Guru Australia yang Diserang Hiu Besar: 'Saya Memukulnya Sampai Lepas'
Baca dalam 60 detik
- Seorang guru sekolah dasar di Sydney selamat dari serangan hiu putih besar dengan memukul moncongnya, meski kehilangan sebagian lengan kiri.
- Serangan di Coogee Beach ini menambah daftar panjang insiden hiu di Australia, yang dikaitkan dengan perubahan pola migrasi akibat suhu laut.
- Para ilmuwan memperingatkan bahwa pemanasan laut dapat meningkatkan frekuensi pertemuan manusia-hiu di kawasan Asia-Pasifik, termasuk perairan Indonesia.

Seorang guru sekolah dasar di Sydney, Australia, selamat dari serangan hiu putih besar dengan cara memukul moncong predator itu berulang kali, meskipun harus kehilangan sebagian lengan kirinya. Leah Stewart, 35 tahun, menuturkan pengalaman dramatisnya dalam wawancara dengan program 60 Minutes yang tayang akhir pekan lalu, mengungkap detail pertarungan hidup-matinya di perairan Coogee Beach pada 13 Juni lalu.
Stewart yang sedang berenang sendirian di laut yang tampak jernih itu awalnya mengira sirip besar yang terlihat di dekatnya adalah lumba-lumba. Namun, saat menyadari itu adalah hiu raksasa, ia dan seorang gadis di dekatnya berteriak sekencang-kencangnya. "Wajahnya mengerikan. Saya tidak akan pernah melupakan wajahnya, matanya hitam kecil seperti manik-manik. Kami saling berhadapan," kenangnya.
Dalam hitungan detik, Stewart harus membuat keputusan cepat: lengan mana yang rela ia korbankan. "Saya berpikir, 'saya tidak mau kehilangan wajah saya', jadi saya memutuskan untuk memukul dengan tangan kiri," ujarnya. Pukulan pertama justru membuat hiu itu mencengkeram lengannya dan merobek kulit serta ototnya. Namun, naluri bertahan hidupnya memuncak ketika hiu menariknya ke bawah air. "Saya memukulnya berulang kali, seperti memukul tembok bata. Saya rasa saya berhasil mendaratkan pukulan yang bagus, dan akhirnya ia melepaskan saya," tambahnya.
Stewart mengaku satu-satunya yang membuatnya bertahan adalah putrinya yang masih kecil, August. "Saya berpikir, saya harus selamat untuk anak saya," katanya. Ia kemudian ditolong oleh Charlie Verco, seorang atlet paddleboard elit yang kebetulan berada di dekatnya, dan dilarikan ke rumah sakit. Dokter menempatkannya dalam koma induksi dan mengamputasi sebagian lengan kirinya. Sepuluh hari kemudian, ia sadar dan mulai pulih.
Insiden ini menambah rentetan serangan hiu di Australia yang memprihatinkan. Sebelumnya, seorang bocah 12 tahun tewas digigit hiu di Sydney Harbour pada Januari, dan tiga penyelam tewas dalam insiden terpisah antara Mei dan Juni di Australia Barat dan Queensland. Data menunjukkan hampir 1.300 insiden hiu terjadi di Australia sejak 1791, dengan lebih dari 260 korban meninggal.
Para ilmuwan Australia menilai pemanasan laut telah menggeser pola migrasi hiu, yang mungkin berkontribusi pada peningkatan frekuensi serangan. Fenomena ini tidak hanya mengancam Australia, tetapi juga wilayah Asia-Pasifik, termasuk Indonesia yang memiliki garis pantai panjang dan keanekaragaman hayati laut tinggi. Meski serangan hiu di Indonesia relatif jarang, perubahan suhu laut dapat memengaruhi distribusi spesies hiu dan meningkatkan potensi interaksi dengan nelayan atau wisatawan.
Bagi Indonesia, pelajaran dari insiden ini adalah pentingnya kesiapsiagaan dan edukasi publik tentang keselamatan di laut. Pemerintah daerah dan pengelola wisata bahari perlu memperkuat sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi, terutama di kawasan yang menjadi habitat hiu. Selain itu, penelitian tentang pola migrasi hiu di perairan Indonesia perlu didorong untuk memahami risiko yang mungkin muncul.
Kisah Stewart menjadi pengingat bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan alam, termasuk predator puncak seperti hiu. Ke depannya, akankah Indonesia mengadopsi langkah serupa untuk memantau pergerakan hiu dan melindungi warganya? Pertanyaan ini layak menjadi bahan diskusi bagi para pemangku kebijakan kelautan di tanah air.



