LIV Golf di Ambang Kebangkrutan: Liga Pecahan yang Menantang PGA Kini Terpuruk
Baca dalam 60 detik
- LIV Golf dikabarkan akan mengajukan kebangkrutan pada pekan pertama September, menyusul pemutusan hubungan kerja massal dan kesulitan pendanaan.
- Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF) yang telah mengucurkan lebih dari US$5 miliar sejak 2022, kini enggan menambah suntikan dana dan hanya menyiapkan pinjaman darurat kecil.
- Kebangkrutan ini berpotensi mengubah peta persaingan golf global, sekaligus menjadi pelajaran bagi industri olahraga yang bergantung pada pendanaan eksternal.

Liga golf profesional LIV Golf dikabarkan akan segera mengajukan perlindungan kebangkrutan pada pekan pertama September, menurut laporan Financial Times yang mengutip sumber yang mengetahui negosiasi internal. Langkah ini menjadi titik nadir bagi kompetisi yang dua tahun lalu hadir sebagai pesaing sengit PGA Tour dengan daya tarik hadiah fantastis.
Kabar ini muncul hanya beberapa hari setelah LIV Golf mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap mayoritas karyawannya. Keputusan tersebut diambil di tengah upaya liga mencari pendanaan baru untuk fase berikutnya, sementara dukungan finansial dari Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF) disebut akan segera berakhir. PIF sendiri telah menggelontorkan lebih dari US$5 miliar sejak LIV Golf diluncurkan pada 2022, namun pada April lalu mereka menyatakan akan menghentikan pendanaan setelah musim 2026.
Menurut laporan tersebut, LIV Golf telah mengirimkan tawaran penyelesaian kepada para pemain yang masih memiliki kontrak jaminan pembayaran hingga setelah 2026. Nilai tawaran awal disebut hanya beberapa sen untuk setiap dolar yang seharusnya mereka terima. Hal ini menunjukkan betapa parahnya kondisi keuangan liga, yang selama ini dikenal dengan pembayaran kontrak super besar untuk menarik bintang-bintang golf dunia.
Jika kebangkrutan benar-benar terjadi, proses hukum kemungkinan akan diajukan di pengadilan distrik federal New Jersey. PIF diperkirakan akan memberikan pinjaman darurat kebangkrutan senilai kurang dari US$100 juta, tetapi tanpa komitmen pendanaan tambahan. Ini menjadi sinyal bahwa investor utama tidak lagi bersedia menopang operasional liga yang terus merugi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Meski LIV Golf tidak memiliki turnamen di Indonesia, kehadirannya sempat mengguncang ekosistem golf global, termasuk Asia Tenggara. Beberapa pegolf Asia, termasuk dari Thailand dan Malaysia, sempat bergabung dengan LIV Golf karena iming-iming hadiah besar. Jika LIV Golf bangkrut, para pemain ini harus mencari jalur karier baru, dan hal itu bisa berdampak pada kompetisi golf regional.
Analis olahraga menilai bahwa kebangkrutan LIV Golf akan menjadi pelajaran berharga tentang bahaya model bisnis yang terlalu bergantung pada satu sumber pendanaan. "Ini menunjukkan bahwa uang besar tidak selalu menjamin keberlanjutan. Liga ini gagal membangun ekosistem yang mandiri, seperti sponsor, hak siar, dan pendapatan komersial lainnya," ujar seorang pengamat olahraga yang enggan disebut namanya.
Di sisi lain, kebangkrutan LIV Golf justru bisa menjadi angin segar bagi PGA Tour yang selama ini tertekan oleh persaingan. Dengan hilangnya LIV Golf, PGA Tour dapat kembali menjadi tujuan utama para pegolf top dunia. Namun, pertanyaannya, apakah para pemain yang telah menandatangani kontrak dengan LIV Golf akan kembali ke PGA Tour atau justru memilih pensiun?
Ke depan, nasib LIV Golf akan menjadi ujian bagi model bisnis liga olahraga yang dibangun di atas dana negara. Apakah akan ada investor baru yang bersedia mengambil alih? Atau apakah ini akhir dari percobaan berani yang mengguncang tatanan golf dunia? Yang jelas, dunia olahraga akan terus mengawasi perkembangan ini dengan penuh kehati-hatian.



