi dan pertambangan justru mencatat penguatan, memberikan penopang bagi indeks Topix yang lebih luas.
Pada 15 menit pertama perdagangan, Nikkei Stock Average yang memuat 225 saham unggulan anjlok 664,68 poin atau 1,00 persen dibandingkan penutupan Senin, ke level 65.647,25. Sebaliknya, indeks Topix yang lebih mencerminkan keseluruhan pasar justru naik tipis 2,84 poin atau 0,07 persen ke posisi 4.159,13. Pergerakan yang kontras ini mengindikasikan investor tengah melakukan rotasi portofolio, beralih dari saham-saham teknologi dan manufaktur ke sektor yang dianggap lebih defensif atau diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas.
Di lantai bursa utama Tokyo, saham-saham produsen besi dan baja, serta emiten minyak dan batu bara menjadi pendorong utama kenaikan. Sebaliknya, saham logam non-ferrous dan produk logam justru menjadi pemberat terbesar. Pola ini lazim terlihat ketika ketegangan geopolitik meningkat: investor cenderung melirik sektor yang terkait langsung dengan pasokan energi, sambil melepas sektor yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi global.
Yang menarik perhatian pelaku pasar, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun sempat menyentuh level 2,965 persen, tertinggi sejak Oktober 1996 atau dalam hampir tiga dekade terakhir. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa Bank of Japan (BoJ) akan terus menormalisasi kebijakan moneternya, di tengah tekanan inflasi yang mulai terlihat. Namun, di sisi lain, imbal hasil yang tinggi juga dapat membebani valuasi saham, terutama sektor yang bergantung pada utang.
Di pasar valuta asing, dolar AS diperdagangkan di kisaran 159,75-76 yen pada pukul 09.00 waktu setempat, sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi 159,68-78 yen di New York dan 159,56-58 yen di Tokyo pada penutupan Senin sore. Sementara itu, euro berada di level $1,1618 dan 185,59-61 yen, nyaris stagnan. Penguatan dolar terhadap yen ini mencerminkan persepsi bahwa ekonomi AS masih lebih tangguh dibandingkan kawasan lain, meskipun ada ketidakpastian geopolitik.
Bagi pasar keuangan Indonesia, gejolak di Tokyo ini memberikan sinyal yang patut dicermati. Sebagai sesama negara Asia dengan keterbukaan ekonomi tinggi, Indonesia rentan terhadap pergeseran sentimen risiko global. Konflik AS-Iran yang memanas dapat mendorong harga minyak mentah naik, yang berimbas pada inflasi domestik dan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, aksi jual di pasar obligasi Jepang dapat memicu perpindahan dana ke aset berimbal hasil lebih tinggi, termasuk obligasi Indonesia, yang justru berpotensi menguntungkan.
Para analis menilai bahwa ketidakpastian geopolitik masih akan menjadi faktor dominan dalam pergerakan pasar dalam beberapa pekan ke depan. \"Investor cenderung mengambil posisi defensif, dan volatilitas akan tetap tinggi hingga ada kejelasan mengenai langkah AS dan Iran selanjutnya,\" ujar seorang analis pasar di Tokyo, yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan, juga akan menjadi katalis penting bagi arah pasar global.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah BoJ akan merespons kenaikan imbal hasil yang tajam ini dengan intervensi atau justru membiarkannya sebagai bagian dari normalisasi kebijakan. Keputusan tersebut akan berdampak luas, tidak hanya bagi pasar Jepang, tetapi juga bagi aliran modal di kawasan Asia. Bagi investor Indonesia, mencermati pergerakan yen dan imbal hasil JGB menjadi penting sebagai indikator awal sentimen risiko regional.



