The X Factor Dikabarkan Kembali Tayang: ITV Siapkan Wajah Baru untuk Generasi Media Sosial
Baca dalam 60 detik
- ITV dan Talkback Thames dikabarkan tengah bernegosiasi untuk menghidupkan kembali The X Factor dengan format yang disesuaikan dengan era digital.
- Keputusan ini muncul setelah sejumlah acara baru ITV seperti The Neighbourhood gagal menarik penonton, sementara The Voice juga mengalami penurunan rating.
- Simon Cowell, sang pencipta, masih memegang hak cipta dan terbuka terhadap ide reboot, meskipun ia mempertanyakan apakah nama 'X Factor' masih relevan atau perlu diganti.

Setelah vakum lebih dari lima tahun, ajang pencarian bakat The X Factor dikabarkan akan kembali menghiasi layar kaca Inggris. Rumor ini mencuat di tengah upaya ITV untuk mengisi slot hiburan akhir pekan yang dinilai krisis, sekaligus menjawab tantangan era streaming dan media sosial yang telah mengubah cara penonton mengonsumsi konten.
Menurut laporan The Sun on Sunday, rumah produksi Talkback Thames bersama jajaran eksekutif ITV telah menggelar pembicaraan awal untuk menghidupkan kembali acara yang pernah melambungkan nama One Direction, Leona Lewis, Little Mix, dan James Arthur ini. Sumber internal menyebut kedua pihak "sangat antusias" untuk membawa The X Factor kembali dengan panel juri yang lebih muda, demi menarik minat generasi baru yang tumbuh bersama platform seperti TikTok dan Instagram.
Langkah ini bukan tanpa alasan. ITV tengah menghadapi tekanan besar setelah sejumlah program berbiaya tinggi yang diluncurkan belakangan, seperti The Neighbourhood yang dibawakan Graham Norton dan The Fortune Hotel dengan Stephen Mangan, gagal memikat pemirsa. Sementara itu, rating The Voice yang masih tayang juga dilaporkan terus merosot. Kondisi ini membuat ITV membutuhkan "senjata pamungkas" untuk mengembalikan kejayaan rating, dan The X Factor dianggap sebagai aset berharga yang belum tergarap maksimal.
Seorang sumber yang dekat dengan produksi mengungkapkan bahwa ITV tidak bisa lagi membiarkan slot akhir pekan mereka kosong tanpa acara unggulan. "Mereka tidak mampu lagi menanggung kegagalan seperti The Neighbourhood yang biayanya sangat besar tetapi hasilnya mengecewakan," ujarnya. "Daripada menciptakan format baru yang berisiko gagal, lebih baik menghidupkan kembali The X Factor yang sudah terbukti menjadi mesin pencetak bintang."
Rencana yang beredar adalah menghadirkan wajah-wajah baru di kursi juri, sementara Simon Cowell, sang kreator, tetap terlibat di belakang layar. Cowell sendiri masih memegang hak cipta acara ini bersama perusahaan distribusi Fremantle. Dalam wawancara dengan podcast Tales from the Celebrity Trenches pada Mei lalu, ia mengaku sering berdiskusi tentang kemungkinan reboot. "Apakah kita kembalikan sebagai X Factor atau Z Factor?" candanya, sambil menegaskan bahwa kekuatan televisi dalam memperkenalkan artis baru tetap tak tergantikan, terutama bagi mereka yang tidak menulis materi sendiri.
Bagi penonton Indonesia, kabar ini tentu membawa nostalgia tersendiri. The X Factor pernah memiliki versi lokal yang tayang di RCTI dan sukses melahirkan penyanyi-penyanyi berbakat seperti Fatin Shidqia dan Jebe & Petty. Jika versi Inggris kembali hadir dengan format baru yang lebih segar, bukan tidak mungkin stasiun televisi di tanah air akan kembali melirik format serupa, terutama dengan tren ajang pencarian bakat yang belakangan mulai redup di Indonesia.
Namun, tantangan terbesar bukan hanya soal menghadirkan wajah baru, melainkan bagaimana membuat acara ini relevan di tengah dominasi konten digital. Generasi muda saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di platform berbagi video pendek, dan mereka terbiasa dengan siklus viral yang cepat. The X Factor versi baru harus mampu menciptakan momen yang tidak hanya ditonton, tetapi juga dibagikan dan diperbincangkan secara masif di media sosial.
Pertanyaan yang kemudian mengemuka: apakah The X Factor akan kembali dengan nama yang sama, atau justru lahir dengan identitas baru yang lebih modern? Simon Cowell sendiri masih menggantungkan jawaban, tetapi satu hal yang pasti, kekuatan televisi dalam membentuk karier musisi tetap diakui. "Orang-orang masih suka tampil di TV," ujarnya. Dengan rencana yang matang dan sentuhan digital, bukan tidak mungkin The X Factor akan kembali menjadi primadona, baik di Inggris maupun pasar internasional.



