El Nino Ekstrem: Nyamuk dan Kecoa Makin Perkasa, Burung dan Satwa Liar Terdesak
Baca dalam 60 detik
- Fenomena El Nino yang semakin ekstrem diprediksi menguntungkan spesies adaptif perkotaan seperti nyamuk, kecoa, dan burung pemakan sisa makanan manusia.
- Satwa liar yang bergantung pada sumber daya alam, seperti burung pemakan serangga dan trenggiling, berisiko mengalami penurunan populasi akibat gangguan rantai makanan.
- Para ahli memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat mendorong terbentuknya komunitas ekologi baru yang mungkin tidak lagi memberikan manfaat bagi manusia.

Fenomena El Nino yang semakin sering dan intens tidak hanya memicu kekeringan dan gelombang panas, tetapi juga mengubah peta persaingan di dunia satwa. Di Singapura, para peneliti memperingatkan bahwa spesies yang justru diuntungkan oleh kondisi ekstrem ini adalah mereka yang paling tidak diinginkan manusia: nyamuk, kecoa, dan burung pemulung perkotaan. Sementara itu, satwa liar yang bergantung pada ekosistem alami semakin terdesak dan berisiko mengalami penurunan populasi.
Studi yang dirilis pada 2025 mengungkapkan korelasi kuat antara El Nino dan peningkatan kasus demam berdarah di Singapura. Model yang memperhitungkan suhu dan curah hujan lokal menunjukkan bahwa kondisi El Nino yang lebih kuat memperbesar risiko penularan penyakit yang dibawa nyamuk Aedes aegypti ini. Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura menyatakan bahwa cuaca yang lebih panas mempercepat siklus hidup nyamuk dan multiplikasi virus di dalam tubuhnya, menjadikan musim kemarau yang dipicu El Nino sebagai periode rawan wabah.
Ketergantungan nyamuk pada infrastruktur manusia menjadikannya pemenang dalam skenario ini. Data pengawasan NEA pada April hingga Juni 2026 menunjukkan tiga habitat perkembangbiakan utama nyamuk di area publik adalah saluran drainase tertutup, wadah bekas, dan perangkap got. Kondisi ini diperparah dengan prediksi cuaca panas dan kering dari Juni hingga Oktober tahun ini, yang bertepatan dengan puncak musim demam berdarah.
Selain nyamuk, kecoa juga diprediksi akan bertahan bahkan berkembang. Spesies kecoa Amerika dan Jerman yang hidup di saluran sampah gedung-gedung disebut "sangat adaptif" oleh Asosiasi Profesor Eleanor Slade dari Asian School of the Environment. "Kita semua tahu... Anda tidak bisa benar-benar menyingkirkannya," ujarnya. "Apa pun yang terjadi, mereka akan tetap ada."
Burung yang hidup berdampingan dengan manusia, seperti merpati batu, gagak rumah, dan myna Jawa, juga diprediksi kebal terhadap dampak El Nino. Menurut ahli ornitologi Movin Nyanasengeran dari National University of Singapore (NUS), spesies-spesies ini menggantungkan hidup pada sisa makanan manusia di pusat jajanan dan area pengembalian nampan. "Mereka tidak bergantung pada makanan alami, jadi populasi mereka akan tetap stabil apakah musim hujan datang atau tidak," jelasnya.
Namun, nasib berbeda menanti satwa liar yang masih mengandalkan sumber daya alam. Burung seperti merbah kuning dan cabai bunga api yang biasa ditemukan di taman-taman kota, serta satwa hutan seperti babi hutan, monyet ekor panjang, dan lutung Raffles yang terancam kritis, akan mengalami stres akibat panas berkepanjangan dan berkurangnya curah hujan. Direktur kelompok manajemen satwa liar NParks, How Choon Beng, menggarisbawahi bahwa spesies-spesies ini tidak memiliki bantalan adaptasi yang sama dengan spesies perkotaan.
Dampaknya tidak berhenti pada satwa besar. Gelombang panas yang konsisten dapat menurunkan keberhasilan reproduksi burung, meningkatkan mortalitas, dan menyebabkan kegagalan pengeraman. Associate Professor Frank Rheindt dari NUS menegaskan, "Tidak ada satu pun dari ini yang positif bagi burung dan hewan lain yang mengandalkan lingkungan yang terstruktur dan stabil." Serangga pun ikut terdampak: ulat makan lebih sedikit, menjadi lebih kecil, dan kurang berhasil berkembang biak. Serangga tanah menggali lebih dalam, membuat mereka sulit ditemukan oleh pemangsanya seperti trenggiling Sunda yang terancam kritis.
Kepunahan yang tertunda (extinction lag) menjadi ancaman senyap. Jika populasi serangga menurun, efek berantai akan terasa pada burung, kelelawar, dan mamalia lain yang bergantung padanya. "Biasanya, keberhasilan berkembang biak sangat terkait dengan ketersediaan makanan," kata Dr. Movin. "Lebih sedikit serangga bisa berarti kematian burung atau kegagalan berkembang biak." Assoc. Prof. Slade mengibaratkan ekosistem yang sehat dengan dana investasi yang terdiversifikasi; semakin rendah keanekaragaman hayati, semakin rapuh sistem tersebut. "Akan selalu ada spesies yang bertahan... dan komunitas baru akan terbentuk, tetapi apakah komunitas itu berguna bagi kita adalah hal lain," katanya.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Singapura ini relevan. Sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman hayati tinggi dan urbanisasi pesat, Indonesia menghadapi risiko serupa. Kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya memiliki kepadatan penduduk dan infrastruktur yang mendukung perkembangbiakan nyamuk, sementara hutan dan ekosistem alami terus menyusut. Jika tren El Nino ekstrem berlanjut, bukan tidak mungkin Indonesia akan menyaksikan pergeseran komposisi satwa liar, dengan spesies adaptif perkotaan mendominasi dan spesies asli yang bergantung pada hutan semakin terpinggirkan. Pertanyaannya, apakah kita siap menghadapi konsekuensi ekologis dari perubahan ini?



