Kapal Feri Tenggelam di Siprus Utara: 8 Tewas, 18 Hilang, Operasi SAR Diperpanjang
Baca dalam 60 detik
- Sebuah kapal feri komersial yang mengangkut 267 orang terbalik tak lama setelah meninggalkan pelabuhan Kyrenia di Siprus Utara, menewaskan sedikitnya delapan orang dan membuat 18 lainnya hilang.
- Penyebab kecelakaan belum diketahui, namun saksi mata melaporkan kapal oleng dan mengalami benturan keras sebelum akhirnya tenggelam di kedalaman 514 meter; kapten dan tujuh awak telah ditahan untuk diperiksa.
- Operasi pencarian dan penyelamatan melibatkan kapal patroli dan helikopter dari Siprus Utara serta Turki, dengan janji dari pemimpin setempat untuk melanjutkan upaya sampai semua korban ditemukan.

Sedikitnya delapan orang tewas dan 18 lainnya dinyatakan hilang setelah sebuah kapal feri yang mengangkut sekitar 270 penumpang dan awak terbalik di lepas pantai Siprus Utara pada Minggu (30/8). Peristiwa tragis ini terjadi hanya beberapa menit setelah kapal meninggalkan Pelabuhan Kyrenia, meninggalkan para penyintas yang berpegangan pada lambung kapal yang terbalik.
Kapal feri swasta bernama FILOJET itu berangkat pukul 12.30 waktu setempat menuju Pelabuhan Tasucu, Turki, di kawasan Mediterania timur. Namun, tanpa sebab yang jelas, kapal langsung mengalami kebocoran dan oleng. Para saksi mata menggambarkan kapal bergerak tidak stabil, terangkat dan menghantam permukaan air dengan keras, hingga akhirnya haluan kapal pecah dan air masuk deras. Dari 267 orang di dalamnya, 241 berhasil dievakuasi, sementara delapan awak termasuk kapten kini ditahan untuk dimintai keterangan.
Kecelakaan ini terjadi di dekat Kyrenia, kawasan wisata yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Kapal tersebut merupakan salah satu layanan feri harian yang menghubungkan Siprus Utara, sebuah negara yang hanya diakui oleh Turki, dengan daratan Turki. Peristiwa ini mengejutkan warga setempat; puluhan keluarga berkumpul di depan rumah sakit dan gerbang pelabuhan menunggu kabar orang-orang tercinta. Pemimpin Siprus Utara, Tufan Erhurman, menyatakan rasa duka mendalam dan memastikan operasi pencarian akan terus dilakukan hingga semua korban ditemukan.
Video yang beredar memperlihatkan puluhan orang mengenakan jaket pelampung merah berdiri atau duduk di atas lambung kapal yang terbalik, menunggu pertolongan. Salah seorang penyintas, Efe Multici, menuturkan kepada CNN Turk bahwa kapal bergetar hebat dan melompat tinggi sebelum akhirnya pecah. โTiga atau empat menit kemudian, kapal melompat tinggi ke udara, lalu jatuh menghantam air. Bagian kiri depan pecah dan air mulai masuk,โ ujarnya. Kesaksian ini menggambarkan betapa cepatnya situasi berubah dari normal menjadi mencekam.
Penyebab pasti kecelakaan masih diselidiki. Erhurman mengaitkan kejadian ini dengan badai dahsyat yang melanda Siprus pada Sabtu (29/8), yang menewaskan satu orang akibat perahu layarnya menabrak karang. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi cuaca pada Minggu dinilai layak untuk pelayaran. โAda rasa syok yang besar. Ini bukan sesuatu yang pernah kami alami sebelumnya,โ katanya dalam konferensi pers setelah rapat koordinasi darurat.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyampaikan belasungkawa dan berjanji upaya pencarian akan terus berlanjut. โUpaya untuk menjangkau mereka yang masih hilang terus berlangsung tanpa henti. Semoga kita menerima kabar baik,โ ujarnya. Pemerintah Siprus yang diakui secara internasional juga menyatakan duka dan menawarkan bantuan. Siprus terbagi sejak 1974 ketika Turki menginvasi wilayah tersebut sebagai respons atas kudeta yang didukung Yunani.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan transportasi laut, terutama di tengah tingginya mobilitas penumpang antar pulau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kerap mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi, namun kepatuhan terhadap standar keselamatan kapal masih menjadi tantangan. Kecelakaan seperti ini menyoroti perlunya audit rutin dan penegakan regulasi yang ketat untuk mencegah tragedi serupa terulang di perairan Nusantara.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah penyelidikan akan mengungkap kelalaian teknis atau human error, dan bagaimana hal itu akan memengaruhi kebijakan keselamatan pelayaran di kawasan Mediterania timur. Sementara itu, keluarga korban masih menanti kepastian nasib orang-orang yang mereka cintai, dan operasi pencarian di kedalaman 514 meter menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelam.



