Ancaman Banjir Susulan di Nepal: Ribuan Warga Masih Hilang, Jalur Logistik Terancam
Baca dalam 60 detik
- Badan penanggulangan bencana Nepal mencatat 734 korban jiwa dan 2.498 orang hilang akibat banjir dahsyat pekan ini, sementara otoritas China melaporkan 16 tewas dan 546 hilang di wilayah Tibet.
- Peringatan dini banjir susulan dikirim ke ponsel warga setelah volume air Sungai Bhotekoshi meningkat, memaksa evakuasi berulang dan memperparah kondisi korban selamat yang kelelahan.
- Kerusakan Jalan Prithivi, jalur utama distribusi logistik menuju Kathmandu, berpotensi mengganggu pasokan pangan dan bahan bakar dalam beberapa pekan ke depan, menuntut respons cepat pemerintah.

Otoritas Nepal kembali mengeluarkan peringatan dini banjir susulan di sejumlah distrik terdampak bencana, menyusul naiknya permukaan Sungai Bhotekoshi yang memicu kekhawatiran baru di tengah upaya evakuasi dan pencarian korban yang masih berlangsung. Peringatan ini dikirim langsung ke ponsel warga sejak pagi, sementara tim penyelamat berjibaku membersihkan puing-puing di Jalan Prithivi, jalur utama yang menghubungkan Kathmandu dengan wilayah terdampak terparah.
Di Kota Galchhi, sejumlah warga terlihat mengungsi ke jembatan untuk menyelamatkan diri, menyaksikan derasnya aliran sungai yang membawa batu-batu besar sisa banjir sebelumnya. Beberapa orang yang berdiri di jembatan gantung diperingatkan dengan peluit agar segera menjauh. Pemandangan memilukan terlihat di sepanjang aliran sungai: rumah, kendaraan, dan traktor pertanian tersangkut di endapan lumpur tebal yang menenggelamkan seluruh desa. Terasering sawah di tepi sungai pun longsor, sebagian lahannya ambles ke dasar sungai.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis kemarin, jumlah korban gabungan di Nepal dan Tibet mencapai 752 orang tewas dan lebih dari 3.000 orang dinyatakan hilang. Badan Penanggulangan Bencana Nepal melaporkan 734 kematian dan 2.498 orang hilang, sementara otoritas China mencatat 16 tewas dan 546 hilang, termasuk lebih dari seratus warga Nepal dan warga dari belasan negara lain.
Kepala Eksekutif Otoritas Nasional Pengurangan Risiko Bencana Nepal, Dharam Raj Uprety, mengatakan peringatan terbaru muncul setelah pihak China memberi tahu adanya peningkatan debit air di hulu. Namun, warga di desa-desa terdampak mengaku kewalahan menghadapi alarm yang nyaris terus-menerus sejak banjir pertama terjadi. Govind Shreshta, seorang warga setempat, mengungkapkan kelelahan fisik dan mentalnya: โKadang mereka bilang banjir akan datang, lalu kami harus lari lagi ke tempat yang lebih tinggi, bahkan di malam hari. Hujan juga masih turun.โ Ia juga menyebut harus menggendong ayahnya yang berusia 72 tahun dan ibunya yang berusia 70 tahun, membuatnya kehabisan tenaga.
Kerusakan infrastruktur memperparah situasi. Jembatan beton besar dan jembatan gantung kecil hancur, memutus akses antarwilayah. Sattan Singh Tamang (47), yang sedang bekerja di dekat jembatan saat banjir datang, mengatakan, โMereka yang di sana terjebak di sana, yang di sini terjebak di sini. Ini akan sangat sulit.โ Rumah dan toko yang masih berdiri pun belum dialiri listrik, dengan tiang listrik yang bengkok dan kabel kusut tergeletak di lumpur.
Jalan Prithivi merupakan jalur pasokan penting bagi makanan, bahan bakar, dan barang kebutuhan lain yang masuk ke Kathmandu dari berbagai penjuru negeri. Sebagian besar jalan sudah dapat dilalui, tetapi beberapa ruas masih memerlukan perbaikan besar. Gangguan pada jalur ini berpotensi memicu kelangkaan logistik di ibu kota dalam beberapa pekan ke depan.
Bencana ini menjadi pengingat rentannya kawasan Himalaya terhadap perubahan iklim, yang meningkatkan frekuensi dan intensitas hujan ekstrem. Bagi Indonesia, pelajaran berharga dapat diambil, terutama dalam hal kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang kian tidak menentu. Sistem peringatan dini yang efektif, edukasi publik, dan infrastruktur tahan bencana menjadi kunci untuk meminimalkan korban jiwa. Pertanyaan yang menggantung: apakah pemerintah Nepal mampu mempercepat pemulihan dan membangun kembali lebih baik, atau akankah bencana serupa kembali memakan korban di masa depan?



