Banjir Nepal: Bocah 8 Tahun Selamat Setelah Berlari dan Memanjat Pohon, Air Mata Ibu Berubah Bahagia
Baca dalam 60 detik
- Zoyal Ghale, 8 tahun, selamat dari banjir dahsyat di Nepal dengan berlari ke hutan dan memanjat pohon, kemudian dipertemukan kembali dengan ibunya setelah sempat dianggap tewas.
- Bencana yang melanda kawasan utara Kathmandu ini telah menewaskan sedikitnya 600 orang dan memengaruhi 17.000 anak, memicu krisis kemanusiaan yang membutuhkan respons cepat.
- Kisah Ghale menjadi simbol harapan di tengah duka, namun juga mengingatkan bahwa pemulihan pascabencana masih panjang, termasuk reunifikasi keluarga dan dukungan psikososial.

Zoyal Ghale, bocah lelaki berusia delapan tahun, selamat dari banjir bandang yang menerjang Nepal dengan cara yang nyaris mustahil: ia berlari ke dalam hutan dan memanjat pohon. Setelah dua hari terpisah, ia akhirnya berpelukan dengan ibunya, Matti Maya Tamang, yang sempat menganggap kedua anaknya telah tewas tertimbun reruntuhan sekolah.
Peristiwa ini terjadi di Distrik Rasuwa, salah satu wilayah paling parah terdampak banjir yang melanda Nepal utara dan Tibet, Tiongkok, pada Rabu pekan ini. Menurut badan anak-anak PBB, Unicef, sedikitnya 17.000 anak di Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading—tiga distrik di utara Kathmandu—terdampak langsung. Sementara itu, jumlah korban tewas resmi telah menembus 600 orang, dan sekitar 3.000 lainnya masih dinyatakan hilang. Angka-angka ini diperkirakan masih akan terus bertambah seiring proses pencarian yang berlanjut.
Bagi Tamang, ibu muda berusia 28 tahun itu, hari-hari setelah banjir adalah mimpi buruk yang tak kunjung usai. Ia berkeliling dari satu tempat pengungsian ke tempat lain, mencarikan nama kedua putranya dalam daftar korban selamat. "Di tempat keempat pun, nama anak-anak saya tidak ada. Saya sudah pasrah bahwa mereka berdua tidak akan kembali. Yang bisa saya lakukan hanya menangis," tuturnya kepada Reuters, menggambarkan keputusasaannya.
Namun, takdir berkata lain. Pada Kamis, Tamang mendapatkan nomor telepon jurnalis Reuters, Sahana Bajracharya, yang beberapa jam sebelumnya bertemu dengan Ghale di sebuah rumah sakit kecil di Nuwakot. Ghale, yang kakinya patah dan wajahnya penuh luka, tengah dirawat setelah dievakuasi sendirian. Ia mengaku kepada Bajracharya bahwa saat banjir datang, ia dan seorang teman berlari ke hutan dan memanjat pohon untuk menyelamatkan diri. "Saat itu gelap sekali, sangat gelap," kenang Ghale, yang juga menggenggam erat dua lembar uang 10 rupee pemberian polisi yang menolongnya.
Bajracharya meninggalkan nomornya di rumah sakit, dan tak lama kemudian Tamang menghubunginya. "Saat Anda bilang Zoyal masih hidup dan sudah dipindahkan ke Kathmandu, rasanya tidak nyata. Saya sudah menyerah," kata Tamang. Setelah dipertemukan pada Jumat di rumah sakit Kathmandu, Tamang akhirnya bisa bernapas lega. "Setelah menemukan anak sulung saya, saya merasa hidup saya kembali," ujarnya. Sang ayah, yang bekerja sebagai buruh konstruksi di Jepang, juga sedang dalam perjalanan pulang.
Kisah Ghale adalah secercah harapan di tengah bencana yang menghancurkan. Namun, di balik pelukan hangat ibu dan anak itu, terdapat realitas pahit: ribuan anak lainnya masih belum ditemukan, dan proses identifikasi serta reunifikasi keluarga berjalan lambat. Unicef menyatakan bekerja sama dengan pemerintah Nepal untuk mendata dan mempertemukan anak-anak yang terpisah dari keluarganya. Namun, dengan infrastruktur yang hancur dan akses yang terbatas, tantangan di lapangan sangat besar.
Bagi Indonesia, bencana serupa bukanlah hal asing. Banjir bandang dan tanah longsor kerap melanda berbagai daerah di tanah air, terutama saat musim hujan. Pelajaran dari Nepal adalah pentingnya sistem peringatan dini yang efektif, jalur evakuasi yang jelas, serta kesiapsiagaan masyarakat. Lebih dari itu, kisah Ghale menggarisbawahi pentingnya ketangguhan anak-anak dalam menghadapi situasi darurat—sesuatu yang bisa ditanamkan melalui edukasi kebencanaan sejak dini.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan hanya soal bagaimana memulihkan infrastruktur yang rusak, tetapi juga bagaimana memulihkan trauma psikologis ribuan anak yang kehilangan rumah, sekolah, dan mungkin anggota keluarga. Dukungan psikososial jangka panjang akan menjadi kunci. Akankah pemerintah Nepal dan komunitas internasional mampu memberikan perhatian yang cukup pada aspek ini? Atau akankah kisah-kisah seperti Ghale hanya menjadi catatan kaki dalam liputan bencana yang cepat berlalu?



