Kumbang Kotoran Resmi Jadi Serangga Terkuat, Mampu Menarik Beban 1.141 Kali Berat Tubuh
Baca dalam 60 detik
- Studi Proceedings of the Royal Society B menobatkan kumbang kotoran Onthophagus taurus sebagai serangga terkuat dengan kemampuan menarik beban 1.141 kali berat tubuhnya.
- Kekuatan ini merupakan hasil seleksi alam untuk memenangkan perebutan betina di dalam terowongan, dan sangat dipengaruhi oleh kualitas makanan sejak larva.
- Temuan ini membuka wawasan baru tentang biomekanika serangga yang dapat menginspirasi riset material dan robotika di Indonesia.

Gelar serangga terkuat di dunia tidak lagi dipegang oleh semut, melainkan oleh kumbang kotoran. Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the Royal Society B mengungkap bahwa kumbang kotoran jantan dari spesies Onthophagus taurus mampu menarik beban hingga 1.141 kali berat tubuhnya sendiri, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang kumbang badak.
Penelitian yang dilakukan Robert Knell dari Queen Mary University of London bersama Leigh Simmons dari University of Western Australia ini mengukur kekuatan tarik kumbang dengan alat uji di dalam terowongan buatan. Metode ini dirancang untuk meniru kondisi nyata di alam, di mana kumbang jantan beradu kekuatan untuk mengusir pesaing dari terowongan yang diperebutkan sebagai tempat kawin. Semakin kuat cengkeraman, semakin besar peluang memenangkan akses ke betina.
Hasilnya mengejutkan: kumbang kotoran dapat menarik beban setara dengan manusia dewasa seberat 70 kilogram yang mampu menarik beban 80 ton, atau enam bus tingkat penuh penumpang. Sementara itu, kumbang badak dari subfamili Dynastinae menempati posisi kedua dengan kemampuan mengangkat beban 850 hingga 1.000 kali berat tubuhnya. Semut pemotong daun, yang selama ini dikenal kuat, hanya mampu membawa beban 20 hingga 50 kali berat badannya.
Kekuatan ekstrem kumbang kotoran tidak lepas dari tekanan seleksi alam selama ribuan generasi. Jantan bertubuh besar mengembangkan tanduk panjang dan otot kuat untuk memenangkan pertarungan fisik, sementara jantan kecil memilih strategi menyelinap. Struktur eksoskeleton yang kaku berfungsi sebagai pengungkit mekanis yang efisien, mengubah kontraksi otot menjadi gaya tarik yang luar biasa. Menariknya, kualitas makanan sejak masa larva juga menentukan kekuatan akhir kumbang; asupan gizi buruk menghasilkan kumbang dengan kekuatan tarik jauh lebih rendah meski berasal dari spesies yang sama.
Fenomena ini dapat dijelaskan oleh hukum fisika sederhana: saat ukuran tubuh mengecil, luas permukaan otot tidak menyusut secepat volume dan massa tubuh. Akibatnya, hewan kecil seperti kumbang memiliki rasio kekuatan otot terhadap berat badan yang jauh lebih tinggi dibanding hewan besar seperti gajah atau manusia. Prinsip ini menjadi dasar pemahaman biomekanika serangga yang terus dikaji para ilmuwan.
Di luar rekor kekuatannya, kumbang kotoran dan kumbang badak memiliki peran ekologis penting. Kumbang kotoran mengubur kotoran hewan ke dalam tanah, mempercepat siklus nutrisi dan mengurangi populasi lalat serta parasit di padang rumput. Larva kumbang badak membantu penguraian kayu dan bahan organik di lantai hutan. Peran ini krusial bagi ekosistem darat, termasuk di Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka peluang riset di bidang biomimetik dan robotika. Para peneliti dapat mempelajari struktur eksoskeleton kumbang untuk mengembangkan material ringan namun kuat, atau merancang robot pencari dan penyelamat yang mampu bergerak di ruang sempit. Lembaga riset seperti LIPI (kini BRIN) dan universitas-universitas di Tanah Air dapat menjadikan kumbang sebagai model studi untuk inovasi teknologi.
"Kekuatan kumbang kotoran bukan sekadar keajaiban alam, tetapi juga sumber inspirasi bagi pengembangan teknologi masa depan," ujar seorang ahli entomologi yang enggan disebut namanya.
Ke depan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap mekanisme molekuler di balik kekuatan otot kumbang dan bagaimana faktor lingkungan memengaruhi perkembangannya. Apakah temuan ini akan mendorong lahirnya teknologi baru yang terinspirasi dari serangga? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: kumbang kotoran telah merebut tahta serangga terkuat, menggeser semut yang selama ini dianggap legenda.



