Kopi dan Kesehatan: Mitos atau Fakta? Ini Kata Riset Terbaru
Baca dalam 60 detik
- Konsumsi kopi hingga 5 cangkir per hari dinilai aman dan berpotensi menurunkan risiko penyakit jantung serta liver, menurut kajian ilmiah terbaru.
- Sebuah uji klinis menunjukkan kebiasaan minum kopi berkafein justru menekan kekambuhan atrial fibrilasi hingga 39%, menantang asumsi lama.
- Para ahli mengingatkan respons tubuh terhadap kafein bersifat individual, sehingga takaran aman tidak bisa diseragamkan untuk semua orang.

Kebiasaan minum kopi yang selama ini kerap dianggap sebagai pemicu gangguan jantung justru mendapat pembelaan dari sejumlah riset mutakhir. Sebuah pernyataan ilmiah dari American Heart Association (AHA) yang terbit di jurnal Circulation menyebutkan bahwa konsumsi tiga hingga lima cangkir kopi per hari—setara 400 miligram kafein—masih berada dalam batas aman bagi mayoritas orang dewasa sehat. Bahkan, takaran tersebut dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk stroke dan gagal jantung.
Temuan ini mematahkan kekhawatiran lama yang kerap membuat sebagian orang enggan menikmati kopi. Michelle Routhenstein, ahli gizi kardiologi preventif dari EntirelyNourished, menegaskan bahwa angka tersebut bukanlah anjuran untuk minum lebih banyak, melainkan bukti bahwa kopi tidak serta-merta berbahaya. Ia menekankan bahwa kopi hitam tanpa gula atau pemanis tambahan, jika dikonsumsi secara moderat, memberikan manfaat yang melampaui sekadar efek kafeinnya.
Namun, para ahli menggarisbawahi bahwa respons tubuh terhadap kafein sangat dipengaruhi faktor genetik. Claire Cohen, terapis nutrisi dari Nat-Nut Nutritional Therapy, menjelaskan bahwa kecepatan metabolisme kafein berbeda pada tiap individu. Pada sebagian orang, beberapa cangkir kopi tidak menimbulkan efek berarti, tetapi pada yang lain bisa memicu tekanan darah tinggi, jantung berdebar, atau gangguan tidur. Karena itu, klaim "aman untuk semua" tidaklah tepat.
Selain jantung, kopi juga menunjukkan potensi perlindungan terhadap organ hati. Sebuah studi yang dipublikasikan di Clinical Gastroenterology and Hepatology menganalisis data lebih dari 354.000 partisipan dari U.K. Biobank. Mereka yang mengonsumsi lima cangkir kopi atau lebih per hari mengalami penurunan risiko terkena penyakit liver, termasuk sirosis dan kanker hati, setelah diteliti selama rata-rata 13 tahun. Meridan Zerner, ahli gizi dari Dallas, menjelaskan bahwa efek ini kemungkinan berasal dari kandungan antioksidan dan senyawa tanaman dalam kopi yang mampu menekan peradangan kronis serta memperbaiki sensitivitas insulin.
Yang lebih menarik, sebuah uji klinis acak yang diterbitkan pada 2025 menemukan bahwa pasien dengan atrial fibrilasi (AFib) persisten yang minum setidaknya satu cangkir kopi berkafein setiap hari memiliki risiko kekambuhan 39% lebih rendah dibandingkan mereka yang berpantang kafein. Gregory M. Marcus, profesor kardiologi di University of California, San Francisco, yang memimpin penelitian tersebut, menyatakan bahwa temuan ini menantang keyakinan konvensional yang selama ini melarang pasien aritmia mengonsumsi kopi. Ia menambahkan bahwa desain acak memberikan bukti kuat tentang efek kausal, bukan sekadar asosiasi.
Bagi masyarakat Indonesia, temuan ini relevan mengingat kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup, dari kedai kopi modern hingga warung tradisional. Namun, perlu diingat bahwa pola konsumsi di Indonesia sering kali mencampur kopi dengan gula atau krimer, yang justru dapat meniadakan manfaat kesehatan. Para ahli menyarankan untuk memilih kopi hitam atau minim pemanis, dan memperhatikan takaran harian agar tetap dalam batas wajar.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah kopi dapat dijadikan alat terapi tambahan untuk mencegah gangguan irama jantung. Marcus sendiri membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Sementara itu, bagi penikmat kopi, kabar baik ini tentu melegakan—asalkan tetap bijak dalam mengonsumsinya.



