Harga Minyak Menguat Lagi: Eskalasi AS-Iran Kembali Menghidupkan Risiko Gangguan Pasokan Global
Baca dalam 60 detik
- Konflik terbaru antara AS dan Iran memicu kekhawatiran baru akan gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk, mendorong harga Brent dan WTI naik pada awal pekan.
- Ancaman serangan balasan Iran dan penurunan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz memperkuat sentimen risiko di pasar komoditas.
- Analis memperkirakan harga minyak akan bertahan di atas US$80 per barel hingga 2026, dengan implikasi signifikan bagi negara importir seperti Indonesia.

Harga minyak mentah dunia kembali menanjak pada Selasa (1/9) setelah ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran memanas lagi. Eskalasi ini membangkitkan kembali kekhawatiran pasar akan terganggunya pasokan dari kawasan Teluk yang selama ini menjadi tulang punggung produksi minyak global. Brent tercatat naik 56 sen (0,6 persen) menjadi US$91,05 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 83 sen (1 persen) ke level US$86,59.
Lonjakan ini merupakan kelanjutan dari reli akhir pekan lalu, ketika Brent ditutup melonjak 2,7 persen dan WTI menguat 2,8 persen. Pemicunya adalah ancaman Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan lanjutan ke Iran, menyusul serangan langsung pertama antara kedua negara dalam sebulan terakhir pada Minggu. Konflik yang sebelumnya sempat bergeser ke arah perang ekonomi kini kembali ke jalur militer, membuka babak baru ketidakpastian di kawasan penghasil minyak terbesar dunia.
Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM, menilai bahwa aksi balasan Iran kini kembali menjadi faktor yang diperhitungkan pasar. "Ini meningkatkan prospek kerusakan infrastruktur energi di sekitar Teluk dan menambah ketidakpastian baru bagi pelayaran melalui Selat Hormuz. Kedua risiko tersebut tercermin dalam penguatan harga minyak mentah," ujarnya. Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan jumlah kapal komoditas yang terlihat melintasi Selat Hormuz turun drastis menjadi hanya lima per hari pada akhir pekan, jauh di bawah kapasitas normalnya.
Selat Hormuz, yang sebelum perang meletus akhir Februari mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia, kini menjadi titik paling rawan. Iran menutup jalur air tersebut setelah diserang AS dan Israel pada 28 Februari. Upaya mediasi yang melibatkan Qatar dan Oman untuk membuka kembali selat itu sejauh ini belum membuahkan hasil. Risiko nyata terlihat dari laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) yang menyebut sebuah kapal tanker terkena tiga proyektil saat keluar dari selat tersebut pada Selasa, meski tidak ada korban jiwa atau dampak lingkungan yang dilaporkan.
Di sisi lain, AS tengah berupaya mengamankan cadangan strategisnya. Trump mengumumkan kesepakatan dengan Venezuela untuk mengelola cadangan minyak negara itu, yang diharapkan dapat mengisi kembali Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS yang berada di level terendah dalam 44 tahun. Beberapa perusahaan energi besar seperti Chevron, GE Vernova, ONGC India, Eni Italia, dan GeoPark Kolombia dikabarkan akan segera menandatangani perjanjian final di Venezuela setelah negosiasi berbulan-bulan. Namun, stok SPR AS justru turun 3,1 juta barel pekan lalu menjadi 286,6 juta barel, menunjukkan tekanan pasokan yang masih berlanjut.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak ini membawa implikasi ganda. Sebagai negara pengimpor minyak netto, setiap kenaikan US$1 per barel berpotensi menambah beban subsidi energi dan defisit transaksi berjalan. Pemerintah perlu mencermati pergerakan harga ini, terutama karena RAPBN 2026 mengasumsikan harga minyak Indonesia (ICP) di kisaran US$70-75 per barel. Jika tren kenaikan berlanjut, ruang fiskal akan semakin sempit dan tekanan pada nilai tukar rupiah bisa meningkat.
Analis yang disurvei Reuters pada Agustus memperkirakan harga minyak akan tetap berada di atas US$80 per barel sepanjang 2026 selama gangguan pelayaran masih berlanjut. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah eskalasi ini akan berujung pada konflik terbuka yang lebih luas, atau justru mendorong kedua belah pihak kembali ke meja perundingan. Bagi pasar, jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan โ dan bagi Indonesia, menentukan seberapa besar tekanan yang harus ditanggung APBN.



