Djokovic Tersingkir di Babak Pertama US Open, Kalah dari Petenis Peringkat 68
Baca dalam 60 detik
- Novak Djokovic menelan kekalahan mengejutkan dari Mariano Navone di babak pembuka US Open, mengakhiri ambisinya meraih gelar ke-25 Grand Slam.
- Kekalahan ini menjadi kegagalan tercepat Djokovic di turnamen tersebut, memunculkan tanda tanya besar tentang performa dan kebugarannya di usia 39 tahun.
- Kekalahan ini membuka peluang bagi petenis muda dan mengubah peta persaingan tenis putra, dengan implikasi bagi persaingan menuju Australia Terbuka.

NEW YORK โ Ambisi Novak Djokovic untuk mengamankan gelar kelima di Flushing Meadows dan rekor Grand Slam ke-25 kandas sudah di rintangan pertama. Unggulan utama itu dipaksa menyerah 7-6(5), 5-7, 4-6, 6-2, 6-1 dari Mariano Navone, petenis Argentina peringkat 68 dunia, dalam laga yang berlangsung hampir empat jam di Arthur Ashe Stadium, Minggu (30/8) waktu setempat.
Kekalahan ini bukan sekadar hasil mengecewakan, melainkan sebuah kejutan besar yang mengguncang jagat tenis. Djokovic, yang lahir di Belgrade dan kini berusia 39 tahun, tampak kehilangan ritme sejak awal. Ia melakukan 14 kesalahan ganda dan hanya mengonversi 4 dari 15 peluang break point. Navone, yang sebelumnya belum pernah menembus babak kedua turnamen mayor, justru tampil berani dengan agresivitas dari baseline.
Ini merupakan kekalahan tercepat Djokovic di US Open sepanjang kariernya. Sebelumnya, rekor terburuknya adalah tersingkir di babak kedua pada 2005 dan 2006. Lebih dari itu, ini adalah pertama kalinya sejak 2017 ia gagal melaju ke pekan kedua di turnamen Grand Slam mana pun. Musim ini, ia memang belum memenangkan satu pun gelar mayor, dengan penampilan terbaiknya hanya semifinal di Australia Terbuka.
Kekalahan ini memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan Djokovic. Beberapa analis menilai bahwa usia dan jadwal padat mulai berdampak pada konsistensinya. Namun, yang lebih menonjol adalah kebangkitan generasi baru. Navone, yang lahir pada 2001, adalah bagian dari gelombang petenis muda yang semakin berani menantang dominasi para veteran. Sebelumnya, Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner telah menunjukkan bahwa takhta Djokovic bisa digoyahkan.
Bagi Indonesia, kekalahan ini menjadi pengingat bahwa tenis adalah olahraga yang sangat kompetitif dan tidak ada jaminan kemenangan bagi favorit. Meski popularitas tenis di Indonesia tidak sebesar bulu tangkis, ajang seperti US Open tetap menarik perhatian penggemar yang mengikuti perkembangan para bintang dunia. Kegagalan Djokovic juga bisa menjadi pelajaran bagi petenis muda Indonesia tentang pentingnya konsistensi dan adaptasi terhadap lawan yang tidak diunggulkan.
Menurut pengamat tenis, kekalahan ini bisa menjadi titik balik bagi Djokovic untuk mengevaluasi strategi dan kebugarannya. Ia mungkin akan memangkas jadwal turnamen untuk fokus pada ajang yang lebih penting, seperti Australia Terbuka tahun depan. Namun, dengan persaingan yang semakin ketat, jalan menuju gelar ke-25 akan semakin terjal.
Navone, di sisi lain, akan menghadapi lawan yang lebih tangguh di babak berikutnya. Kemenangan ini tentu menjadi modal berharga baginya untuk percaya diri. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan performa ini? Atau akankah ini menjadi kejutan sesaat? Yang jelas, dunia tenis putra kini semakin tidak terduga, dan Djokovic harus segera menemukan cara untuk bangkit jika ingin menambah koleksi trofinya.



