Wawrinka Ucapkan Terima Kasih meski Tak Dapat Wildcard US Open: 'Kemenangan Itu Akan Selalu Jadi Momen Terbaik'
Baca dalam 60 detik
- Petenis veteran Swiss Stan Wawrinka dipastikan absen dari US Open 2025 setelah tidak mendapatkan wildcard, mengakhiri peluang tampil di turnamen perpisahannya.
- Keputusan USTA menuai kritik karena Wawrinka adalah juara 2016 dan masih berada dalam batas peringkat untuk masuk kualifikasi, namun ia memilih tidak ikut serta.
- Wawrinka merespons dengan penuh sportivitas melalui unggahan emosional di media sosial, menyebut New York sebagai tempat yang membentuk kariernya.

Stan Wawrinka, petenis Swiss berusia 41 tahun yang akan pensiun akhir musim ini, harus mengubur harapan untuk tampil sekali lagi di Flushing Meadows. Federasi Tenis Amerika Serikat (USTA) tidak memberinya wildcard untuk US Open 2025, sehingga petenis yang pernah menjuarai turnamen itu pada 2016 itu dipastikan absen dari ajang Grand Slam terakhir di musim perpisahannya.
Keputusan USTA ini langsung menuai sorotan. Wawrinka sebenarnya masih berada dalam ambang batas peringkat untuk bisa mengikuti babak kualifikasi, namun ia memilih tidak mendaftar. Padahal, ia telah menerima wildcard untuk tiga Grand Slam lainnya tahun ini: Australia Terbuka, Prancis Terbuka, dan Wimbledon. Di Melbourne, ia bahkan berhasil melaju hingga babak ketiga, sementara di Paris dan London ia harus mengakui keunggulan lawan di babak pertama.
Kritik muncul karena Wawrinka bukan petenis sembarangan. Ia adalah salah satu dari segelintir pemain yang mampu memecah dominasi 'Big Three'—Novak Djokovic, Rafael Nadal, dan Roger Federer—dengan merebut tiga gelar Grand Slam: Australia Terbuka 2014, Prancis Terbuka 2015, dan US Open 2016. Selama 17 tahun sejak debutnya di turnamen utama New York pada 2005, ia selalu menjadi ancaman serius.
Menanggapi kenyataan pahit ini, Wawrinka justru menunjukkan kedewasaan. Dalam unggahan di media sosial, ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada US Open dan kota New York. “Ketika pertama kali tiba di New York dari desa pertanian kecil di Swiss, semuanya terasa terlalu besar. Kota ini, kebisingannya, energinya, kerumunannya, cahayanya,” tulisnya. “Namun, tahun demi tahun, New York perlahan menjadi salah satu tempat favorit saya di dunia. Kota ini menantang saya, mendorong saya, dan mengeluarkan sisi terbaik yang tidak bisa dilakukan banyak tempat lain.”
Pelatihnya, Magnus Norman, juga mengungkapkan kekecewaan sekaligus apresiasi. “Kami berusaha keras untuk bisa bermain di satu Grand Slam terakhir di usia 41 tahun, tetapi kami gagal. Ini menyakitkan, tapi terima kasih atas semua kenangan indah di dalam dan luar lapangan bersama tim di New York selama 13 tahun terakhir,” tulis Norman di Instagram.
Keputusan USTA untuk tidak memberikan wildcard kepada Wawrinka memang memiliki dasar regulasi. Wildcard biasanya diberikan kepada pemain yang tidak lolos otomatis berdasarkan peringkat, dan sering kali digunakan untuk memberi kesempatan kepada pemain muda atau petenis tuan rumah. Selain itu, ada sistem wildcard timbal balik antar federasi nasional. Swiss tidak memiliki Grand Slam sendiri, sehingga tidak ada 'hutang' yang bisa ditagih. Sebagai perbandingan, petenis Prancis Gael Monfils yang juga akan pensiun musim ini mendapatkan wildcard dari Federasi Tenis Prancis untuk tampil di Roland Garros.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah Wawrinka ini menjadi pengingat bahwa bahkan petenis legendaris pun tidak kebal terhadap aturan dan politik di balik turnamen Grand Slam. Ini juga menyoroti betapa ketatnya persaingan untuk mendapatkan tempat di ajang paling prestisius, di mana keputusan administratif bisa mengubah jalur karier seorang atlet. Di tengah hiruk-pikuk tenis dunia yang kerap didominasi nama-nama besar, nasib Wawrinka menunjukkan bahwa tidak ada jaminan untuk mendapatkan 'pensiun yang manis'.
Dengan absennya Wawrinka, US Open 2025 kehilangan salah satu karakter paling karismatik di era modern. Namun, ia meninggalkan warisan yang tak terlupakan: tiga gelar Grand Slam di tengah dominasi tiga raksasa, serta semangat juang yang menginspirasi banyak petenis muda, termasuk di Asia Tenggara. Pertanyaannya kini, akankah generasi berikutnya mampu meniru jejaknya? Atau justru makin sulit bagi pemain non-unggulan untuk bersinar di era yang semakin kompetitif ini?



