Banjir Fukui Hancurkan Ribuan Meter Persegi Lahan Pertanian, Petani Jepang Cemas Gagal Panen
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras di Prefektur Fukui, Jepang, merendam 20 rumah kaca dan mesin panen senilai ยฅ5 juta, mengancam pasokan sayuran musim gugur.
- Bencana ini terjadi hanya tiga hari setelah hujan bersejarah melanda Ishikawa dan Toyama, menunjukkan pola cuaca ekstrem yang semakin sering di kawasan Hokuriku.
- Dengan lebih dari 100 pusat evakuasi dibuka dan 592 warga mengungsi, dampak ekonomi dan sosial mulai terasa, memicu kekhawatiran akan kenaikan harga pangan di Jepang.

Banjir bandang yang dipicu hujan deras pada 30 Agustus melumpuhkan sebagian besar Prefektur Fukui, Jepang tengah, dan memporak-porandakan lahan pertanian yang tengah bersiap menyambut musim panen. Air berlumpur merendam jalan dan ladang, meninggalkan petani setempat dalam keputusasaan karena hasil panen mereka terancam gagal.
Hujan yang mengguyur selama berjam-jam ini terjadi hanya tiga hari setelah hujan garis (linear rainbands) memicu curah hujan rekor di prefektur tetangga, Ishikawa dan Toyama. Kejadian beruntun ini menggarisbawahi kerentanan kawasan Hokuriku terhadap fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, sebuah pola yang juga diamati di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Toru Taya, presiden perusahaan pertanian Noen Taya di distrik Takayacho, Kota Fukui, tak kuasa menyembunyikan kekecewaannya. "Ini mungkin akan berdampak besar pada pengiriman. Saya tidak menyangka akan separah ini," ujarnya. Lahan seluas sekitar 8.000 meter persegi yang menaungi 20 rumah kaca plastik untuk berbagai sayuran, termasuk tomat dan sayuran hijau bayi, terendam total. Mesin pemanen yang diperkirakan bernilai sekitar 5 juta yen (sekitar Rp550 juta) juga ikut terendam. "Jika mesin ini tidak bisa digunakan lagi, kami harus memanen secara manual. Ini pukulan telak," keluhnya.
Distrik Tokumitsucho yang dikenal dengan lanskap pastoralnya juga tak luput dari amukan air bercampur sedimen. Tamami Aoki (54), pengusaha pengolahan makanan di distrik tersebut, mengaku prihatin. "Seorang teman petani menghubungi saya dan berkata, 'Tidak ada yang bisa saya lakukan.' Saya benar-benar merasa kasihan pada mereka," tuturnya. Sementara itu, di Kota Sakai yang mengeluarkan perintah evakuasi, banyak wilayah terendam, mengubah kawasan perkotaan menjadi cokelat berlumpur. Hiroko Kimoto (86), warga Muromachi Shopping Street, terpaksa membersihkan rumahnya yang kemasukan air bersama putra sulungnya. "Ini pertama kalinya saya mengalami banjir seperti ini. Kota ini banyak dihuni lansia, jadi saya khawatir bagaimana kami akan membersihkan semua ini," katanya.
Dampak banjir tidak hanya terasa di sektor pertanian. Bandara Fukui di Sakai, yang melayani pesawat kecil dan helikopter, juga melaporkan sebagian landasan pacu dan apron terendam, sehingga penerbangan helikopter non-darurat dihentikan sementara. Otoritas setempat mengonfirmasi seorang perempuan mengalami patah tulang, namun tidak ada korban jiwa. Pemerintah Prefektur Fukui mencatat lebih dari 100 pusat evakuasi sempat dibuka, dengan 592 orang mengungsi pada puncaknya.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya ketahanan pangan dan infrastruktur pertanian dalam menghadapi cuaca ekstrem. Jepang, yang dikenal dengan teknologi pertaniannya yang maju, pun tak luput dari amukan alam. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada negara yang kebal terhadap dampak perubahan iklim. Para ahli memperkirakan kejadian seperti ini akan semakin sering terjadi, menuntut adaptasi dan investasi besar-besaran dalam sistem drainase, rumah kaca yang lebih tahan banting, serta asuransi pertanian yang lebih komprehensif.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana pemerintah Jepang akan merespons kebutuhan petani yang terdampak, dan apakah langkah-langkah pemulihan akan cukup cepat untuk menyelamatkan musim panen yang tinggal beberapa pekan lagi. Sementara itu, petani seperti Toru Taya harus merogoh kocek lebih dalam untuk memperbaiki fasilitas yang rusak, atau menghadapi kenyataan pahit kehilangan pendapatan tahun ini.



