Trump Klaim Perusahaan Kanada Berbondong Pindah ke AS, Perang Dagang Makin Memanas
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump menyatakan perusahaan Kanada mulai memindahkan operasinya ke AS di tengah eskalasi perang tarif, dengan janji bebas bea masuk bagi yang merelokasi.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi Trump untuk menekan defisit dagang yang mencapai 60 miliar dolar AS, tetapi memicu respons keras dari Ottawa yang menyiapkan tarif balasan.
- Jika tren relokasi ini berlanjut, rantai pasok kendaraan dan baja di kawasan Amerika Utara akan berubah drastis, berpotensi mempengaruhi pasar global termasuk Indonesia.

Washington, D.C. โ Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memanaskan tensi perdagangan dengan Kanada dengan mengklaim bahwa sejumlah perusahaan Kanada mulai memindahkan kegiatan usahanya ke AS. Dalam unggahan di platform Truth Social, Minggu (30/8), Trump menyebut bahwa perusahaan-perusahaan dari negara tetangganya itu "berbondong-bondong" masuk ke AS, seraya menegaskan bahwa Washington ingin memproduksi sendiri kebutuhan otomotifnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah kebijakan tarif AS yang semakin agresif. Sejak 22 Agustus, AS telah memberlakukan bea masuk 50 persen untuk barang-barang Kanada senilai 20 miliar dolar AS. Trump juga mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif serupa pada seluruh mobil, truk, dan baja asal Kanada mulai 1 Januari 2027. Dengan kebijakan ini, Trump berharap dapat menekan defisit perdagangan yang mencapai lebih dari 60 miliar dolar AS, sekaligus mendorong produsen untuk memindahkan pabriknya ke AS.
Di sisi lain, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menolak keras pendekatan tersebut. Carney menyebut tarif baru AS sebagai "salah perhitungan" dan upaya untuk "menyakiti dan memecah belah" Kanada. Ottawa bahkan siap memberlakukan tarif balasan terhadap impor AS senilai 20 miliar dolar AS mulai 8 September. Eskalasi ini menandai babak baru dalam hubungan dagang dua negara yang selama ini menjadi mitra utama.
Bagi Indonesia, konflik dagang AS-Kanada ini membawa sinyal penting. Sebagai negara yang juga aktif dalam perdagangan global, Indonesia perlu mencermati bagaimana kebijakan proteksionisme AS dapat mempengaruhi rantai pasok dunia. Beberapa pengamat memperkirakan bahwa perang tarif ini bisa menggeser arus investasi dan perdagangan ke negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang menawarkan biaya produksi lebih rendah. Namun, risiko terbesar adalah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang dapat menekan harga komoditas dan memperlambat pertumbuhan ekspor nasional.
Trump sendiri terus mendesak produsen untuk memindahkan operasi mereka ke AS dengan iming-iming "tarif nol". Ia bahkan menyerukan agar semua perusahaan Kanada yang berbisnis dengan AS segera pindah. Namun, klaim tentang gelombang relokasi ini belum didukung data konkret. Belum jelas perusahaan mana yang sudah berkomitmen pindah atau berapa besar investasi yang akan mengalir. Para analis menilai bahwa pernyataan Trump lebih merupakan tekanan politik untuk memenangkan negosiasi, bukan gambaran realitas di lapangan.
Di tengah ketegangan ini, Mark Carney menegaskan bahwa Kanada "sedang berperang" dalam hal perdagangan. Sikapnya yang tegas menunjukkan bahwa Ottawa tidak akan tinggal diam. Pertanyaannya, apakah perang tarif ini akan berujung pada kesepakatan baru yang saling menguntungkan, atau justru memicu fragmentasi ekonomi yang lebih luas? Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada pasar tunggal bisa menjadi risiko besar. Diversifikasi mitra dagang dan penguatan industri domestik menjadi langkah yang semakin mendesak untuk diambil.



