Tren 'Nuikatsu': Boneka Tidur di Museum Jepang, Cara Baru Tarik Pengunjung
Baca dalam 60 detik
- Fenomena mengirim boneka kesayangan untuk 'bermalam' di museum Jepang kian diminati, bahkan pendaftaran langsung penuh dalam hitungan menit.
- Program ini dianggap sebagai strategi kreatif meningkatkan kunjungan, terbukti dari tingginya antusiasme publik dan interaksi media sosial yang masif.
- Lonjakan pasar mainan boneka Jepang yang mencapai 62,4 miliar yen mengindikasikan potensi tren serupa dapat diadopsi di Indonesia.

Mengirim boneka kesayangan untuk 'bermalam' di museum atau galeri seni, alih-alih sang pemilik, tengah menjadi fenomena yang menarik perhatian di Jepang. Inisiatif ini bukan sekadar tren iseng, melainkan strategi jitu yang diharapkan mampu membangkitkan minat publik terhadap koleksi museum dan mendongkrak jumlah pengunjung.
Museum Kastil Hikone di Prefektur Shiga dan Museum Seni Kota Nagoya adalah dua di antara sekian banyak institusi yang mulai mengadopsi program 'tidur bersama boneka' ini. Awalnya, ide ini lahir dari perpustakaan umum di Amerika Serikat sebagai cara menyenangkan untuk menumbuhkan minat baca anak-anak. Kini, konsep tersebut menyebar luas di Jepang, didorong oleh budaya populer 'nuikatsu'โgaya hidup aktif membawa boneka ke mana-mana, berfoto, dan membagikannya di media sosial.
Antusiasme publik terhadap program ini luar biasa. Museum Seni Kota Nagoya, misalnya, kewalahan saat pendaftaran online dibuka tahun lalu; semua slot langsung terisi hanya dalam satu menit. Sementara itu, Museum Kastil Hikone yang menggelar acara serupa untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-40, menerima 122 pendaftar untuk hanya 10 kursi yang tersedia. Para boneka 'tamu' ini bahkan dipandu oleh maskot lokal, Hikonyan, untuk 'menikmati' koleksi pedang dan baju zirah peninggalan keluarga Ii, penguasa feodal Hikone.
Dampaknya terasa hingga ke media sosial. Unggahan yang memperlihatkan aktivitas boneka-boneka tersebut di dalam museum menuai lebih dari 5.000 'suka', sebuah bukti bahwa konten semacam ini mampu memikat warganet. Naoya Okaniwa (47) dan istrinya, penggemar maskot yang datang dari Nagoya, mengaku bahwa melalui sudut pandang boneka, mereka menemukan pesona museum yang selama ini terlewatkan. Hal serupa diungkapkan Kanato Muraki (7), pengunjung cilik yang takjub melihat ukuran baju zirah asli yang lebih besar dari bayangannya.
Fenomena ini hadir di tengah tantangan museum di Jepang: hanya sekitar 20 persen pengunjung Kastil Hikone yang meluangkan waktu untuk mampir ke museum di sebelahnya. Yuto Nakahashi (26), staf museum, berharap acara ini dapat memantik rasa ingin tahu dan meningkatkan angka kunjungan. Strategi ini sejalan dengan data Japan Toy Association yang mencatat pasar mainan boneka Jepang mencapai 62,4 miliar yen (sekitar Rp6,5 triliun) pada tahun fiskal 2025, naik hampir 40 persen dari tahun sebelumnyaโsebuah indikasi kuat bahwa keterikatan emosional dengan boneka adalah fenomena nyata.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang menarik. Museum-museum di tanah air, yang kerap kesulitan menarik pengunjung muda, dapat mengadopsi konsep serupa dengan sentuhan lokal. Bayangkan, misalnya, mengirim boneka untuk 'bermalam' di Museum Nasional atau Museum Bank Indonesia, dengan pendampingan kurator dan dokumentasi yang diunggah secara berkala. Ini bukan hanya tentang meningkatkan kunjungan, tetapi juga menciptakan pengalaman baru yang menghubungkan generasi digital dengan warisan budaya.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah tren ini akan bertahan, melainkan bagaimana institusi budaya di Asia, termasuk Indonesia, dapat berinovasi memanfaatkan fenomena emosional semacam ini. Apakah kita akan melihat 'nuikatsu' ala Indonesia yang mampu mengubah cara publik berinteraksi dengan museum? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: keterlibatan emosional adalah kunci untuk membuka pintu masa lalu.



