Ridley Scott: Sketsa di Atas Kertas Tetap Jadi Fondasi Setiap Filmnya
Baca dalam 60 detik
- Sutradara legendaris Ridley Scott masih setia pada metode analog: menggambar sketsa film di atas kertas sebelum produksi, sebuah warisan dari pendidikan seninya.
- Film terbarunya, The Dog Stars, menjadi pengecualian langka karena naskahnya datang tanpa pengembangan sebelumnya, menunjukkan kepercayaan dirinya pada insting.
- Dengan proyek Treasure Island yang akan syuting November ini, Scott membuktikan bahwa pendekatan tradisionalnya tetap relevan di tengah industri yang didominasi teknologi digital.

Pada usia 88 tahun, Ridley Scott tetap memegang teguh ritual yang membentuk kariernya selama lebih dari lima dekade: menggambar sketsa di atas kertas sebelum setiap filmnya digarap. Sang sutradara di balik mahakarya seperti Blade Runner, Alien, dan Gladiator ini mengungkapkan bahwa kebiasaan tersebut adalah warisan langsung dari masa pendidikannya di sekolah seni, sebuah fondasi yang menurutnya menjadi 'waktu paling berguna' dalam hidupnya.
Scott, yang pernah menimba ilmu desain dan lukis di West Hartlepool College of Art serta desain grafis di Royal College of Art (RCA) Inggris, menegaskan bahwa pendekatan visualnya tidak pernah berubah. "Saya memfilmkan dalam kepala saya, tetapi kemudian semuanya dituangkan ke atas kertas," ujarnya kepada People. "Pendidikan seni adalah aset terbesar saya; saya memanfaatkan semua yang saya pelajari di sana hingga hari ini."
Metode ini menjadi pembeda di tengah industri film yang semakin bergantung pada teknologi digital dan efek visual canggih. Scott justru memilih jalur analog yang menuntut kejelasan visi sejak awal. "Saya pengambil keputusan yang sangat cepat. Yang terpenting, saya selalu datang ke lokasi syuting dengan pengetahuan persis tentang apa yang akan saya lakukan," tegasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa baginya, sketsa bukan sekadar gambar, melainkan peta jalan yang memandu seluruh proses kreatif.
Namun, ada satu pengecualian dalam kariernya: The Dog Stars. Film adaptasi novel pasca-apokaliptik karya Peter Heller ini menjadi proyek langka yang naskahnya tiba-tiba mampir di meja Scott tanpa melalui proses pengembangan panjang yang biasa ia lakukan. "Sangat jarang ada naskah yang mendarat di mejaku. Biasanya saya mengembangkan sendiri sebagian besar proyek. Sesekali, ada satu yang datang," katanya. Ketertarikan instan pada cerita tentang pilot muda Hig (diperankan Jacob Elordi) yang bertahan hidup setelah pandemi menghancurkan peradaban, bersama Josh Brolin sebagai survivalis militer dan Margaret Qualley sebagai Cima, menunjukkan bahwa naluri Scott tetap tajam.
Perjalanan Scott menuju dunia perfilman memang tidak lazim. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal di sekolah film. Setelah meninggalkan RCA pada 1961, ia justru berkarier di dunia periklanan, yang ia sebut sebagai "sekolah film saya". Selama bertahun-tahun, ia mengarahkan sekitar 2.000 iklan, termasuk iklan legendaris Apple Macintosh tahun 1984. Pengalaman ini mengasah kemampuannya dalam bercerita melalui gambar, pengambilan keputusan cepat, serta pemahaman mendalam tentang editing, pencahayaan, dan castingโketerampilan yang kemudian ia bawa ke film-film seperti Alien dan Blade Runner.
Bagi sineas Indonesia, pendekatan Scott menawarkan pelajaran berharga tentang pentingnya fondasi visual yang kuat. Di tengah gempuran teknologi digital yang memungkinkan segala sesuatu dikerjakan di layar komputer, metode sketsa manual justru memaksa pembuat film untuk mematangkan konsep sebelum eksekusi. Ini sejalan dengan semangat banyak sineas muda Tanah Air yang mulai kembali menghargai proses storyboard dan pre-visualisasi sebagai cara untuk menghemat biaya produksi dan memastikan visi artistik tetap terjaga.
Scott sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Proyek berikutnya, Treasure Island, adaptasi novel klasik Robert Louis Stevenson, juga sedang digarap di atas kertas. Dengan Hugh Jackman yang siap memerankan Long John Silver, produksi dijadwalkan dimulai 1 November mendatang, meski tanggal rilis belum diumumkan. "Begitu saya tahu apa yang ingin saya lakukan, saya mulai menggambar," ujar Scott, menegaskan bahwa di usianya yang ke-88, ia tetap setia pada prinsip yang sama seperti saat memulai karier.
Pertanyaannya kini: apakah metode tradisional Scott akan terus menjadi standar emas di industri yang semakin digital, atau justru menjadi pengecualian yang semakin langka? Yang jelas, dedikasinya pada seni sketsa membuktikan bahwa fondasi kreatif yang kuat tidak lekang oleh waktu.



