Setahun Setelah Hampir Pensiun, Aktor Legendaris Hong Kong Lo Hoi Pang Kembali Bugar Berkat Chow Yun-fat
Baca dalam 60 detik
- Aktor senior Hong Kong, Lo Hoi Pang (84), mengumumkan kondisi kesehatannya pulih total setelah rutin berlari dan mendaki gunung bersama Chow Yun-fat.
- Berbagai penyakit degeneratif yang dideritanya, seperti hipertensi dan kolesterol tinggi, kini berada dalam batas normal berkat perubahan gaya hidup.
- Kisah pemulihan Lo Hoi Pang menjadi pengingat bahwa olahraga teratur dan dukungan sosial dapat menjadi kunci penuaan yang sehat, relevan bagi populasi lansia Indonesia.

Setelah nyaris menghilang dari sorotan publik karena masalah kesehatan, aktor kawakan Hong Kong, Lo Hoi Pang, kembali muncul dengan kondisi yang jauh lebih bugar. Dalam sebuah unggahan video di media sosial, pria berusia 84 tahun itu tampak energik dan bersemangat, mengonfirmasi bahwa penyakit yang selama ini membebaninya telah berhasil dikendalikan.
Lo, yang dikenal lewat film-film seperti Life Without Principle (2011), mengaku bahwa setelah menjalani masa istirahat dan pemulihan, kondisi kesehatannya membaik secara signifikan. Tiga masalah kesehatan utama yang kerap disebut 'tiga tinggi'—tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi—kini berada dalam rentang normal. "Saya sekarang benar-benar sehat," ujarnya sambil tersenyum dalam wawancara dengan media Hong Kong.
Di balik pemulihan ini, Lo menyebut sahabat lamanya, aktor legendaris Chow Yun-fat, sebagai sosok yang paling berjasa. Chow, yang kini berusia 71 tahun, telah lama dikenal sebagai penggemar olahraga lari. Berkat ajakan dan bimbingannya, Lo mulai rutin melakukan hiking dan jogging dalam beberapa tahun terakhir. "Dia dengan sabar mengajari saya teknik pernapasan yang benar saat berolahraga," kata Lo. Teknik itu, menurutnya, adalah bernapas melalui hidung, bukan mulut, untuk menghindari mulut kering.
Kini, Lo menjadikan olahraga sebagai bagian tak terpisahkan dari rutinitas hariannya. Ia mengaku berlari sekitar 30 menit setiap pagi, sebuah kebiasaan yang dulu mungkin terasa mustahil baginya. Transformasi ini tidak hanya memulihkan kesehatan fisiknya, tetapi juga mengangkat kembali semangat hidupnya. Kisah Lo menjadi bukti nyata bahwa perubahan gaya hidup, sekecil apa pun, dapat membawa dampak besar di usia senja.
Fenomena ini menarik untuk disandingkan dengan kondisi di Indonesia, di mana prevalensi penyakit tidak menular (PTM) pada lansia terus meningkat. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hipertensi dan diabetes mellitus menjadi beban kesehatan utama pada kelompok usia 60 tahun ke atas. Padahal, seperti yang dicontohkan Lo, aktivitas fisik teratur terbukti mampu menurunkan risiko PTM secara signifikan. Sayangnya, budaya olahraga di kalangan lansia Indonesia masih rendah, seringkali karena kurangnya pendampingan dan motivasi.
Peran Chow Yun-fat sebagai 'pelatih' bagi Lo menunjukkan betapa pentingnya dukungan sosial dalam membangun kebiasaan sehat. Di Indonesia, program seperti Posyandu Lansia dan komunitas senam pagi sebenarnya sudah ada, namun cakupannya belum merata. Kisah Lo dan Chow bisa menjadi inspirasi bagi keluarga Indonesia untuk lebih proaktif mengajak orang tua mereka beraktivitas fisik, sekaligus menjadi pengingat bahwa usia bukanlah halangan untuk hidup aktif.
Ke depannya, publik tentu menantikan apakah Lo akan kembali ke layar lebar. Namun, yang lebih penting, kisahnya menegaskan bahwa kesehatan adalah investasi jangka panjang yang tidak mengenal kata terlambat. Apakah tren 'olahraga bersama teman' akan semakin populer di kalangan lansia Indonesia? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi semangat Lo Hoi Pang patut ditiru.



