Longsor Gletser di Nepal: Bencana Berantai yang Menuntut Kewaspadaan Baru
Baca dalam 60 detik
- Longsor es dan batuan di ketinggian 4.800 meter memicu aliran lumpur dahsyat yang menewaskan ratusan orang di Nepal.
- Para ahli menyebut peristiwa ini sebagai 'hazard cascade' atau rantai bahaya, bukan sekadar banjir bandang dari danau glasial.
- Perubahan iklim dan meningkatnya populasi di lembah Himalaya meningkatkan risiko bencana serupa di masa depan.

Ratusan nyawa melayang dan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang setelah gletser di Tibet runtuh dan memicu longsoran lumpur serta air yang menerjang lembah di Nepal. Bencana ini bukan sekadar banjir bandang biasa; para ilmuwan menyebutnya sebagai rantai bahaya (hazard cascade) yang dimulai dari longsoran batuan dan es di ketinggian ekstrem.
Stuart Dunning, profesor geomorfologi terapan yang meneliti pengurangan risiko bencana di kawasan pegunungan tinggi, menjelaskan bahwa longsoran batu-es (rock-ice avalanche) dimulai di sekitar 4.800 meter dan jatuh lebih dari 1.200 meter. Es yang hancur akibat gesekan dan panas berubah menjadi air, mengubah longsoran kering menjadi aliran puing yang jauh lebih mematikan. "Aliran ini bergerak menyusuri sungai, mengikis dasar dan tepian lembah, lalu mengendapkan material di sepanjang jalurnya," ujarnya.
Kejadian ini mengingatkan pada bencana Chamoli di India pada 2021, yang juga dipicu oleh longsoran es dan batuan. Namun, yang membedakan adalah tidak adanya danau glasial sebagai sumber air. Para ahli masih memperdebatkan istilah yang tepat; awalnya banyak yang menduga ini adalah Glof (Glacial Lake Outburst Flood), tetapi ternyata tidak ada danau. Dunning lebih suka menyebutnya sebagai proses berantai yang melibatkan longsoran, pencairan es, dan aliran puing.
Pemantauan satelit menjadi kunci untuk memetakan area terdampak dan mendeteksi bahaya sekunder, seperti genangan air di balik material longsor yang bisa memicu banjir susulan. Data seismik dan foto lapangan membantu mengukur kecepatan, kedalaman, dan konsistensi aliran. Namun, tantangan terbesar adalah memprediksi kejadian serupa. "Ada ribuan lereng seperti ini di kawasan Himalaya, sulit untuk dipantau satu per satu," kata Dunning.
Perubahan iklim mempercepat penipisan dan mundurnya gletser, meninggalkan lereng yang tidak stabil dan permafrost yang mencair—yang sering disebut sebagai "lem" yang merekatkan batuan. Ditambah dengan aktivitas seismik dan pengangkatan pegunungan yang terus berlangsung, risiko longsoran semakin besar. "Kejadian ini lebih dahsyat karena lebih banyak orang tinggal di lembah-lembah ini daripada sebelumnya," tambah Dunning.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Nepal sangat relevan. Meskipun tidak memiliki gletser, Indonesia memiliki banyak lereng curam dan gunung berapi yang rawan longsor. Bencana seperti ini menegaskan pentingnya sistem peringatan dini yang terintegrasi dan pemahaman tentang bahaya berantai. "Untuk gempa, kita punya 'drop, cover, roll'. Tapi untuk kejadian seperti ini, nasihatnya lebih rumit: ada yang harus berlari ke gedung tinggi, ada yang harus mendaki bukit," jelas Dunning.
Ke depan, para ilmuwan berupaya memanfaatkan sinyal seismik untuk membedakan gempa dari longsoran, sehingga bisa memberi waktu lebih bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri. Namun, Dunning menggarisbawahi bahwa beberapa area mungkin terlalu berbahaya untuk dihuni. "Kita harus menerima bahwa ada zona yang tidak aman," pungkasnya. Pertanyaannya, apakah negara-negara dengan pegunungan tinggi, termasuk Indonesia, siap menghadapi risiko yang semakin kompleks ini?



