Gurun Mesir Simpan Rahasia Laut Purba: Tujuh Spesies Hiu dari Zaman Kapur Ditemukan
Baca dalam 60 detik
- Studi paleontologi di Gurun Barat Mesir mengidentifikasi tujuh spesies hiu purba dari gigi fosil, termasuk dua catatan baru untuk Mesir dan satu untuk Afrika.
- Temuan ini mengungkap ekosistem laut dangkal yang kaya nutrisi 80 juta tahun lalu, kini menjadi gurun tandus akibat perubahan geologis.
- Penelitian lanjutan di Abu-Tartur diharapkan memperluas pemahaman tentang distribusi hiu purba dan sejarah Samudra Tethys.

Jauh di balik hamparan pasir Gurun Barat Mesir, para ilmuwan menemukan bukti mengejutkan: kawasan yang kini tandus itu dulunya adalah laut dangkal yang dihuni setidaknya tujuh spesies hiu purba. Temuan ini, yang dipublikasikan di jurnal Cretaceous Research, tidak hanya mengungkap kekayaan biodiversitas masa lalu, tetapi juga membuka jendela baru untuk memahami perubahan geologi yang membentuk wajah Bumi.
Tim peneliti yang dipimpin ahli paleontologi Tarek Yassin dari Universitas Kairo menganalisis 14 gigi hiu fosil yang dikumpulkan dari Dataran Tinggi Abu-Tartur, sekitar 650 kilometer barat daya Kairo. Gigi-gigi tersebut ditemukan di lapisan fosfat hitam dan kuning pada Formasi Duwi, yang terbentuk pada Zaman Kapur Akhir. Bentuk gigi yang bervariasi—dari ramping hingga melengkung tajam dan bergerigi—menunjukkan adanya perbedaan strategi makan di antara spesies yang hidup berdampingan.
Setelah membandingkan dengan koleksi museum di Swiss, tim mengidentifikasi lima spesies yang belum pernah tercatat di Abu-Tartur, termasuk Cretalamna cf. maroccana dan Scapanorhynchus cf. raphiodon. Dua di antaranya, Serratolamna cf. serrata dan Squalicorax bassanii, menjadi catatan pertama untuk Mesir. Yang lebih menarik, Scapanorhynchus cf. raphiodon, kerabat purba hiu goblin modern, kemungkinan besar belum pernah ditemukan di Afrika. Dengan menggabungkan dua spesies yang sudah dikenal sebelumnya, total tujuh spesies hiu kini terdokumentasi di situs tersebut.
Para peneliti menjelaskan bahwa kerangka hiu yang sebagian besar berupa tulang rawan jarang terawetkan, sehingga gigi menjadi bukti paling andal. Sekitar 80 juta tahun lalu, wilayah ini terendam laut dangkal yang terhubung dengan Samudra Tethys purba. Kandungan fosfat yang tinggi menunjukkan perairan yang kaya nutrisi, mampu mendukung rantai makanan kompleks dengan banyak predator puncak. Namun, sedimen tipis pada periode itu mengindikasikan bahwa fosil-fosil ini terakumulasi dalam rentang waktu panjang, bukan mewakili satu populasi yang hidup bersamaan.
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi pemahaman paleogeografi, terutama dalam melacak migrasi hiu purba. Bagi Indonesia, yang juga memiliki kekayaan fosil laut, penelitian ini menjadi pengingat akan potensi besar situs-situs geologis di tanah air. "Studi seperti ini menunjukkan bahwa gurun atau daratan kering bisa menyimpan sejarah laut yang luar biasa," ujar seorang ahli geologi Indonesia yang tidak terlibat, menekankan pentingnya eksplorasi serupa di kawasan seperti Jawa dan Papua.
Yassin berencana melanjutkan penelitian di area sekitar Abu-Tartur untuk menelusuri lebih banyak jejak kehidupan purba. Temuan ini menambah dua catatan baru bagi Mesir dan satu bagi Afrika, sekaligus memperluas jangkauan geografis beberapa garis keturunan hiu dari Zaman Kapur Akhir. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah situs serupa di belahan dunia lain, termasuk Indonesia, juga menyimpan kejutan paleontologis yang belum tergali? Dengan semakin canggihnya teknologi analisis fosil, bukan tidak mungkin masa depan akan membawa lebih banyak penemuan yang mengubah peta pengetahuan kita tentang kehidupan purba.



