Tian Tian Hainan Chicken Rice Buka Gerai Flagship di Jewel Changi, Hadirkan Kari Ayam Rahasia Keluarga
Baca dalam 60 detik
- Restoran legendaris Singapura, Tian Tian Hainan Chicken Rice, resmi membuka gerai flagship di Jewel Changi Airport pada 22 Agustus, menambah jumlah outletnya menjadi enam.
- Gerai baru ini memperkenalkan menu eksklusif, termasuk Kari Ayam Kukus Madam Foo, resep turun-temurun pendiri yang sebelumnya hanya dinikmati keluarga.
- Ekspansi ini menjawab keterbatasan kapasitas outlet Maxwell yang kerap kehabisan stok, sekaligus menyasar wisatawan yang ingin mencicipi hidangan ikonik sebelum terbang.

Restoran ayam hainan paling populer di Singapura, Tian Tian Hainan Chicken Rice, akhirnya melebarkan sayap ke kawasan bandara. Gerai flagship yang berlokasi di lantai dasar Jewel Changi Airport resmi beroperasi penuh pada 22 Agustus, menjawab keluhan pelancong yang kerap kehabisan menu andalan di outlet asal mereka, Maxwell Food Centre.
Keputusan ekspansi ini bukan tanpa alasan. Loi Mui Yin, putri pendiri sekaligus pengelola restoran, mengungkapkan bahwa outlet Maxwell yang legendaris itu seringkali tidak mampu menampung lonjakan pengunjung, terutama wisatawan asing yang hanya singgah sebentar. "Selama bertahun-tahun kami ingin menjual lebih banyak atau buka lebih lama, tapi terkendala tenaga kerja," ujarnya. Dengan tambahan tim yang kini lebih solid, tawaran membuka cabang di Jewel datang pada saat yang tepat.
Yang menarik, gerai baru ini tidak hanya menyajikan menu andalan, tetapi juga memperkenalkan hidangan eksklusif yang belum pernah dijual sebelumnya. Salah satu primadonanya adalah Madam Foo's Steamed Chicken Curry, kari ayam kukus yang merupakan resep rahasia Foo Kui Lian, pendiri yang akrab disapa Madam Foo. Hidangan ini sebelumnya hanya dinikmati keluarga dan kerabat dekat, kini tersedia untuk publik dengan pilihan pendamping nasi, roti, atau mi.
Loi menceritakan bahwa untuk membawa resep ibunya ke menu restoran, tim dapur harus melalui proses panjang. "Koki kami mencoba setidaknya sepuluh kali sebelum resep itu disetujui ibu. Kontrol kualitasnya sangat ketat," katanya. Bahkan, untuk saus cabai khas mereka, Madam Foo bersikeras agar Loi sendiri yang membuatnya di dapur pusat, demi menjaga keaslian dan kerahasiaan resep keluarga.
Fenomena Tian Tian bukan sekadar soal kuliner, tetapi juga cerminan bagaimana warisan kuliner Asia Tenggara beradaptasi dengan kebutuhan modern. Bagi Indonesia, kisah ini relevan mengingat banyaknya warung makan legendaris di Tanah Air yang menghadapi tantangan serupa: bagaimana mempertahankan cita rasa otentik sambil menjangkau pasar yang lebih luas. Ekspansi Tian Tian menunjukkan bahwa dengan manajemen yang tepat dan inovasi menu tanpa mengorbankan tradisi, sebuah usaha keluarga bisa tetap relevan di tengah persaingan kuliner global.
Loi juga menekankan pentingnya umpan balik pelanggan. "Ibu selalu mendengarkan keluhan, misalnya soal rasa asin saus. Dia sangat serius menanggapi masukan," tuturnya. Meski tidak mungkin memuaskan semua orang, kebahagiaan terbesar Madam Foo adalah melihat pelanggan setia yang kembali, bahkan hingga tiga generasi. Di gerai Jewel, pengunjung mungkin beruntung bisa melihat langsung sang pendiri yang sesekali datang. "Setiap saya tanya mau makan apa, jawabannya selalu ayam hainan," kata Loi sambil tersenyum.
Dengan pembukaan gerai di bandara, Tian Tian tidak hanya mempermudah wisatawan untuk menikmati hidangan ikonik Singapura, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai duta kuliner negeri tersebut. Pertanyaannya, apakah langkah berani ini akan diikuti oleh warung-warung legendaris lainnya di kawasan ini untuk go global tanpa kehilangan jati diri?



