Erupsi Sinabung Kembali Lumpuhkan Berastagi: Sekolah Wajib Masker, TNI Turun ke Jalan
Baca dalam 60 detik
- Letusan Sinabung pada Senin pagi menyemburkan kolom abu setinggi 3.500 meter, menyelimuti Berastagi dan menurunkan kualitas udara.
- Dinas Pendidikan Sumatera Utara menginstruksikan seluruh jenjang sekolah di Karo menggunakan masker, dengan TNI membagikan alat pelindung gratis di jalanan.
- Aktivitas vulkanik yang fluktuatif menuntut kesiapsiagaan berkelanjutan bagi warga dan pelaku usaha di sekitar kaki gunung.

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali meletus pada Senin (31/8) sekitar pukul 10.17 WIB, memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi 3.500 meter yang langsung menyelimuti Kota Berastagi dan sekitarnya. Hujan abu tipis hingga pekat melapisi jalan raya, atap rumah, dan badan kendaraan, memaksa warga serta pengguna jalan untuk ekstra waspada terhadap dampak kesehatan yang ditimbulkan partikel halus tersebut.
Menanggapi situasi ini, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara bergerak cepat dengan menerbitkan imbauan resmi bagi seluruh satuan pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA/SMK, agar mewajibkan penggunaan masker bagi siswa dan guru saat beraktivitas di luar ruangan. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV, Zulkarnain Barus, menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan warga sekolah menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik gunung yang berstatus waspada tersebut.
Langkah antisipatif ini bukan tanpa alasan. Abu vulkanik mengandung silika dan partikel kasar yang dapat mengiritasi saluran pernapasan, memicu batuk, sesak napas, hingga gangguan pernapasan akut bagi mereka yang rentan, seperti anak-anak dan lansia. Selain masker, Zulkarnain juga mengimbau pihak sekolah untuk meningkatkan kebersihan lingkungan dan memantau terus informasi resmi dari pusat vulkanologi dan petugas lapangan, agar aktivitas belajar-mengajar dapat tetap berjalan tanpa mengorbankan aspek keselamatan.
Di tengah kekhawatiran tersebut, personel TNI tampak turun ke jalan-jalan utama Berastagi untuk membagikan masker secara gratis kepada pengendara dan pejalan kaki. Aksi ini menjadi pemandangan yang akrab bagi warga yang kerap menghadapi erupsi susulan Sinabung, gunung yang telah beberapa kali meletus besar sejak 2010 dan memaksa ribuan jiwa mengungsi. Kualitas udara yang menurun drastis dan jarak pandang yang terbatas saat hujan abu menjadi pengingat bahwa ancaman ini masih jauh dari usai.
Bagi masyarakat luas, terutama yang tinggal di lereng Sinabung, imbauan untuk tidak mendekati zona berbahaya dan mengikuti arahan petugas menjadi harga mati. Sejarah mencatat, letusan besar pada 2014 dan 2016 telah menelan korban jiwa dan menghancurkan permukiman. Meski saat ini aktivitas masih fluktuatif, potensi lahar hujan dan awan panas guguran tetap mengintai, terutama jika curah hujan tinggi melanda kawasan puncak.
Dari sisi ekonomi, erupsi yang berulang ini juga memberi pukulan bagi sektor pariwisata dan pertanian di Tanah Karo yang sedang berusaha bangkit. Berastagi, yang dikenal sebagai destinasi wisata kebun sayur dan buah, terpaksa berhadapan dengan penurunan kunjungan dan gagal panen akibat abu yang menutupi lahan pertanian. Para pelaku usaha lokal pun harus kembali menghitung ulang kerugian, sementara pemerintah daerah dituntut untuk menyiapkan skema pemulihan yang lebih tangguh.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah aktivitas Sinabung mereda dalam waktu dekat, atau justru meningkat seperti siklus sebelumnya? Yang jelas, kesiapsiagaan masyarakat dan koordinasi antarinstansi menjadi kunci untuk meminimalkan korban, baik jiwa maupun materi. Untuk sementara, masker dan kewaspadaan adalah tameng utama warga Karo menghadapi amukan alam yang belum bisa diprediksi secara pasti.



