Kebugaran Tinggi Bukan Jaminan Jantung Sehat: Pelajaran dari Kematian Atlet Hyrox
Baca dalam 60 detik
- Kematian mendadak pelatih kebugaran di Hyrox Bangkok memicu kekhawatiran akan risiko jantung pada olahraga endurance.
- Para ahli menegaskan VO2 max yang tinggi tidak menjamin jantung bebas penyakit, sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan.
- Menjelang Hyrox Singapura, penting bagi peserta untuk melakukan skrining jantung, terutama jika memiliki faktor risiko.

Kematian mendadak seorang pelatih kebugaran asal Afrika Selatan saat berlaga di ajang Hyrox Bangkok pada 13 Agustus lalu membuka mata banyak orang: kebugaran fisik yang prima tidak otomatis berarti jantung sehat. Leroy Saunders, 41 tahun, yang dikenal bugar dan berpengalaman dalam berbagai kompetisi, kolaps di hari pertama event empat hari tersebut dan kemudian meninggal dunia. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa olahraga endurance, termasuk Hyrox yang tengah populer, menyimpan risiko kardiovaskular yang tak bisa dianggap remeh.
Hyrox, yang menggabungkan lari 8 kilometer dengan delapan stasiun latihan fungsional seperti sled push dan burpee broad jump, memang dirancang untuk menguji ketahanan. Namun, menurut Dr. Bharat Vashdev Khialani, konsultan kardiologi di NHG Heart Institute Singapura, tidak ada event endurance yang sepenuhnya bebas risiko. โMaraton membebani jantung secara berkepanjangan, sementara Hyrox memicu lonjakan detak jantung dan tekanan darah yang cepat akibat kombinasi latihan intensitas tinggi dan kekuatan,โ jelasnya. Meski demikian, ia menegaskan tidak ada yang secara inheren lebih berbahaya; risikonya bergantung pada kondisi kesehatan, kesiapan, dan faktor risiko masing-masing individu.
Kematian Saunders, yang juga pemilik gym CrossFit di Bangkok, menunjukkan bahwa atlet berpengalaman pun bisa menjadi korban. Banyak kondisi jantung yang โdiamโ atau tidak bergejala, seperti penyakit arteri koroner dini atau kelainan irama jantung, baru muncul ketika jantung dipaksa bekerja ekstrem. Dr. Bharat menggarisbawahi bahwa pada peserta yang lebih tua, penyebab utama biasanya adalah penyakit arteri koroner yang belum terdiagnosis, di mana penumpukan kolesterol mempersempit pembuluh darah jantung.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, di mana tren olahraga lari dan functional fitness seperti Hyrox juga meningkat. Banyak orang mendaftar event semacam itu tanpa persiapan medis yang memadai, hanya bermodal semangat dan rutinitas olahraga biasa. Padahal, seperti diungkapkan Bervin Manoharan, salah satu pendiri Catalyst Performance, banyak peserta menyepelekan persiapan karena event ini tampak mudah dan hampir semua orang bisa menyelesaikannya. Padahal, kombinasi lari dan latihan beban dengan detak jantung yang sudah tinggi bisa menjadi pemicu masalah.
Pertanyaan besarnya: apakah tes VO2 max yang sering dijadikan patokan kebugaran cukup untuk menilai kesehatan jantung? Jawabannya, tidak. Menurut Dr. Bharat, VO2 max yang tinggi hanya menunjukkan performa fisik yang baik, tetapi tidak menyingkirkan penyakit jantung yang mendasarinya. โKebugaran dan kesehatan jantung adalah dua hal yang berhubungan tapi tidak sama,โ tegasnya. Tes VO2 max, yang mengukur kemampuan tubuh menggunakan oksigen, bukanlah alat diagnostik. Jika seseorang mengalami nyeri dada, sesak napas, atau pingsan, mereka harus segera diperiksa dokter.
Lalu, apa yang harus dilakukan? Para ahli menyarankan agar setiap orang yang ingin mengikuti event endurance, terutama yang berusia di atas 40 tahun atau memiliki faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau riwayat keluarga penyakit jantung, menjalani pemeriksaan medis menyeluruh beberapa bulan sebelum lomba. Pemeriksaan dasar seperti elektrokardiogram (EKG), tes darah, dan konsultasi dengan dokter umum bisa menjadi langkah awal untuk mendeteksi masalah sejak dini. Dr. Bharat menekankan bahwa pemeriksaan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memastikan bahwa latihan dan kompetisi berjalan aman.
Bagi peserta yang sudah dinyatakan sehat, tes VO2 max tetap bermanfaat untuk menyusun program latihan yang efektif. Namun, yang terpenting adalah mendengarkan sinyal tubuh. Jika selama berlari atau berlatih muncul gejala seperti nyeri dada, pusing, atau jantung berdebar tidak beraturan, segera hentikan aktivitas dan cari pertolongan medis. Kematian Leroy Saunders adalah pengingat bahwa di balik euforia olahraga, kesehatan jantung adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Akankah tren ini mendorong lebih banyak orang untuk memeriksakan jantungnya sebelum memacu adrenalin?



