Kekalahan Kedua Beruntun Tottenham: De Zerbi Gagal Jinakkan Kutukan Stadion?
Baca dalam 60 detik
- Tottenham kembali tumbang di kandang, kali ini 0-2 dari Newcastle, memperpanjang tren buruk 21 kekalahan dalam 39 laga kandang terakhir di liga.
- Investasi besar musim panas senilai lebih dari Rp6,3 triliun belum mampu mengubah mentalitas tim, yang diakui pelatih Roberto De Zerbi sebagai masalah yang tak bisa dibeli.
- Masa depan De Zerbi mulai dipertanyakan setelah pernyataannya yang membuka peluang hengkang, sementara Newcastle justru tampil solid di bawah pelatih baru Matthias Jaissle.

LONDON โ Tottenham Hotspur kembali memperlihatkan wajah lamanya yang rapuh. Bermain di hadapan pendukung sendiri, Spurs menyerah 0-2 dari Newcastle United pada Sabtu (29/8/2026), kekalahan kedua beruntun yang langsung menempatkan pelatih anyar Roberto De Zerbi dalam sorotan tajam. Alih-alih menjadi benteng, Stadion Tottenham Hotspur justru kembali menjadi saksi kegagalan timnya mempertahankan keunggulan, bahkan sekadar bermain imbang.
Sejak ditunjuk menggantikan pelatih sebelumnya, De Zerbi diharapkan membawa perubahan gaya bermain yang lebih berani dan menyerang. Pada laga kontra Newcastle, secercah harapan sempat terlihat di babak pertama. Umpan-umpan pendek dan pressing tinggi yang menjadi ciri khas De Zerbi mulai tampak. Namun, dua gol yang lahir di babak kedua akibat kesalahan individual kembali menghancurkan optimisme itu. Publik London Utara pun bertanya-tanya: apakah ini sekadar awal yang buruk, atau justru indikasi bahwa masalah Tottenham jauh lebih dalam dari sekadar taktik?
Kekalahan ini menjadi yang ke-21 dari 39 laga kandang terakhir Spurs di Premier League. Angka tersebut menunjukkan betapa rapuhnya mentalitas tim saat bermain di depan pendukung sendiri. Padahal, De Zerbi dalam catatan program pertandingan sempat menuliskan ambisinya menjadikan stadion ini sebagai "benteng". Kenyataannya, ribuan kursi kosong terlihat saat peluit panjang dibunyikan, sebuah pemandangan yang kontras dengan target ambisius yang dicanangkan.
Musim panas ini, Tottenham menggelontorkan dana lebih dari 300 juta poundsterling atau sekitar Rp6,3 triliun untuk membenahi skuad yang dua musim beruntun finis di peringkat 17. Namun, De Zerbi dengan jujur mengakui bahwa mentalitas pemenang tidak bisa dibeli di bursa transfer. "Anda tidak bisa membeli mentalitas di bursa transfer," ujarnya dalam konferensi pers usai laga, seperti dikutip media setempat. Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada para penggemar, seraya menegaskan bahwa dua kekalahan tidak akan mengubah keyakinannya pada kualitas pemain.
Meski demikian, pernyataan De Zerbi yang menyebut skuadnya akan menunjukkan kualitas "dengan saya atau dengan pelatih lain" memicu spekulasi tentang masa depannya. Kalimat itu bisa dimaknai sebagai sinyal bahwa ia tidak merasa aman dengan posisinya, atau justru sebagai bentuk tekanan yang ia rasakan. Di sisi lain, Newcastle United tampil sebagai cermin kebalikan dari Tottenham. Meski kehilangan sejumlah pemain kunci seperti Sandro Tonali, Anthony Gordon, dan Bruno Guimaraes, serta pelatih Eddie Howe, The Magpies justru memulai musim dengan sempurna tanpa kekalahan.
Kontras antara kedua tim juga terlihat dari kesuksesan Newcastle merekrut pelatih baru Matthias Jaissle. Penyerang anyar Newcastle, Wissa, yang musim lalu diganggu cedera, sudah menyamai jumlah golnya musim lalu dan menilai Jaissle sebagai rekrutan terbaik klub. "Saya pikir dia adalah rekrutan terbaik Newcastle sejauh ini," ujar Wissa. Sementara itu, Tottenham justru terlihat kesulitan menemukan keseimbangan antara pemain baru dan lama, serta adaptasi terhadap filosofi De Zerbi yang menuntut keberanian tinggi.
Bagi pengamat sepak bola di Indonesia, laga ini menjadi pengingat bahwa investasi besar tidak otomatis berbanding lurus dengan hasil di lapangan. Fenomena yang dialami Tottenham sering kali juga terjadi pada klub-klub besar di Liga Indonesia yang berganti pelatih dan pemain mahal namun tetap tampil inkonsisten. Mentalitas dan budaya klub menjadi faktor yang tak kalah penting, dan hal ini relevan dengan upaya membangun tim nasional maupun klub di tanah air.
Pertanyaan besarnya kini: akankah De Zerbi diberi waktu untuk membangun proyeknya, atau manajemen Tottenham akan kembali mengambil keputusan drastis seperti dua musim sebelumnya? Dengan jadwal padat yang menanti, setiap laga akan menjadi ujian bagi De Zerbi untuk membuktikan bahwa kekalahan ini hanyalah bagian dari proses, bukan awal dari kehancuran yang sama.



