Kanada Gelontorkan Rp2,2 Triliun untuk Pabrik Komputer Kuantum Xanadu: Sinyal Perlombaan Teknologi Global
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Kanada memberikan pinjaman federal senilai C$195 juta (sekitar Rp2,2 triliun) kepada Xanadu Quantum Technologies untuk membangun pabrik komponen fotonik di Toronto, menandai dukungan terbesar negara itu untuk teknologi kuantum.
- Langkah ini mengikuti keputusan AS yang mengucurkan US$2 miliar untuk sembilan perusahaan kuantum, menunjukkan eskalasi persaingan global dalam riset dan komersialisasi komputasi kuantum.
- Dengan target penciptaan 275 lapangan kerja dan skema pembayaran berbasis pendapatan, investasi ini berpotensi mempercepat adopsi komputasi kuantum di sektor industri, termasuk di Asia Tenggara.

Pemerintah Kanada mengumumkan pinjaman senilai C$195 juta (sekitar US$140 juta) kepada Xanadu Quantum Technologies, perusahaan rintisan komputasi kuantum asal Toronto, untuk membangun pabrik komponen fotonik. Ini merupakan suntikan dana terbesar yang pernah diberikan Ottawa untuk teknologi kuantum, menandai babak baru dalam persaingan global yang semakin ketat.
Keputusan yang diumumkan pada Jumat (28/8) ini datang hanya beberapa bulan setelah pemerintahan Trump di Amerika Serikat mengambil langkah agresif dengan mengakuisisi saham senilai US$2 miliar di sembilan perusahaan komputasi kuantum. Langkah Washington itu bertujuan mengamankan kepemimpinan AS di bidang yang diyakini akan merevolusi berbagai industri, dari farmasi hingga logistik.
Pinjaman federal ini merupakan bagian dari paket pendanaan potensial senilai hingga C$390 juta yang diumumkan Xanadu pada Maret lalu. Perusahaan mengatakan akan segera mengumumkan kesepakatan senilai hingga C$195 juta dari pemerintah provinsi Ontario, sehingga total dukungan pemerintah mencapai angka maksimal. "Kami berharap dapat mengumumkan dalam waktu dekat," ujar juru bicara Xanadu.
Dana tersebut akan digunakan untuk membangun pabrik manufaktur fotonik di Toronto, yang memproduksi komponen berbasis cahaya untuk komputer kuantum. Teknologi fotonik, yang juga menjadi dasar kabel serat optik internet, memungkinkan komputasi pada suhu ruanganโberbeda dengan komputer kuantum lain yang memerlukan pendinginan ekstrem untuk mengurangi kesalahan.
CEO Xanadu, Christian Weedbrook, menjelaskan bahwa pinjaman ini memiliki skema pembayaran yang fleksibel. "Pada dasarnya, pembayaran di masa depan akan didasarkan pada persentase pendapatan, dan pinjaman ini diharapkan menciptakan hingga 275 lapangan kerja," katanya kepada Reuters. Model ini dianggap inovatif karena mengurangi beban finansial di awal, sekaligus memberi insentif bagi perusahaan untuk segera menghasilkan pendapatan.
Xanadu, yang didirikan pada 2016 oleh Weedbrook, telah mencatatkan sahamnya di Nasdaq pada Maret lalu melalui merger dengan perusahaan akuisisi tujuan khusus (SPAC). Perusahaan ini belum memiliki produk komersial, tetapi telah menarik minat pelanggan seperti AMD dan Tower Semiconductor. "Secara keseluruhan, kami bekerja sama dengan pengecoran (foundry) di AS, Asia, dan Eropa. Kami melakukan semua desain chip sendiri di Kanada, lalu mengirimkannya ke berbagai pengecoran tersebut," jelas Weedbrook.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Komputasi kuantum berpotensi memecahkan masalah yang mustahil diselesaikan komputer konvensional, seperti simulasi molekul untuk penemuan obat atau optimasi rantai pasok. Namun, teknologi ini masih rapuh karena sangat sensitif terhadap gangguan, termasuk suara. Negara-negara maju berlomba menguasai teknologi ini, dan Indonesia perlu memantau perkembangan ini untuk mengantisipasi dampaknya pada industri dan keamanan data di masa depan.
Investasi Kanada ini juga menunjukkan bahwa persaingan teknologi kuantum tidak hanya melibatkan AS dan Tiongkok, tetapi juga negara-negara lain yang ingin memainkan peran. Dengan dukungan pemerintah yang besar, Xanadu berpotensi menjadi pemain kunci dalam rantai pasok komponen kuantum global. Pertanyaannya, mampukah Indonesia dan negara berkembang lainnya ikut serta dalam perlombaan ini, atau hanya akan menjadi penonton yang bergantung pada teknologi impor?



