FLONA 2026: Pameran Flora dan Fauna Jakarta Berubah Wajah Jadi Laboratorium Ekologi Perkotaan
Baca dalam 60 detik
- Pemprov DKI Jakarta mengubah pameran FLONA 2026 menjadi wahana edukasi lingkungan, bukan sekadar ajang pamer flora dan fauna.
- Dengan tema "Akar Nusantara Bertumbuh di Jakarta", acara ini menampilkan enam zona ekoregion dari Sumatra hingga Papua, menawarkan pengalaman langsung tentang keanekaragaman hayati.
- Lebih dari 280 tenant dan 10 stan instansi akan berpartisipasi, menjadikan FLONA 2026 sebagai salah satu agenda strategis dalam upaya meningkatkan kesadaran warga terhadap ruang hijau kota.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengubah panggung pameran flora dan fauna tahunan menjadi wahana pembelajaran ekologi yang lebih ambisius, dengan menargetkan kesadaran warga terhadap keanekaragaman hayati sebagai tujuan utama. FLONA 2026, yang akan digelar di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada 28 Agustus hingga 28 September, tidak lagi sekadar menjadi ajang pameran tanaman hias dan satwa peliharaan, melainkan sebuah laboratorium hidup yang dirancang untuk membangun pengalaman langsung bagi pengunjung.
Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Afan Adriansyah Idris, menegaskan bahwa pergeseran paradigma ini merupakan langkah strategis untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab warga terhadap keberlanjutan lingkungan kota. "Kami ingin masyarakat tidak hanya datang untuk menikmati pameran, tetapi juga membawa pulang kesadaran bahwa menjaga lingkungan, ruang hijau, dan keanekaragaman hayati adalah bagian dari tanggung jawab bersama untuk masa depan Jakarta," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Konsep utama yang diusung tahun ini adalah Ekoregion Nusantara, yang membagi pameran menjadi enam zona besar: Sumatra, Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara-Maluku, dan Papua. Setiap zona tidak hanya menampilkan flora dan fauna khas, tetapi juga sejarah, kearifan lokal, serta tantangan konservasi yang dihadapi masing-masing wilayah. Pendekatan ini, menurut pengamat tata kota dari Universitas Indonesia, Yayat Supriatna, merupakan langkah maju dalam edukasi publik. "Dengan menghadirkan ekoregion secara tematik, pengunjung diajak memahami bahwa keanekaragaman hayati bukan sekadar koleksi spesies, melainkan sistem yang saling terhubung dengan budaya dan ekonomi masyarakat," katanya kepada LyndHub.
Skala acara ini cukup signifikan: 10 stan instansi dan sekitar 280 tenant akan berpartisipasi, menampilkan produk-produk lokal, komunitas pegiat lingkungan, serta pelaku usaha kecil dan menengah. Selain pameran dan bazar, FLONA 2026 juga akan diisi dengan lokakarya, kunjungan sekolah, Edu Eco Tour, lomba kicau burung, dan olahraga bersama. Bagi pelaku UMKM, ajang ini menjadi peluang emas untuk memperkenalkan produk ramah lingkungan kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus membangun jaringan dengan komunitas pegiat lingkungan.
Bagi Jakarta, yang terus berjuang melawan penurunan muka tanah dan polusi udara, acara ini memiliki relevansi yang mendalam. Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, Suzi Marsitawati, yang dihubungi terpisah, menyatakan bahwa FLONA 2026 sejalan dengan target penambahan ruang terbuka hijau (RTH) hingga 30 persen dari luas wilayah kota pada 2030. "Setiap tahun, kami menanam puluhan ribu pohon, tetapi tanpa dukungan warga, upaya itu tidak akan berkelanjutan. FLONA adalah salah satu cara untuk membangun dukungan tersebut," jelasnya.
Kritik juga muncul dari sejumlah akademisi yang menilai bahwa acara semacam ini sering kali berakhir sebagai seremonial belaka. Namun, Afan membantah anggapan tersebut. Ia menekankan bahwa evaluasi dampak akan dilakukan melalui survei partisipasi dan perubahan perilaku pengunjung. "Kami tidak hanya mengukur jumlah pengunjung, tetapi juga sejauh mana mereka mengubah kebiasaan sehari-hari setelah mengikuti program edukasi di sini," tegasnya.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah FLONA 2026 akan mampu melampaui sekadar atraksi musiman dan menjadi katalis bagi gerakan lingkungan yang lebih luas di ibu kota. Dengan melibatkan sekolah-sekolah dan komunitas, ada harapan bahwa generasi muda akan tumbuh dengan pemahaman yang lebih utuh tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Akankah pameran ini berhasil mengubah perilaku warga Jakarta, atau hanya akan menjadi agenda tahunan yang dinikmati tanpa dampak jangka panjang? Jawabannya mungkin akan terlihat dari tingkat partisipasi masyarakat dalam program-program lanjutan yang digagas Pemprov DKI setelah acara ini usai.



