Paderborn Kembali ke Bundesliga: Bisakah Kali Ini Bertahan Lebih dari Satu Musim?
Baca dalam 60 detik
- Paderborn promosi ke Bundesliga 2026/27 setelah enam musim di kasta kedua, mengalahkan Wolfsburg di play-off.
- Dengan skuad termuda kedua di liga dan kepergian pemain kunci, klub menghadapi tantangan berat untuk bertahan.
- Rekrutan anyar Gabriel Vidović dan gelandang Laurin Curda menjadi tumpuan utama di tengah strategi pengembangan pemain muda.

Paderborn kembali ke Bundesliga untuk ketiga kalinya pada musim 2026/27, setelah menaklukkan Wolfsburg di play-off promosi. Namun, catatan sejarah mereka di kasta tertinggi sepak bola Jerman tidak pernah bertahan lebih dari satu musim. Pertanyaannya kini, akankah kali ini berbeda?
Promosi yang diraih tim asuhan Ralf Kettemann terbilang dramatis. Mereka finis di peringkat ketiga Bundesliga 2, hanya kalah selisih gol dari Elversberg yang otomatis promosi. Di play-off, Paderborn menang agregat 2-1 atas Wolfsburg, dengan gol penentu dari Laurin Curda di leg kedua. Ini menjadi tiket terakhir yang memperebutkan satu tempat di Bundesliga musim depan.
Meski demikian, tantangan besar menanti. Paderborn kehilangan dua pemain kunci, Mika Baur dan Calvin Brackelmann, yang hengkang pada bursa musim panas. Dengan skuad yang masih muda—rata-rata usia 24,7 tahun musim lalu, termuda kedua di Bundesliga 2—mereka dianggap sebagai tim promosi yang paling berat untuk bertahan. Dari 14 pemain anyar yang didatangkan, hanya tiga yang berusia di atas 26 tahun.
Direktur olahraga Paderborn, Sebastian Lange, menegaskan komitmen klub pada pengembangan pemain muda. "Kami percaya pada talenta muda dan proses jangka panjang," ujarnya. Namun, strategi ini diuji di liga yang penuh dengan tim-tim mapan dan berpengalaman. Akankah keberanian mempertahankan skuad muda menjadi kekuatan atau justru bumerang?
Salah satu rekrutan anyar yang diharapkan menjadi pembeda adalah Gabriel Vidović. Pemain berusia 22 tahun yang diboyong dari Dinamo Zagreb ini sudah mencetak gol pada debutnya di Piala DFB melawan Phoenix Lübeck. Vidović bukan wajah asing di Jerman, pernah membela Bayern Munich dan Mainz. Kehadirannya diharapkan menggantikan kontribusi pemain yang pergi, terutama dalam hal kreativitas dan penyelesaian akhir.
Di sisi lain, Laurin Curda menjadi sosok sentral di lini tengah. Gelandang berusia 25 tahun itu mencetak tujuh gol dalam 32 penampilan musim lalu, termasuk gol krusial di play-off. Sebagai pemain yang sudah membela Paderborn sejak 2023, ia dianggap sebagai pemimpin yang akan diandalkan untuk membimbing para pemain muda.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perjalanan Paderborn menarik untuk disimak karena klub ini menjadi contoh bagaimana tim kecil bisa bersaing dengan strategi pengembangan pemain muda. Di tengah dominasi klub-klub besar seperti Bayern Munich dan Borussia Dortmund, Paderborn membuktikan bahwa konsistensi dan keberanian mengambil risiko bisa membawa hasil. Namun, bertahan di Bundesliga membutuhkan lebih dari sekadar semangat muda; diperlukan pengalaman dan ketajaman taktik.
Jadwal awal Paderborn juga tidak mudah: mereka akan bertandang ke Mainz, menjamu Freiburg, dan melawan Borussia Dortmund. Tiga laga pertama ini akan menjadi ujian awal seberapa siap mereka menghadapi kerasnya kompetisi. Jika mampu meraih poin di laga-laga tersebut, kepercayaan diri tim bisa meningkat. Namun, jika tersandung, tekanan akan langsung menghampiri.
Pertanyaan besarnya, apakah strategi mengandalkan pemain muda akan mampu menjaga Paderborn tetap di Bundesliga lebih dari satu musim? Atau akankah mereka kembali menjadi 'tim elevator' yang naik-turun antar kasta? Musim 2026/27 akan menjadi jawabannya.



